Alasan Mengapa Anda Harus Tenang Menghadapi COVID-19

Ilustrasi Virus Corona. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 6 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Dibandingkan mereka yang parah dan kritis, kebanyakan pasien COVID-19 hanya mendapat infeksi ringan.
Rekaman gambar Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong memaparkan seluk beluk COVID-19 ramai beredar di linimasa. Dengan bahasa yang mudah dicerna video tersebut berhasil membuat masyarakat sedikit tenang menghadapi COVID-19.

“COVID-19 lebih berpotensi menular, tapi tidak lebih mematikan ketimbang SARS.”

Beberapa akun media sosial dari Indonesia membagikan potongan video tersebut dengan menambah bumbu testimoni. Sejauh ini mereka menganggap pemaparan Kim Yong menjadi yang paling komprehensif di antara simpang siur informasi COVID-19.

Secara ringkas, Kim Yong membagikan cara-cara mengantisipasi penularan COVID-19 dengan rajin mencuci tangan dan menerapkan gaya hidup sehat. Ia juga menganjurkan penggunaan masker untuk orang-orang sakit, persis seperti yang pernah diungkapkan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto, pertengahan Februari lalu.


Tapi, apa yang bikin keduanya dapat respons berbeda?

Dalam beragam kesempatan Terawan selalu mengatakan bahwa masyarakat yang sehat tak perlu memakai masker. Pernyataan ini diungkapkan di tengah kelangkaan masker di pasar dan ketika masyarakat melihat warga China dianjurkan memakai masker.

Saat dikonfrontasi soal kelangkaan masker, Terawan bukannya memberi penjelasan tentang alasan di balik anjuran tidak pakai masker. Ia justru menyalahkan masyarakat karena rela membeli masker dengan harga fantastis. Responsnya itu diterjemahkan sebagai “guyon” atau malah “ketidakpedulian” belaka oleh awam.

“Salahmu sendiri kok beli ya,” begitu katanya di sela-sela menunggu kedatangan WNI dari Natuna di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (15/2/2020).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto sempat pula mengeluarkan pernyataan misinformasi soal infeksi corona. Saat seorang warga negara Jepang yang pulang dari Indonesia dikonfirmasi tertular virus corona tipe II (SARS CoV-2), Yuri berujar bahwa SARS CoV-2 berbeda dengan COVID-19.

Padahal menurut situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO) keduanya sama saja. SARS CoV-2 merupakan penyebutan untuk nama virus, sementara COVID-19 merujuk pada penyebutan penyakit.

Di sisi berbeda, ketika kita melihat pidato Kim Yong, ia secara rinci menjelaskan COVID-19 tidak menyebar lewat udara, melainkan bertransmisi dari tetesan batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi. Sisa cairan itu, kata Yong, lebih banyak menyebar lewat sentuhan tangan ke area wajah. Komunikasi yang bagus, tentu mempermudah informasi diterima dengan baik.


Kerja Solo Balitbangkes

Agar menang melawan teror COVID-19 diperlukan kerjasama antar pemerintah, masyarakat, dan lembaga keilmuan lain. Pemerintah bertugas memberi informasi sejelas-jelasnya untuk meredam kepanikan publik dan menyediakan fasilitas kesehatan memadai untuk mendeteksi infeksi COVID-19.

Kolaborasi keilmuan antar laboratorium perlu dilakukan agar deteksi dini berjalan lebih efektif, seperti yang baru saja dilakukan pemerintah Amerika Serikat. Sejak akhir Februari kemarin, Badan Pangan dan Obat Amerika (FDA) mengeluarkan kebijakan agar seluruh laboratorium yang sudah memenuhi standar bisa ikut melakukan uji diagnostik.

“Pada situasi kesehatan masyarakat mendesak, kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk mencegah penyebaran wabah,” ujar Jeff Shuren, direktur Pusat FDA bagian Perangkat Kesehatan Radiologis, seperti dilansir dalam tautan resmi FDA.

Setelah mendapat kritikan karena penelitian SARS-CoV sempat tersentralisasi, pemerintah Amerika sadar, kerja solo dalam penanganan COVID-19 tak akan berjalan maksimal. Alat dan tenaga ahli pasti terbatas, dan jalan keluar terbaik hanya dengan menggandeng kerjasama pihak lain. Lalu apakah pemerintah Indonesia mengadopsi kebijakan yang sama?

Sebelumnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) juga bekerja mandiri menangani COVID-19. Padahal kemampuan mendeteksi virus corona sudah dimiliki beberapa laboratorium di Indonesia, misal seperti laboratorium milik Universitas Airlangga atau Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

“Hingga saat ini belum dilibatkan (mendeteksi COVID-19), yang kami inginkan bisa berkolaborasi,” ujar Wakil Kepala LPM Eijkman Herawati Sudoyo.


Eijkman juga sudah mampu mengaplikasikan dua cara deteksi COVID-19, yakni dengan metode pan-CoV dan 2019-nCoV Quantitative PCR. Laboratorium level tiga mereka setara dengan Balitbangkes. Plus dilengkapi dengan Pusat Genom Nasional untuk meneliti informasi paling mendasar suatu gen atau genom.

Kolaborasi antar-laboratorium bisa meningkatkan keakuratan tes diagnostik. Sebagai informasi, ada kemungkinan hasil tes COVID-19 berubah positif meski dalam tes sebelumnya dinyatakan negatif. Kondisi ini pernah diungkap dari kasus di Rumah Sakit Zhongnan, Wuhan dan kasus lain di Amerika Utara.

“Yang kita periksa mungkin masih sedikit, terlalu sedikit untuk dapat mengambil kesimpulan. Negatif belum tentu negatif karena tidak dikonfirmasi laboratorium yang lain,” ujar Hera.

Semula semua sampel pasien diduga terinfeksi SARS-CoV-2 dari seluruh wilayah Indonesia dikirimkan ke pusat dan hanya diuji oleh Balitbangkes. Namun, setelah terdapat kasus pertama positif COVID-19, pemerintah mengubah kebijakan untuk menyiagakan sepuluh laboratorium agar deteksi berjalan lebih efektif dan efisien.

Hadapi COVID-19 dengan Tenang

COVID-19 merupakan salah satu keluarga virus corona yang lazim menyebabkan flu. Anggota keluarga lain dari virus ini termasuk SARS dan MERS. Meski secara general terdapat virus yang punya kemampuan menyebar lewat udara, COVID-19 tidak termasuk dalam kelompok ini.

Ia merupakan jenis virus yang bertransmisi lewat partikel droplet yang lebih mungkin ditransfer lewat jabat tangan atau benda-benda yang dipakai/disentuh orang banyak. Kemudian virus di tangan masuk melewati kontak tangan ke area wajah seperti mata, hidung, dan mulut. Karenanya WHO menganjurkan cuci tangan sebagai tindakan terbaik pencegahan virus ini.


Tidak perlu panik berlebihan karena COVID-19 bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Menurut WHO kebanyakan kasus infeksi virus tersebut hanya menyebabkan penyakit ringan. Kasus parah atau meninggal dialami kelompok orang tua atau individu dengan kondisi medis bawaan (seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, atau diabetes).

Sebuah studi terhadap 72 ribu pasien COVID-19 di China turut menyimpulkan dari keseluruhan kasus COVID-19, sebanyak 81 persen tergolong ringan. Lalu 13,8 persen lainnya masuk kategori parah dengan gejala gangguan pernapasan, dan 4,7 persen sisanya kritis. Angka kematian COVID-19 (2,3 persen) juga jauh lebih rendah dibanding SARS (10 persen) atau MERS (30-40 persen).



Nampaknya lantaran sistem imun lebih kuat, maka hampir semua infeksi pada anak hanya menimbulkan gejala pilek. Belum ada laporan kematian pada kelompok anak-anak di bawah 9 tahun. Sementara tingkat kematian untuk usia 10 hingga 39 hanya 0,2 persen. Risiko tinggi infeksi virus justru menghinggapi orang berusia 80 tahun dengan persentase 14,8-21,9 persen.

Dari sekitar 89 ribu kasus infeksi COVID-19, korban meninggal mencapai lebih dari tiga ribu orang, alias sekitar 3 persen saja. Lebih dari 45 ribu orang (50,5 persen) dilaporkan sembuh. Analisis WHO di wilayah dengan kasus tertinggi di Cina, yakni Hubei, menyatakan peluang infeksi COVID-19 di hanya menjangkiti 1 dari 1000 orang. Artinya jikapun terinfeksi, lebih banyak orang berhasil pulih ketimbang berubah kritis atau meninggal.


Alasan terakhir tidak perlu panik menghadapi COVID-19 adalah fakta perjalanan menuju vaksin sudah semakin dekat. Time mengabarkan bahwa vaksin pertama COVID-19 sudah dikirim oleh Moderna Therapeutics, sebuah perusahaan bioteknologi di Massachussets, AS, untuk diujicobakan kepada manusia pada awal April nanti.

Sukarelawan pertama adalah penumpang dari kapal Princess Diamond. Nantinya pasien-pasien positif COVID-19 yang dirawat di rumah sakit juga akan ambil bagian dalam penelitian ini. Kabar dari The Jerusalem Post mengatakan vaksin COVID-19 akan siap diedarkan dalam waktu 90 hari ke depan.

Sementara ini dibanding berharap pada pemerintah, untuk meredam kekhawatiran, kita bisa memperbanyak informasi dari situs-situs utama seperti WHO agar selalu waspada, tepat, dan tenang bersikap melawan COVID-19.

Baca juga artikel terkait WABAH VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight