Aris Santoso
Peneliti militer, terutama TNI AD. Bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

53 Tahun Brigif 17/Kujang I: Rivalitas Perwira Berlanjut ke Istana?

20 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kompleks militer (ksatrian) Cijantung bisa jadi merupakan episentrum militer di Tanah Air. Bila ada skenario yang mengandaikan Cilangkap (komplek Mabes TNI) bakal lumpuh karena invasi dari luar, pertempuran masih bisa dilanjutkan selama Cijantung masih eksis.

Dalam kawasan Cijantung (Jakarta Timur) terdapat banyak markas komando dan tidak semuanya merupakan satuan tempur (infanteri). Ada juga kavaleri dan perhubungan. Namun tidak bisa disangkal, dua satuan berikut yang paling terkenal: Kopassus dan Brigade Infanteri Para Raider 17/Kujang I Kostrad (selanjutnya Brigif 17/Kujang I). Sebenarnya masih ada satu lagi, yaitu Brigif Mekanis 1/Jaya Sakti Kodam Jaya.

Namun satuan yang disebut terakhir ini sejak dulu dianggap masih berada di bawah bayang-bayang Brigif 17/Kujang I. Namun dalam hal figur nasional, hari ini Brigif I lebih kompetitif, mengingat dua mantan komandannya, yakni (dengan pangkat saat itu) Kol Inf Moeldoko (Akmil 1981) dan Kol Inf Gatot Nurmantyo (Akmil 1982), sudah menjadi tokoh politik nasional. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah keduanya akan saling berhadapan pada Pilpres 2024. Sudah santer diberitakan Gatot Nurmantyo sedang bersiap menjadi Ketua Umum Gerindra.

Dari Siliwangi ke Kostrad

Brigif 17 resmi berdiri pada 20 Mei 1966 dalam sebuah upacara di Bandung yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto selaku Menpangad (setingkat KSAD). Tanggal ini sengaja dipilih karena menyesuaikan hari lahir komando di atasnya, yaitu Kodam III/Siliwangi, yang lahir pada 20 Mei 1946. Awalnya, Brigif 17 memang berada di bawah Kodam Siliwangi. Baru sekitar 1969 Brigif 17 dialihkan ke Kostrad.

Sebagai komandan pertama ditunjuk Kol Inf Himawan Soetanto, perwira asal Jatim yang besar di Siliwangi dan dikenal setia pada Soeharto. Saat meresmikan Brigif 17, Soeharto baru saja memperoleh Supersemar. Karena keberadaan Kolonel Himawan dan Supersemar itu, interpretasi bahwa Brigif 17 dirancang sebagai bagian dari konsolidasi rezim Orde Baru sulit dihindari.


Tanggal peresmian Brigif 17 sengaja dibuat sama dengan hari lahir Divisi Siliwangi, juga berdasarkan alasan historis mengingat tiga satuan yang berada di bawah Brigif 17, masing-masing Yonif 305 (Krawang), Yonif 328 (Cilodong, Bogor), dan Yonif 330 (Cicalengka, Bandung), merupakan satuan yang mulanya organik Kodam Siliwangi.

Dengan kata lain, mereka telah lahir jauh lebih dulu saat Brigif 17 didirikan. Yang lebih penting, dengan jalannya masing-masing satuan-satuan tersebut telah membangun legendanya sendiri. Singkatnya, nama besar Brigif 17 adalah akumulasi dari legenda batalyon di bawahnya.

Mustahil meringkas sejarah panjang Brigif 17 dalam tulisan pendek ini. Sesuai dengan tema di atas, tulisan ini membatasi diri pada topik bagaimana sebuah satuan seperti Brigif 17 bisa masuk orbit politik nasional melalui perwira yang pernah berdinas di satuan ini.

Beberapa nama yang dimaksud masih eksis di seputar lingkaran kekuasaan antara lain Letjen TNI Purn Susilo Bambang Yudhoyono (Akmil 1973), Letjen TNI Purn Prabowo Subianto (Akmil 1974), Jenderal Purn Ryamizard (Akmil 1974), Jenderal Purn Djoko Santoso (Akmil 1975), May Inf Purn Agus Harimurti Yudhoyono (Akmil 2000), dan seterusnya.

Rivalitas Mantan Komandan

Tradisi dan prestasi tempur yang dimiliki Brigif 17 telah menyumbang reputasi tersendiri bagi segenap anggotanya, khususnya bagi para perwiranya selepas mereka dari Brigif 17. Seperti yang kita lihat hari ini, sejumlah perwira yang dulu pernah bertugas di Brigif 17 terlibat langsung di ranah politik praktis sehubungan Pilpres 2019, meski tidak selalu dalam satu kubu.

Capaian tertinggi eksponen Brigif 17 di panggung politik nasional adalah ketika Letjen TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai presiden selama dua periode (2004–2014). Saat masih berpangkat kolonel, SBY pernah menjabat Komandan Brigif 17 (1992-1993), dan sebagian besar masa dinasnya dijalani di Yonif 305 dan Yonif 330. Penggantinya sebagai komandan brigade adalah Ryamizard yang kini menjabat menteri pertahanan di pemerintahan Jokowi.

Hubungan antara SBY, Ryamizard, dan Prabowo tidak selamanya mulus. Rumitnya hubungan mereka bahkan sudah terjadi sejak ketiganya masih berstatus sebagai taruna di Akmil. Salah satu kasusnya, ketika baru menjabat Presiden (2004), SBY secara halus menolak melantik Ryamizard sebagai Panglima TNI, dengan cara memperpanjang masa dinas Jenderal Endriartono Sutarto (Akmil 1971). Jenderal Endriartono sendiri sempat bertugas di Brigif 17, sebagai kepala staf brigade.

Latar belakang prestasi dan keluarga yang sama-sama kuat memunculkan ego di antara ketiganya. Tentu yang paling kompleks adalah Prabowo. Sekitar lima tahun Prabowo bertugas di Brigif 17, mulai sebagai Wadanyon 328, Danyon 328 dan kepala staf brigade.


Adalah fenomena menarik ketika Mayor Inf Prabowo Subianto dipindahkan dari Kopassus ke Yonif 328. Kepindahan Prabowo menjadi titik kulminasi persaingan antara Kopassus dan Brigade 17. Prabowo terpaksa keluar dari Kopassus karena konflik yang internal yang berlarut-larut. Antara 1987-1988 itu, yang menjadi atasan langsung Prabowo adalah Brigjen Sintong Panjaitan (Danjen Kopassus) dan Letkol Inf Luhut Panjaitan (Komandan Anti Teror Kopassus). Sudah umum diketahui, hubungannya dengan Prabowo kurang mulus, bahkan sampai sekarang.

Dengan caranya yang khas, Prabowo bermetamorfosis menjadi perwira Kostrad sejati. Saat menjabat komandan Batalyon 328, Prabowo membangun satuan ini agar memiliki kemampuan tempur mendekati satuan para komando Kopassus. Prabowo seakan memiliki dendam yang terus membara yang dia konversi menjadi energi untuk membesarkan Yonif 328 dan terus berlanjut ketika Prabowo diangkat sebagai kepala staf Brigif 17. Usai menjabat Kasbrig 17, Prabowo ditarik kembali ke Kopassus (1993).

Sedikit meloncat ke masa kini. Dalam konteks pilpres, kita sempat melihat rekonsiliasi semu antara SBY dan Prabowo. Publik langsung paham bahwa koalisi tersebut hanyalah untuk kepentingan sesaat. Persaingan antara SBY dan Prabowo sudah sistemik, bagian dari “tradisi” di Akmil, yakni persaingan antar-angkatan yang tahun kelulusannya berdekatan. Rivalitas keduanya terus berlanjut, meski pernah sama-sama berdinas di satuan yang sama.

Prabowo sendiri sebenarnya juga bisa disebut sebagai eksponen Akmil 1973 juga, karena masuk sebagai taruna bersamaan dengan Akmil 1973. Hanya saja Prabowo sempat tinggal kelas, sehingga kelulusannya sebagai letnan dua juga tertunda setahun. Selain Prabowo, ada nama lain juga yang sempat tinggal kelas, yakni Ryamizard (kini menteri pertahanan).

Nama besar seperti yang diraih Prabowo, SBY, dan Ryamizard merupakan anugerah, karena tidak semua lulusan Akmil bisa meraih status seperti itu. Capaian tersebut merupakan gabungan dari beberapa faktor: prestasi di lapangan, intelektualitas, karisma, latar belakang keluarga, dan seterusnya.

Mau ke Mana AHY?

Salah satu “lulusan” Brigade 17 dari generasi baru, yang memiliki potensi untuk bisa ke Istana adalah AHY. Saat AHY memutuskan mengundurkan diri dari TNI untuk maju sebagai cagub DKI Jakarta Raya, publik merasa terkejut. Bagaimana tidak, selain latar belakang keluarga yang sangat kuat, di mana ayah dan kakeknya adalah jenderal yang sangat terkenal, AHY juga dikenal sebagai perwira muda yang cemerlang secara akademis.

Tapi, penyesalan selalu datang belakangan. Bukan hanya TNI yang menyayangkan pilihan AHY untuk pensiun dini. Saya sendiri selalu bertanya mengapa AHY tidak sedikit bersabar, misalnya dengan cara menunda setahun agar bisa mencapai pangkat letkol.

Saya kira ditunjuknya Agus sebagai Komandan Yonif Mekanis 203 (Agustus 2015) merupakan bagian dari skenario pimpinan TNI AD agar satuan Yonif Mekanis yang dimaksud cepat menemukan bentuknya. Mengingat Agus sebelumnya lama bertugas di satuan yang juga legendaris, yaitu Batalyon Linud 305/Tengkorak Kostrad (Karawang), dan sempat menjabat sebentar sebagai wakil komandan Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha (satuan di bawah Brigif Mekanis 1).

Kini kubu Cikeas sedang bekerja keras agar AHY siap maju pada Pilpres 2024, entah bagaimana caranya. Salah satunya, AHY diusahakan bisa masuk kabinet mendatang. SBY (selaku ayah) bisa melakukan manuver, merapat pada kubu Jokowi untuk sekadar menitipkan AHY—dan ini sudah dilakukan. Tidak perlu muluk-muluk, ambil saja posisi kabinet yang relatif ringan, yang selama ini dianggap bukan pos strategis, seperti menteri pemuda dan olahraga atau menteri sosial.

Namun, masalahnya pada 2024 nanti AHY akan berhadapan dengan seniornya, sebagaimana sudah disinggung sepintas di atas, yakni Moeldoko dan Gatot Nurmantyo.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.