Aksi-Aksi Pussy Riot Lawan Rezim Putin Hingga di Final Piala Dunia

Oleh: M Faisal - 16 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
Pussy Riot, melalui laman Facebook mengeluarkan pernyataan bahwa keempat orang yang masuk Stadion Luzhniki saat laga Perancis vs Kroasia adalah “anggotanya.”
tirto.id - Wajah Presiden Rusia Vladimir Putin barangkali bakal tertekuk tegang dan memperlihatkan kekesalan teramat saat mengetahui dalang di balik insiden “penonton masuk lapangan” pada laga final Piala Dunia 2018 adalah musuh bebuyutannya, Pussy Riot.

Usai pertandingan selesai, bisa jadi Putin akan segera meminta agen-agen KGB untuk melacak keberadaan pentolan Pussy Riot dan meringkusnya—sebagaimana yang biasa dilakukannya terhadap musuh-musuh politik Putin—dengan tuduhan “mempermalukan pemimpin negara” atau lebih ekstrem “mengancam keamanan internasional”

Insiden pada final Piala Dunia kemarin (15/7) terjadi pada menit ke-52. Tiba-tiba saja, empat orang yang terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki yang mengenakan seragam polisi berwarna putih nyelonong masuk ke area rumput Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia. Gara-gara mereka, laga sempat dihentikan sementara waktu sebelum akhirnya keempat orang tersebut diamankan petugas dan dibawa ke kantor polisi terdekat.

“Mereka yang bersangkutan sudah dibawa ke kantor polisi setempat untuk diamankan,” kata petugas dari Kementerian Dalam Negeri Rusia, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.




Setelah aksi itu, Pussy Riot, melalui laman Facebook-nya, mengeluarkan pernyataan bahwa keempat orang yang masuk stadion adalah “anggotanya.” Aksi yang mereka tempuh ditujukan untuk memprotes pemerintah Putin. Beberapa tuntutan yang mereka layangkan, antara lain: membebaskan tahanan politik, hentikan represi lewat media sosial, buka kembali persaingan politik, serta sudahi penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas.

Selain itu, Pussy Riot juga meminta pemerintah membebaskan aktivis Oleg Sentsov, dikenal vokal menolak aneksasi Rusia atas Krimea (Ukraina) pada 2014, yang dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun karena dianggap “merencanakan teror.”

Pemilihan atribut kepolisian dalam aksi tadi malam juga merupakan salah satu bentuk kritik Pussy Riot terhadap aparat. Menurut mereka, seragam polisi yang dikenakan merepresentasikan “gagalnya reformasi kepolisian Rusia dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakatnya.”

Pussy Riot melalui akun Facebook resmi juga menyatakan "Hari ini adalah 11 tahun sejak kematian penyair besar Rusia, Dmitriy Prigov. Prigov menciptakan citra seorang polisi, pembawa kebangsaan surgawi, dalam budaya Rusia," tulis Pussy Riot dalam pernyataan berbahasa Inggris.

Siapa Pussy Riot?

William Browder lewat tulisannya di CNN pernah menjelaskan, tinggal di Rusia merupakan perkara sulit. Katanya: “Tak peduli seberapa terkenal Anda, berapa banyak kepala negara di dunia yang kenal Anda, atau berapa banyak orang yang akan marah atas kematian Anda, jika Anda menyebabkan masalah, Anda bisa dan akan terbunuh.”

Kenyataannya memang demikian. Semenjak menjabat, Putin tak ragu menggunakan cara-cara licik untuk melanggengkan kekuasaannya, seperti saat ia membuat undang-undang yang membatasi kebebasan hak sipil yang dengan mudah dipakai memenjarakan warga atas dalih “perilaku anarkis” sampai merekayasa pengadilan untuk menggebuk lawan politiknya yang “dituduh” melakukan penggelapan anggaran, penipuan pajak, intimidasi kepada aparat, sampai pembunuhan.

