Alergi Sperma yang Mengganggu Hubungan Seks dan Reproduksi

Ilustrasi. FOTO/Istock
Oleh: Aditya Widya Putri - 23 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Hubungan seksual merupakan hal menyakitkan wanita yang menderita alergi sperma.
Leonie Blackwell mengisahkan masa sulitnya saat ia mengetahui dirinya mengalami gejala aneh. Setiap kali bercinta, ia merasakan sensasi kesakitan dan terbakar. Bagian organ intimnya selalu merah dan membengkak, dan ia bingung dan frustasi karenanya.

Ia kemudian mengetahui bahwa ia didiagnosis mengalami Hypersensitivity to Human Semen (HHS) atau alergi sperma. Blackwell malu bercerita tentang masalahnya kepada orang lain. Namun, mencari informasi sendiri juga menyulitkan, tak ada internet seperti sekarang, sehingga ia hanya bisa mencari info dari buku.

Beberapa dokter ia datangi, tapi tak ada jalan keluar bagi masalahnya. Dokter menyarankan Blackwell memakai kondom setiap kali berhubungan intim. Namun itu tak bisa dilakukan, sebab Simon, suaminya, alergi latex.

Baca juga:

Simon kemudian memilih melepas istrinya. Blackwell tahu, suaminya sangat ingin memiliki anak. Maka ia pun bercerai dengan sang suami. HHS merupakan alergi atau hipersensitivitas terhadap satu atau lebih zat yang terdapat pada sperma. Dan cerita Blackwell adalah bagian dari 40-50 persen wanita yang mengalami HHS saat berhubungan seksual pertama kali.

Penelitian Michael Carrol, dkk, menyatakan 40 ribu wanita di Amerika menderita alergi sperma. Penyakit ini pertama kali terdokumentasi di tahun 1950-an, dan menyerang wanita pada usia 20-30 tahun. Alergen lebih banyak dipengaruhi protein kelenjar prostat dibanding bagian lain dalam sperma.

Alergi sperma membuat penderitanya mengalami rasa gatal, terbakar, dan bengkak pada vagina. Pada kasus yang parah, reaksi akan disertai bentol-bentol dan sesak napas. Reaksi tersebut muncul paling lama satu jam setelah kulit terkena paparan sperma, dan berlangsung sampai 24 jam. Meski belum terbukti berkaitan dengan infertilitas, biasanya wanita dengan kondisi ini menjadi sulit hamil. Sebab mereka tak bisa melakukan aktivitas seksual tanpa kondom.

“Ini jenis reaksi yang sama seperti alergi serbuk sari atau bulu kucing,” kata Carrol.

Baca juga: Sehat dan Bahagia Berkat Hewan Piaraan.

Dalam studi lain, diketahui pula bahwa makanan yang dikonsumsi pria memicu alergi sperma. AS Bansal, dkk dari Departemen Imunologi Rumah Sakit St Helier, Inggris meneliti alergi sperma yang ditimbulkan karena kacang. Seorang wanita berusia 20 tahun memiliki alergi kacang mengalami reaksi gatal, pembengkakan vagina, sesak napas dan hampir pingsan.

Pasangannya, memakan 4-5 kacang Brazil sebelum berhubungan seksual dengan si wanita. Namun, reaksi ini lebih karena faktor alergi terhadap kacang, sehingga berangsur membaik setelah diberi obat anti alergi.

Baca juga: Orang Tua Disarankan Beri Anak Ekstrak Kacang Sejak Bayi.

Dokter seringkali salah mendiagnosis alergi sperma sebagai infeksi atau vaginitis kronis. Keduanya berakibat sama: iritasi, gatal, dan rasa sakit saat berhubungan seksual. Namun, alergi sperma bisa dibedakan dengan dua cara. Pertama, gejala alergi hanya muncul saat aktivitas seksual dilakukan tanpa kondom. Kedua, dengan melakukan tes darah.


Mengatasi Alergi Sperma

Tahun-tahun saat Blackwell didiagnosis menderita HHS adalah masa di mana dunia kedokteran belum memberikan perhatian khusus terhadap penyakit ini. Untuk mencari literaturnya saja Blackwell merasa kesulitan. Akhirnya, sejak 1987 hingga delapan tahun kemudian ia perlahan mencoba berdamai dengan keadaan.

Alergi sperma, menurut dr. David Resnick, Direktur Alergi dan Imunologi di Rumah Sakit Presbyterian Hospital, New York, merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi pada wanita. Namun, bahayanya tak ringan. Jika tetap “ngotot” melakukan aktivitas seksual, kematian bisa jadi risikonya. Masalah ini jadi lebih besar ketika penderita dan pasangannya ingin memiliki keturunan.

Dalam pertemuan American College of Allergy, Asthma, and Immunology beberapa tahun lalu, dokter Resnick memaparkan penanganan alergi sperma terhadap seorang wanita pengidap di Puerto Rico. Ia melakukan dua cara, pertama, memberikan suntikan anti alergi yang berisi dosis kecil sperma di dalamnya.

Baca juga: Dilema Hubungan Cinta Sebelum Menikah

Lalu, kedua, ia memberikan terapi suntikan sperma ke dalam vagina pasien dengan dosis bertahap setiap 20 menit sekali. Kedua cara tadi dilakukan dengan catatan: hubungan seksual tetap dilakukan 2-3 kali seminggu. Pendeknya, pasien dibuat menjadi semakin “kebal” terhadap sperma pasangannya.

“Kegagalan terapi ini terjadi karena pasangan jarang melakukan hubungan seks. Sehingga pasien tidak terkena paparan alergen,” kata Resnick.

Namun, kedua terapi tersebut harus dilakukan di tempat perawatan khusus guna menghindari reaksi alergi yang mungkin terjadi. Biasanya, untuk meminimalisir reaksi, perawatan juga dilakukan dengan suntikan epinefrin (anti-alergi) di tangan.

Untuk program kehamilan, wanita dengan alergi sperma bisa “mencuci” sperma pasangannya. Teknik “mencuci sperma” tersebut dinamakan dengan Intrauterine Insemination (IUI). Prinsip kerjanya: zat alergen yang berada di sperma dipisahkan, lalu sperma sisa ditempel di rahim untuk pembuahan.

Baca juga: Meningkatnya Tren Bayi Tabung di Indonesia

Baca juga artikel terkait SEKSUALITAS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight