STOP PRESS! Polda Metro Jaya Tangkap Pemilik Situsweb Nikahsirri.com

Kolumnis
National Working Group on Research and Development

Adios El Jefe

Kolumnis: Andre Barahamin
27 November, 2016dibaca normal 3 menit
“Pada pukul 10.29 malam, pimpinan utama revolusi Kuba, Fidel Castro Ruz, meninggal dunia.”

Pengumuman itu menyapu seluruh Havana, kemudian mewabah ke seantero Kuba lalu menjadi gelombang kesedihan di berbagai belahan dunia. Dibacakan langsung oleh Raul Castro, adik kandung sekaligus kawan seperjuangan Fidel. Namun, sebab kematian tidak disebutkan.

Jalan-jalan di Kuba senyap. Tapi di Miami, banyak orang bergembira sembari mengibarkan bendera Kuba.

Dia adalah sosok revolusioner paling dibenci di AS. Seorang pengacara yang ketika berumur 32, berhasil mengambil kendali Kuba dari diktator Fulgencio Batista yang didukung AS. Sebuah anomali sejarah karena sebelumnya, Fidel dijatuhi hukuman 15 tahun penjara setelah menyerang barak tentara di tahun 1953. Dua tahun kemudian, ia bebas karena mendapatkan amnesti politik.

Menjadi pelarian dan terasing di Meksiko, Fidel menolak kalah dengan menyiapkan kelompok kecil gerilyawan untuk kembali menantang Batista.

Desember 1956, dari 81 orang yang ikut berlayar pulang ke Kuba, hanya 12 orang yang lolos setelah pendaratan mereka bocor ke telinga tentara. Namun sekali lagi, Fidel menunjukkan bagaimana sejarah berada di pihaknya.

Dari balik rimbun pegunungan Sierra Maestra, hanya dalam tempo dua tahun, Fidel berhasil mengorganisir ribuan gerilyawan dan memenangkan kepemimpinan politik dari kelompok pembangkang sipil di perkotaan.

Pada 1 Januari 1959, Fidel dan para pengikutnya berhasil mengambil alih Kuba.

Sempat diragukan banyak pihak, Fidel sukses memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Kuba yang miskin dan buta huruf. Ia berhasil membuat negeri seluas 100 km2 yang dihajar embargo ekonomi sejak 1962, mencapai statistik kesehatan negara-negara kaya dari utara.

Ia sukses mengubah Kuba. Dari sekedar taman bermain untuk para milyarder Amerika, menjadi simbol perlawanan Dunia Ketiga terhadap arogansi kapitalisme. Fidel adalah orang yang memicu krisis selama 13 hari penuh ketegangan di tahun 1962. Saat itu, era perang nuklir terasa begitu dekat.

Fidel Castro dengan kharisma dan tangan besi, memerintah Kuba selama 49 tahun dan sukses merontokkan sembilan presiden AS. Ia berhasil selamat dari 638 upaya percobaan pembunuhan oleh musuh-musuh politiknya dan sukses menjadi legenda hidup gerakan kiri pasca bubarnya Soviet. Cobaan yang datang melalui upaya kudeta Teluk Babi yang disokong CIA dilewati Fidel dengan gemilang.

Berulang kali dicoba, lusinan kali pula sia-sia. Tidak ada yang sukses mengusir Fidel keluar dari Havana.

Oleh media-media Barat, lelaki ini dianggap tidak memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, menggunakan kekuasaannya untuk merepresi lawan politiknya dan melakukan monopoli dan sensor terhadap media. Di hari ia dikabarkan mangkat, New York Post merasa tetap perlu untuk menegaskan bahwa Fidel adalah seorang "diktator yang memerintah Kuba sejak 1959 hingga 2008". Para pembencinya yang mengungsi ke Florida begitu gembira mengetahui Fidel dibunuh oleh waktu dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Fidel Alejandro Castro Ruz, adalah satu dari tujuh bersaudara keturunan pasangan migran asal Galicia, Spanyol yang memiliki perkebunan tebu di Biran, Oriente, Kuba. Terkenal keras kepala dan jago olahraga. Tahun 1945, semasa belajar hukum di Universitas Havana, Fidel mulai tertarik dengan politik dan kemudian terlibat aktif dalam gerakan anti-imperialisme. Terutama soal intervensi AS di negara-negara Karibia.

Pengalaman semasa menjadi aktivis kampus itu ikut membentuk prinsip solidaritas internasional Fidel. Sikap ini membuat El Jefe dihargai banyak orang meski AS mencoba terus menerus menjelek-jelekkannya.

Setelah bebas dari penjara, Nelson Mandela berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Castro atas kerja-kerjanya melawan apartheid. Hugo Chavez, mendaulatnya sebagai Simon Bolivar era modern. Fidel mendukung kemerdekaan Namibia, membantu perjuangan Angola dan tentu saja mendukung sepenuh hati gerilya Che Guevara di Kolombia.

Fidel adalah penunjuk arah bagi ratusan juta proletar di berbagai negara di belahan dunia ketiga. Semua orang yang masih menaruh harapan dan tekad tentang dunia yang lebih baik. El Comandante menjadi teladan bagi generasi radikal baru yang sedang memulai pertempuran soal ide, konsep dan imajinasi tentang politik sosialisme yang membebaskan umat manusia.

Karena ide dan aksi Fidel, seorang perempuan hamil di salah satu desa paling terpencil di Timor Leste dapat dikunjungi dokter. Ia mengulurkan tangan dengan mengirimkan dokter dan membantu pelatihan bagi tenaga medis di banyak negara di Namibia. El Jefe membuktikan bahwa ekonomi barter masih mungkin dilakukan dan tidak ketinggalan zaman saat ia menukar minyak Venezuela dengan dokter dan guru. Tanpa campur tangan Fidel, kekuatan milisi pendukung apartheid tidak mungkin kalah di Afrika Selatan.

Fidel adalah, teladan solidaritas dalam dunia yang egois. Ia adalah etika, nilai dan cita-cita dalam bentuk daging. Menolak sektarianisme dan tanpa henti berjuang untuk sosialisme internasional, bahkan ketika Soviet bubar dan Cina tersungkur di tikungan Deng. Semasa hidupnya, El Jefe menjadikan dirinya sebagai marka sejarah bahwa usai Perang Dingin, tidak semua revolusioner bertekuk lutut.

Commandante Fidel tetap keras kepala, bahkan di hari-hari terakhirnya. Setelah mundur dari jabatan presiden, ia tetap menulis dan menyumbangkan gagasannya untuk Kuba dan dunia. Terus mengingatkan bahwa kapitalisme global sebagai wajah barbarianisme paling mutakhir akan membawa kiamat ekologi dan sosial.

Banyak yang masih mencintainya dan berbagi keyakinan yang sama dengannya tentang masa depan yang lebih baik. Namun, jumlah pembenci El Comandante mungkin jauh lebih besar lagi jumlahnya.

Kepergian Fidel memang bukan akhir dari revolusi Kuba. Namun tidak ada yang akan menyangkal bahwa revolusi 1959 dapat disinonimkan dengan Fidel. Meski dicibir, dunia akan mengenangkan sebagai revolusioner keras kepala yang tidak korup dan setia dengan rakyat. Ia tidak menumpuk kekayaan di kantongnya dan tetap hidup sederhana hingga ia berpulang.

Fidel adalah pemberani yang bermimpi mengenai masa depan yang revolusioner. Sembari dengan tekun, ia bekerja dengan sabar, hati-hati dan disiplin untuk mewujudkan semua itu.

Para musuhnya akan tetap bersikeras menyebut Fidel diktator. Tapi, mereka tidak akan menyangkal warisannya kepada Kuba dan dunia.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword