Abdul Azim, Pangeran Brunei yang Mesra dengan Tokoh & Aktivis LGBT

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 10 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Pada pesta ulang tahunnya, Azim berfoto dengan tokoh dan pejuang LGBTQ. Sementara itu, di podium raja, ayahnya ingin merajam pelaku LGBTQ.
tirto.id - Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, barangkali tidak terkejut dengan respons negatif dunia usai mengumumkan bahwa per 3 April 2019 Brunei akan mempraktikkan hukum rajam bagi pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Aktivis The Brunei Project, Matthew Woolfe, menyebut kehidupan di Istana Bolkiah mengandung hipokrisi. Keluarga kerajaan yang telah berkuasa puluhan tahun itu ia anggap “menjalani gaya hidup dekaden sambil mengharapkan kesalehan yang Islami dari rakyat Brunei,” lapor ABC News.

Misalnya Jefri Bolkiah, adik Hassanal yang sering dianggap sebagai aristokrat paling boros foya-foya, terutama pada 1980-an dan 1990-an. Laporan eksklusif Mark Seal untuk Vanity Fair pada 2011 mengungkap biaya hura-hura Jefri sebesar $50 juta per bulan. Sebagian dipakai untuk menggelar pesta mewah reguler.

Di dalam pesta tersaji minimal dua hal yang bertentangan dengan syariat Islam—satu dari tiga elemen utama yang membentuk konstitusi Brunei. Pertama, minuman beralkohol. Kedua, model-model perempuan dari berbagai negara yang dikontrak untuk jadi selir (harem) untuk memuaskan nafsu Jefri dan kolega.

Hipokrisi turut terlihat pada sosok Abdul Azim. Azim adalah anak laki-laki Hassanal, hasil dari pernikahannya dengan Hajah Miriam selama 21 tahun (1983-2003). Ia berstatus “pangeran”, berada di garis keempat tahta Kesultanan Brunei. Gaya hidup hedonisnya mirip Jefri, tapi Azim lebih favorit di mata paparazzi.

Gelar lengkapnya adalah Yang Teramat Mulia Paduka Seri Duli Pengiran Muda Haji ‘Abdul ‘Azim. Ia kelahiran tahun 1982—era Jefri memulai petualangan hedonnya.

Azim dididik di sekolah-sekolah prestisius: International School Brunei, Raffles Institution (Singapura) dan Oxford Brookes University (Britania Raya). Pada 2008 Azim dikirim untuk menjalani kursus pelatihan perwira selama sembilan bulan di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris. Ia hanya bertahan seminggu.

Sejak saat itu ia menampilkan tiga persona: penggemar tata busana, aktif dalam berbagai program filantropis, tapi juga bergaya hidup jetset.


Pada 2009, misalnya, ia merancang tas akhir pekan berjenis unisex (cocok dipakai laki maupun perempuan) untuk perusahaan MCM. Hasil penjualannya dialihkan ke Make A Wish Foundation UK, sebuah badan amal di mana ia jadi salah satu pendonor.

Ia pernah menghadiri acara amal untuk mendukung para pengidap autisme hingga Hari Perempuan Internasional 2012 di Brunei. Acara kedua diharapkan mampu meningkatkan kesadaran tentang kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak, dan masalah perempuan-anak lain.

Sementara cara Azim untuk menunjukkan persona tersohornya adalah melalui pesta-pesta, terutama untuk merayakan ulang tahunnya. Pesohor kelas dunia diundang. Media gaya hidup ramai-ramai meliput. Tapi darinya publik mengetahui bahwa Azim mesra dengan tokoh maupun para aktivis LGBTQ.

Pada Juni 2009, misalnya, ia merayakan ulang tahun ke-27 dengan menggelar pesta yang digadang-gadang sebagai “party of the year”.

Telegraph melaporkan lokasinya berada di rumah milik ibunya di Stapleford Park, Leicestershire, Inggris. Dekorasi dalam dan luar rumah terlihat megah. Hiasannya termasuk 6.000 mawar putih, yang menurut toko bunga setempat diperkirakan berharga 70 ribu poundsterling (menurut kurs hari ini sekitar Rp1,3 miliar).

Jeff Allen, juru bicara Pangeran Azim, menyatakan angka itu berlebihan. Tapi semua orang tahu bahwa jumlah tersebut tidaklah mustahil—berikut total biaya pesta yang bisa berlipat-lipat lagi. Allen menolak menyatakan angka pastinya. Ia menjelaskan acara itu hanyalah kumpul-kumpul keluarga biasa.

“Biasa” yang ia maksud tentu dalam standar pesta keluarga kerajaan Brunei. Azim dan ketiga saudaranya mengundang para pesohor dari tanah Hollywood. Sophia Lauren, Faye Dunaway, Ursula Andress dan Joan Collins. Untuk wajah-wajah yang lebih muda, ada Adam Gregory, Robert Buckley, dan Sean Faris.

Chakka Khan, penyanyi jazz Amerika, Azim datangkan untuk tampil di hadapan 230 tamu undangan. Beberapa penyanyi yang lebih populer lain turut meramaikan pesta, tapi tidak naik ke panggung. Dua di antaranya adalah Janet Jackson dan Mariah Carey.


Azim dan Carey menjalin kedekatan hingga bertahun-tahun setelahnya. Ada sebuah program filantropis yang berupaya menjangkau keterlibatan para selebriti dengan nama Noble Gift Gala. Dalam agenda tahun 2011 Azim mengikuti acaranya. Di karpet merah ia berforo bersama Carey.

Lalu di pesta ulang tahun Azim ke-30, sekitar pertengahan 2012, Carey turut hadir meramaikan acara. Selain sang biduanita, hadir pula aktris Pamela Anderson dan Raquel Welch.

Dorchester Hotel di London menjadi lokasi penyelenggaraan acara. Dorchester Hotel adalah satu dari sembilan hotel milik pemerintah Brunei yang jadi sasaran target gerakan boikot yang diinisiasi aktor George Clooney.

Kedelapan hotel milik pemerintah Brunei selain Dorchester antara lain Hotel Bel-Air (Los Angeles), The Beverly Hills Hotel (Beverly Hills), 45 Park Lane (London), Coworth Park (Sunningdale, Inggris), Plaza Athénée (Paris), Le Meurice (Paris), Hotel Eden (Roma) dan Principe di Savouia (Milan).

Semuanya bernaung di bawah kontrol Dorchester Collection. Badan ini dimiliki Brunei Investment Agency (BIA), sebuah lembaga sayap Kementerian Keuangan Brunei yang bertanggung jawab mengurus investasi di luar negeri. Jefri pernah mengepalainya sebelum kemudian naik jabatan ke level menteri.

Clooney pertama kali menjalankan gerakan boikot pada 2013, tak berapa lama setelah aturan rajam pelaku LGBTQ berdasarkan syariat Islam disahkan di Brunei. Ia menilainya sebagai hukum yang kejam serta seharusnya sudah tidak diberlakukan di semua tempat.

Saat itu praktiknya belum dijalankan karena ada tekanan dari berbagai lembaga kemanusiaan dari dalam maupun luar Brunei—termasuk The Brunei Project. Sayangnya, pada akhir Maret 2019 mereka kalah. Hassanal menyatakan pelaksanaan aturan sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi.


Ironisnya, Mariah Carey, salah seorang tamu yang pernah diundang Azim ke pestanya, adalah aktivis pembela komunitas LGBTQ. Merujuk pada laporan Dory Jackson untuk Newsweek, Carey dianugerahi Ally Award pada GLAAD Media Awards 2016.

GLAAD Media Award adalah acara penghargaan yang diberikan oleh GLAAD (Gay & Lesbian Alliance Against Defamation), organisasi pemerhati komunitas LGBTQ di Amerika. Tujuannya untuk memberikan apresiasi untuk pihak-pihak yang memiliki perhatian pada isu hak-hak LGBTQ.

