Menuju konten utama

Ahok Akan Bertukar Posisi Dengan Djarot

PDIP bisa menerima pertukaran posisi ini dalam Pilkada DKI Jakarta 2017

Ahok Akan Bertukar Posisi Dengan Djarot
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok. TIRTO/Andrey Gromico

tirto.id - Pengamat politik dari lembaga kajian Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai Djarot Saiful Hidayat yang merupakan kader ideologis intelektual PDIP memang sudah saatnya bertukar posisi dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang merupakan bukan kader tulen PDIP.

Menurutnya, PDIP bisa menerima pertukaran posisi ini dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

"PDIP akan dapat menerima jika Ahok dan Djarot bertukar posisi dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Harusnya memang bertukar posisi sebab Pak Djarot kader ideologis intelektual PDIP, sedangkan Pak Ahok bukan kader tulen," ujar Pangi, di Jakarta, Kamis.

Pangi menilai PDIP akan lebih mudah menerima jika Djarot maju sebagai calon gubernur sementara Ahok maju sebagai cawagub mendampingi Djarot, karena tidak terlalu berisiko ditinggalkan.

"Kalau PDIP mengusung Pak Ahok sebagai cagub, artinya membesarkan gelembung elektabilitas dan popularitas orang non-kader, yang bisa berpotensi menyalip di tikungan," ujar dia.

Pangi mengatakan PDIP adalah partai doktrin, bukan tipologi parpol kepentingan atau pragmatis. PDIP dinilai memiliki pakem tersendiri dalam mengusung seorang calon kepala daerah.

Dia memandang PDIP sangat memperhatikan betul loyalitas kepala daerah yang diusungnya, sedangkan Ahok beberapa kali tercatat pernah meninggalkan parpol yang mengusungnya baik kala yang bersangkutan menjadi Bupati Belitung Timur maupun saat menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Sebelumnya politikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan mengatakan partainya akan bisa menerima jika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bertukar posisi dengan kader PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Saya mendengar ada desakan dari internal PDIP yang menginginkan Pak Djarot menjadi calon Gubernur dengan Pak Ahok sebagai calon wakil Gubernur. Bagi DPP partai tentunya opsi ini lebih mudah diterima dan mudah pula menjelaskannya ke struktur partai hingga ke akar rumput," ujar Arteria.

Saat ini Ahok merupakan Gubernur DKI Jakarta sementara Djarot merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ahok berencana maju kembali dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi petahana dan meminta Djarot kembali mendampinginya sebagai wakil gubernur.

Menurut Arteria, opsi Djarot maju sebagai calon Gubernur dengan Ahok sebagai wakilnya lebih logis dan bisa diterima. Alasannya, pertama PDI Perjuangan selaku partai pemenang pemilu juga memenuhi persyaratan untuk bisa mengusung calon sendiri di Pilkada DKI Jakarta tanpa harus berkoalisi.

Kedua, dari sisi perolehan kursi dan jumlah dukungan saat ini posisi Ahok yang didukung koalisi tiga partai baru mengumpulkan 23 kursi DPRD, masih jauh dibandingkan perolehan kursi PDI Perjuangan yang memiliki 28 kursi DPRD.

Ketiga, baik Ahok maupun Djarot belum sekalipun teruji bahwa mereka benar-benar pilihan rakyat. Ahok adalah gubernur yang menggantikan Jokowi, sehingga tidak ada perbedaan dengan Djarot.

Keempat, secara politis Djarot dinilai mempunyai keunggulan politis dengan jabatannya selaku Ketua DPP PDI Perjuangan, dan berpengalaman menjadi Pelaksana tugas Ketua DPD PDI Perjuangan wilayah DKI Jakarta sehingga memahami karakter dan kearifan lokal ibukota dengan basis massa yang jelas.

Kelima, Djarot dipandang memiliki keunggulan dari sisi komunikasi politik, yang mampu menjembatani kepentingan pemerintahan daerah.

Baca juga artikel terkait BURSA CALON GUBERNUR DKI JAKARTA

tirto.id - Politik
Sumber: Antara
Penulis: Rima Suliastini
Editor: Rima Suliastini