Kondisi tersebutlah yang mendorong Pussy Riot, kelompok protes, punk, dan feminis Rusia yang berdiri pada 2011, hadir dengan kerja-kerja aktivismenya. Sejak pertama kali berdiri, mereka konsisten menyuarakan perlawanannya terhadap rezim Putin­­—didukung kekuatan Gereja Ortodoks—yang dianggap “tidak manusiawi, ingin berkuasa penuh, dan membungkam kebebasan warga negaranya.”

Singkat kata, mereka ingin menciptakan kehidupan masyarakat yang bebas dari pengaruh Putin, semacam pemerintahan yang demokratis dan tidak berbau otoriter.

Sejauh ini, tidak ada referensi yang dapat menyebutkan secara pasti berapa jumlah keanggotaan Pussy Riot. Meski begitu, ada tiga sosok yang jadi pentolan kelompok ini. Mereka adalah Nadezhda Tolokonnikova, Maria Alykhina, dan Yekaterina Samutsevich.

Kerja-kerja Pussy Riot diterjemahkan lewat serangkaian penampilan di tempat umum. Dengan memakai balaclava—sejenis tutup muka—yang berwarna mencolok, mereka menyanyikan lagu-lagu protes dengan energi yang meletup, seolah mengajak para pendengarnya mengepalkan tangan serta meneriakkan revolusi.




Aksi di Stadion Luzhniki kemarin malam, bukanlah yang pertama. Pada awal 2012 Pussy Riot menduduki Katedral Basil di Lapangan Merah. Di sana, mereka menyanyikan lagu berjudul “Putin Zassel,” atau dalam bahasa Inggris berarti “Putin Has Pissed Himself” yang meminta Putin mundur dari jabatannya. Penampilan tersebut terinspirasi dari demonstrasi besar-besaran warga Rusia setahun sebelumnya yang menentang kecurangan dalam Pemilu oleh Putin dan kroni-kroninya.

Pada awal Februari 2012, Pussy Riot kembali melakukan aksinya. Kali ini lebih fenomenal: memainkan lagu berjudul “Punk Prayer” di altar suci Katedral Kristus dan Juru Selamat di Moskow. Lewat “Punk Prayer,” Pussy Riot hendak mengkritik keberadaan Gereja Ortodoks yang dinilai anti-perempuan, konservatif, anti-LGBT, dan punya kedekatan lebih dengan Putin.

Pertunjukan mereka memang hanya berlangsung dalam hitungan menit. Namun, konsekuensi dari aksi di katedral itu berujung panjang, baik secara domestik maupun internasional. Di dalam negeri, anggota Pussy Riot harus menghadapi tuntutan hukum karena dirasa telah mempromosikan “hooliganisme yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama.”

Walhasil, Tolokonnikova dan Alykhina dijatuhi dua tahun penjara. Sementara Samutsevich lolos dari jerat hukum karena pengadilan tidak menemukan keterlibatannya lebih jauh dalam aksi tersebut.



Sontak, penahanan anggota Pussy Riot melahirkan gelombang protes. Beberapa LSM di Rusia menyerukan tuntutan pembebasan kepada Tolokonnikova dan Alykhina. Alasannya: sidang kasus Pussy Riot dianggap manipulatif dan hukuman untuk keduanya kelewat berlebihan.

Sedangkan di luar negeri, dukungan terhadap Pussy Riot mengalir deras. Deretan musisi macam Madonna, Bjork, sampai Paul McCartney ramai-ramai memberi motivasi kepada mereka seraya menganggap Pussy Riot sebagai “simbol perlawanan.”

Pada 2014, keduanya bebas dan kembali meneruskan aktivismenya. Selain mengkritik rezim Putin, mereka juga membela pemenuhan hak-hak terhadap perempuan, LGBT, serta menolak wujud kapitalisme dalam bentuk apapun.

“Kami adalah bagian dari pertarungan politik yang saat ini sedang berlangsung di Rusia. Dan kami, para anggota oposisi, punya pepatah. Kami ​​ingin Putin dan kroni-kroninya keluar dari negara ini. Kami ingin Rusia menjadi tempat yang berbeda ... Dan kami percaya kami memiliki kekuatan untuk mewujudkannya,” kata Tolokonnikova.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: M Faisal
Editor: Suhendra