Selama pidato penerimaan penghargaan Carey berterima kasih pada GLAAD untuk “cinta tak bersyarat” yang telah diberikan untuknya. Ia pun mendefinisikan kembali makna LGBTQ. “L: legendary (legendaris). G: georgeus (rupawan). T: tantalizing (menggoda), dan bahkan Q untuk quality (kualitas).”

Masih di tahun 2016, tepatnya pada bulan Agustus, atlet ski gay Gus Kenworthy secara terbuka menghadiri acara glamor yang digelar Azim.

Kenworthy mengakui orientasi seksualnya ada kepada ESPN pada Oktober 2015. Dalam wawancara lain ia berharap pengakuannya membantu menguatkan orang-orang gay lain untuk tidak perlu khawatir jika ingin terbuka soal orientasi seksual mereka. Pada 2014 ia secara mempublikasikan hubungannya dengan seorang pebisnis industri ski, film, dan fotografi bernama Robin Macdonald.

Pada akhir 2015 Kenworthy mulai menjalin hubungan baru dengan aktor Matthew Wilkas. Pada Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeingchang, Korea Selatan, Kenworthy dicium Wilkas sebelum bertanding. Momentum itu disiarkan langsung di televisi dan dianggap sebagai momentum penting pengakuan terhadap atlet LGBT.

Kenworthy mengajak Wilkas saat menghadiri pesta Azim pada Agustus 2016. Foto selfie-nya diunggah ke Instagram, memperlihatkan kedua sejoli sedang menyambut tamu undangan lain, seorang tokoh sekaligus aktivis transgender, Caitlyn Jenner.

Nama aslinya Bruce Jenner, pesohor televisi dan atlet peraih medali emas asal Amerika. Pada April 2015 ia menyatakan diri sebagai transpuan. Tiga bulan kemudian nama depannya berganti menjadi “Caitlyn”, dan secara legal diubah pada September di tahun yang sama. Reputasinya kian moncer saat ia membintangi I Am Cait, acara televisi tentang transisi gender pada 2015-2016.


Puncaknya adalah pada Januari 2017 ketika ia memutuskan untuk menjalani operasi ganti kelamin. Sejak saat itu ia didaulat sebagai perempuan transgender paling terbuka di dunia, serta aktif dalam kampanye hak-hak LGBTQ.

Caitlyn juga diundang ke GLAAD Media Award 2016 untuk menerima penghargaan atas wawancaranya bersama jurnalis ABC News Diane Sawyer. “Aku dijelek-jelekkan terus oleh tabloid selama bertahun-tahun. Komunitas kita tidak pantas mendapatkannya. Kita di sini. Kita manusia,” katanya, mengutip Variety.

Infografik Hidup Mewah Pangeran Azim
undefined


Berbagai pihak berspekulasi mengenai motif mengapa Brunei akhirnya mempraktikkan rajam untuk pelaku LGBTQ, meski pemerintah setempat mendapat tekanan kuat dari berbagai lembaga pemerhati kemanusiaan dunia.

Bridget Welsh adalah ahli Asia Tenggara dan profesor ilmu politik di John Cabot University. Kepada Rebbeca Wright dari CNN World ia menilai semuanya kembali para apa yang dilakukan Hassanal dan Jefri sepanjang 1980-an.

“Selir, eksploitasi seksual, hingga ekses terhadap konsumsi mobil mahal. Citra playboy sangat melekat pada mereka.”

Aktivis The Brunei Project Matthew Woolfe berpendapat serupa. Ia menilai Hassanal menggunakan aturan berbasis syariat Islam sebagai “warisan relijius” untuk membersihkan jejak-jejak kontroversial yang dibikin oleh saudara-saudaranya.

“Tentu saja, ada banyak orang berbicara tentang hipokrisi aturan yang diterapkan oleh sultan dan pemerintahannya. Padahal keluarganya di masa lalu bisa dianggap melanggarnya. Beberapa orang melihatnya sebagai cara untuk membersihkan nama, dan mungkin jalan untuk menciptakan warisan."

Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf