Menuju konten utama

"Akad" Payung Teduh dan Daftar Lagu Pesta Pernikahan

Lagu "Akad" sedang naik daun dan dianggap romantis serta cocok diputar di pesta pernikahan. Tapi ingat, memilih lagu pernikahan itu gampang-gampang susah.

Vokalis band Payung Teduh Mohammad Istiqamah Djamad tampil di panggung Jateng Fair 2017, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/8). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww/17.

tirto.id - Kalau menyebut nama-nama band Indonesia yang saat ini sedang naik daun, Payung Teduh pasti ada di antara nama itu. Apalagi setelah mereka merilis lagu "Akad." Secara teknis, lagu ini punya semua persyaratan untuk jadi hits. Musik yang renyah di kuping, juga lirik yang dianggap romantis.

Sejak dirilis pada Juni 2017, video klip lagu ini ditonton sebanyak 11 juta kali. Sayang, karena ada satu foto yang dianggap melanggar hak cipta, video itu dihapus dari Youtube. Video penggantinya diunggah 4 September 2017. Dalam waktu singkat, video itu sudah ditonton 3,2 juta kali.

Lagu itu juga banyak dikover oleh pemusik lain. Yang paling populer adalah versi Hanin Dhiya. Penyanyi muda jebolan ajang pencarian bakat Rising Star Indonesia itu mengunggah kover "Akad" pada 23 Agustus silam. Hingga artikel ini ditulis, videonya sudah ditonton 13,4 juta kali. Jika kamu mengetik kata kunci "Akad kover", maka ada setidaknya 62 ribu hasil. Dari video buatan pengamen Yogyakarta, lagu yang diaransemen jazzy, hingga ala dangdut koplo. Semuanya mendulang banyak penayangan. Mulai ribuan, hingga 13 juta. Tak heran kalau sejak beberapa hari lalu, lagu "Akad" menempati posisi puncak dalam tren di Youtube Indonesia.

Tapi di luar segala popularitasnya, lagu "Akad" cukup mengundang diskusi asyik soal liriknya. Di sisi pendukung, lirik lagu "Akad" romantis, pas untuk mereka yang dimabuk asmara, dan akan cocok dimainkan di pesta pernikahan manapun. Sedangkan yang tak suka, akan meringis dan menganggap liriknya merupakan penurunan dari kualitas lirik Payung Teduh sebelumnya. Payung Teduh punya pengalaman panjang membuat lagu romantis, tapi rasanya belum pernah sefrontal ini.

"Lirik 'Akad' cocoknya buat mereka yang ngebet nikah," kata seorang kawan.

Baca juga:Kecemasan Karena Mendamba Pernikahan

Meski lagu itu mengundang perdebatan dan dianggap sebagai penurunan kualitas lirik, ada yang tak peduli dengan itu semua. Namanya Maman, kawan lama saya. Payung Teduh selalu punya posisi khusus di hati kawan satu itu. Ia akan selalu ingat bagaimana Payung Teduh memainkan lagu "Berdua Saja" pada bulan September 2011 yang hangat. Di acara bertajuk By the Lake Festival yang diadakan di tepi danau Universitas Indonesia, Payung Teduh mulai main saat matahari perlahan tenggelam.

Saat itu Payung Teduh mulai dikenal sebagai band moncer dari komunitas Teater Pagupon, kelompok teater di bawah naungan Ikatan Keluarga Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Mereka memang belum terlalu dikenal di luar Jakarta, tapi punya semua bekal untuk jadi menjulang. Musik mereka sederhana, hanya berbekal gitar akustik, bass betot, dan gitar ukulele. Kekuatan mereka, ujar beberapa penonton saat itu, adalah liriknya. Banyak menggunakan metafora. Puitis, ujar yang lain.

Maman tak pernah mendengar Payung Teduh sebelumnya, apalagi menonton. Sebenarnya Maman datang ke UI untuk satu agenda: bertemu dengan perempuan yang ia taksir. Mereka berdua pemalu. Setelah bertemu pun, mereka irit bicara. Hanya tersenyum sepanjang sore, sesekali pandang dengan malu-malu, hingga acara usai. Dan Payung Teduh seperti menjadi juru bicara mereka berdua.

Ada yang tak sempat tergambarkan

Oleh kata ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya

Mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya

Kita berdua di antara kata

Yang tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian

Untuk datang membawa jawaban

Saya, juga kawan-kawan yang mendampingi Maman untuk datang di hari itu, tak bisa berkata-kata. Momen seperti itu sangat jarang. Dua orang tak banyak cakap, tapi tangan terus berkait seperti truk gandeng. Wajah mereka memerah, perpaduan rasa malu-kucing dan senang yang meluap-luap. Masa depan terasa jauh, masa kuliah yang nyaris habis sudah tak terpikir lagi. Bagi dua orang itu, waktu membeku dan biarlah terus begitu. Sore itu Maman dan perempuan manis itu mengikat janji. Diantar lagu "Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan."

Tak terasa gelap pun jatuh

Di ujung malam, menuju pagi yang dingin

Hanya ada sedikit bintang malam ini

Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Petang itu, Maman dan kekasihnya adalah dua orang yang paling berbahagia di dunia.

Lagu dan Pesta Pernikahan

Pada resepsi pernikahan, selain makanan ada hal lain yang hampir selalu ada: musik. Entah itu dari mp3, atau organ tunggal, atau band sewaan. Rasanya nyaris tak ada pesta pernikahan tanpa musik. Dan lagu "Akad" dianggap sebagai lagu kekinian yang cocok untuk diputar atau dimainkan di pesta pernikahan. Tak salah, liriknya tepat guna. Ia mengajarkan bahwa pernikahan tak melulu berisi kebahagiaan.

Memilih lagu untuk diputar di pernikahan itu gampang-gampang susah. Banyak yang terjebak memilih suatu lagu hanya karena sedang populer. Saat lagu "Sephia" dari Sheila On 7 sedang di puncak ketenaran, saya beberapa kali mendengar lagu itu dinyanyikan di pesta pernikahan. Padahal liriknya berkisah tentang kekasih gelap.

Membuat daftar lagu pernikahan itu memang butuh konsentrasi. Fokusnya tentu di lirik. Sebab segala jenis musik—mau yang rancak ataupun sendu—orang akan manggut-manggut saja. Tapi soal lirik, ia akan jadi perhatian.

Salah satu panduan membuat daftar lagu (mixtape) bisa ditengok di novel High Fidelity (1995) karya Nick Hornby. Novel ini difilmkan pada tahun 2000, dibintangi John Cusack yang memerankan tokoh utama Rob Gordon.

"Membuat kompilasi lagu itu adalah seni," ujar Rob. "Ada banyak yang boleh dilakukan dan jangan dilakukan. Pertama-tama, kamu menggunakan sajak orang lain untuk mengungkapkan perasaanmu. Ini adalah hal yang rumit."

Garis bawahi kata sajak. Ini artinya, sajak berupa lirik adalah pertimbangan penting dalam membuat kompilasi lagu, termasuk kompilasi lagu pernikahan. Lirik lagu bisa menjelma jadi doa bagi pasangan yang baru menikah. Maka tak heran jika banyak orang mengernyitkan alis saat "Sephia" diputar di pernikahan. Apa sang penyanyi berharap salah satu dari pengantin itu akan punya kekasih gelap?

Membuat daftar lagu pernikahan juga harus waspada. Ada lagu-lagu yang tampaknya romantis, tapi menjebak. Yang paling populer adalah "Thinking Out Loud" dari solis Ed Sheeran. Spotify pernah merilis 50 daftar lagu paling sering diputar untuk pesta dansa pertama dalam pernikahan, dan lagu itu adalah pemuncaknya. Namun, ada satu hal yang membuat lagu ini sebenarnya kurang layak untuk dijadikan lagu pernikahan.

Bait, And darling I will be loving you 'til we're 70, itu amat menjebak. Seolah umur manusia hanya sampai 70. Bagaimana di umur selepas 70? Apakah sang pengantin akan berhenti mencintai dan memutuskan mencari gebetan muda? Jelas lagu ini pilihan yang kurang tepat.

Baca Juga:Ajip Rosidi-Nani Wijaya Menikah di Usia Lebih dari 70 Tahun

Kalau membuat pengandaian, lagu "When I'm 64" milik The Beatles terdengar jauh lebih masuk akal, pun lebih cocok untuk diputar di pernikahan. Lagu ini mempertanyakan: kalau aku semakin tua dan botak, akankah kamu tetap mencintaiku? Kalau aku keluar rumah hingga 3 pagi, apakah kamu bakal mengunci pintu? Seperti itulah.

The Beatles di sini tak sedang ingin bermanis ria. Lagu cinta mereka juga berisi kebimbangan. Mereka berusaha memberi pandangan pada semua yang sedang dimabuk cinta: dalam pernikahan tak hanya ada madu, tapi juga sembilu.

Perspektif serupa juga ditawarkan oleh Andy Liany. Di lagu "Sanggupkah" yang diciptakannya bersama Pay Burman itu, penyanyi jebolan Gang Potlot itu tak mau bermanis belaka. Apakah ia sanggup hidup bersama kekasih selamanya, apakah ia bisa hidup tanpa kekasihnya? Ia tak tahu jawabannya, cuma waktu yang bisa jawab. Kebimbangan itu dipungkasi dengan satu kalimat penting:

Jalan masih panjang

Jangan ucap janji

Nikmatilah cintamu hari ini

Baca Juga: Gang Potlot yang Banyak Melahirkan Musisi Hebat

infografik lagu yang cocok untuk nikahan

Tapi memang rayu gombal itu adalah hal penting. Ia adalah gula dalam secangkir teh yang disajikan tiap pagi, garam dalam tumis buncis yang disantap tiap siang, dan mentega yang dioleskan pada roti. Hubungan romansa terasa hambar tanpa bujuk rayu. Peradaban boleh maju, manusia jadi makin pandai, tapi bujuk rayu, seni menggombal omong kosong dan bermulut manis tak jua punah.

Maka di sana, boleh lah kamu memutarkan tembang-tembang klasik yang tak lekang waktu. Frank Sinatra adalah pilihan yang nyaris tak pernah salah, dan "The Way You Look Tonight" bisa diputar di pesta pernikahanmu.

Some day, when I'm awfully low,

When the world is cold,

I will feel a glow just thinking of you

And the way you look tonight.

Satu hal yang pasti, sejak industri musik lahir, ada ribuan lagu yang bisa kamu pilih untuk diputar di pernikahanmu. Mau yang untuk joget riang, atau berdansa pelan, selalu ada musik pengiring yang pas. Dari era Elvis Presley hingga Justin Bieber, dari Aretha Franklin sampai Taylor Swift. Tinggal pilih saja, dan jangan lupa menerapkan semboyan kewaspadaan.

Selamat memilih!

Baca juga artikel terkait LAGU atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Musik
Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Maulida Sri Handayani