5 Kasus Kriminal di Indonesia yang Belum Terungkap hingga Saat Ini

Oleh: Yandri Daniel Damaledo - 20 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Pemerkosaan Sum Kuning, pembunuhan aktivis Munir, hingga penyiraman air keras Novel Baswedan, adalah sederet kasus kriminal di Indonesia yang belum terungkap hingga saat ini.
tirto.id - Sumaridjem alias Sum Kuning diperkosa oleh sekelompok pemuda, saat dalam perjalanan pulang sehabis berdagang telur di Jalan Yogyakarta-Patuk, pada 21 September 1970 silam.

Para pemerkosa adalah sekelompok pemuda yang diduga anak pejabat. Setelah memerkosa, gerombolan pemuda itu membuang Sumaridjem yang tak berdaya di tepi Jalan Wates-Purworejo, daerah Gamping.

Hingga kini, kasus ini belum terungkap. Alih-alih sebagai korban, Sum Kuning justru dituduh membuat keterangan palsu dan berita bohong. Para penculik dan pemerkosa malah terlupakan.

Tak ada penangkapan para pelaku, justru Sum yang ditahan polisi setelah keluar dari rumah sakit.

Perkara Sum Kuning bukan satu-satunya kasus kriminal yang belum terungkap di Indonesia. Munir, salah seorang aktivis HAM, dibunuh dalam perjalanan ke Amsterdam, Belanda pada 7 September 2004.

Otak pembunuhnya juga belum terungkap hingga kini, diduga masih berkeliaran bebas dan belum tersentuh hukum.

Dalam laporan Kontras bertajuk, "Membongkar Konspirasi Kasus Munir" didapati kasus pembunuhan munir diduga dilakukan secara terencana oleh elit pemerintahan.

Berikut ini, sederet kasus kriminal di Indonesia yang belum menemui titik terang, hasil dari rangkuman Tirto.

Kasus Pembunuhan Marsinah (1993)

Marsinah, seorang aktivis buruh PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur dibunuh pada 8 Mei 1993.

Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.

Marsinah dibunuh karena memperjuangkan hak para buruh, dengan 12 tuntutan yang dicanangkannya dengan kawan-kawan.

Yudi Susanto, pemilik perusahaan ditetapkan sebagai tersangka. Namun, ia mengajukan banding dan akhirnya dinyatakan bebas murni oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia pada proses tingkat kasasi.

Kasus Pembunuhan Wartawan Udin (1996)

Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, wartawan surat kabar harian asal Yogyakarta, Bernas. Ia dibunuh sesaat setelah masuk ke rumahnya secara keji.

Sebelum tewas, Udin disibukkan dengan agenda peliputan pemilihan Bupati Bantul untuk masa jabatan 1996-2001.

Ia mengikuti tiap perkembangan informasi dengan seksama. Pemilihan saat itu dianggap alot dan rumit.

Pasalnya, terdapat tiga calon yang maju dan semuanya berlatarbelakang militer. Satu calon yang mencolok ialah sang petahana, Sri Roso Sudarmo.

Sama seperti yang lainnya, kasus Udin menemui jalan buntu. Polisi dinilai tak bekerja maksimal dalam mengusut tuntas pembunuhan tersebut.

Tim pencari fakta menyimpulkan bahwa tewasnya Udin tak bisa dilepaskan dari berita-berita yang ia tulis.

Laporan Udin dipandang memancing kemarahan penguasa. Dalang di balik pembunuhan Udin mengerucut pada satu nama: Sri Roso.

Polisi memang menangkap “pelaku” pembunuhan Udin. Ia bernama Dwi Sumaji alias Iwik yang bekerja sebagai sopir di perusahaan iklan.

Masalahnya, Iwik bukanlah pelaku sebenarnya. Ia hanya tumbal kepolisian. Dalam persidangan 5 Agustus 1997, Iwik dipaksa mengaku bahwa ia membunuh Udin.

Pengadilan mengadili Iwik dan memutuskannya bebas. Pembunuh Udin yang sebenarnya, hingga kini belum tertangkap.

Kasus Hilangnya 13 Aktivis (1998)

Kala itu 20 tahun silam, 13 aktivis diculik oleh militer. Salah satu yang menjadi korban penculikan adalah Wiji Thukul.

Ke-13 orang itu yakni Sonny, Yanni Afri, Hendtra Hambali, Dedy Umar, Ismail, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Noval Alkatiri, Petrus Bima Anugerah, Herman Hendrawan, Yadin Muhidin, Abdun Nasse dan Widji Thukul.

Mereka menjadi korban penghilangan paksa oleh rezim Soeharto menjelang keruntuhannya. Pada 2000 keluarga dan kalangan penyintas melaporkan nama-nama sanak keluarga yang diculik kepada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Para pelaku yang terlibat telah diadili. Namun, sampai sekarang, 20 tahun usai gelombang penculikan itu, ke-13 nama orang hilang ini belum ditemukan.

Kasus Penenembakan 12 Mahasiswa (1998)

Dua belas mahasiswa ditembak saat menggelar demo pada pada 12 Mei 1998 silam. Kala itu, sejak pukul 11.00, sekitar 6.000 mahasiswa menyemut di pelataran parkir Kampus A Universitas Trisakti.

Tuntutan pengunduran diri Soeharto dan reformasi politik jadi seruan utama para orator. Mereka bahkan membakar patung Soeharto, sebagai bentuk protes.

Demonstrasi berujung ricuh dan aksi saling dorong dengan aparat tak terhindarkan. Hingga akhirnya 12 mahasiswa itu tewas ditembak, dari arah Kantor Walikota Jakarta Barat.

Pada 28 Mei Kapolri Jenderal (Pol) Dibyo Widodo membantah polisi dan brimob terlibat dalam penembakan.

Sidang Mahkamah Militer menduga, pelaku penembakan ialah prajurit tanpa identitas dari Kopassus.

Hingga kini pengungkapan dalang dan penembak mahasiswa yang sebenarnya masih gelap dan belum terungkap.

Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan (2017)

Novel Baswedan, Penyidik KPK yang sedang menangani kasus e-KTP mengalami teror siraman air keras. Novel disiram usai salat subuh di masjid dekat rumahnya, pada April 2017 lalu.

Hingga kini, kasus tersebut masih belum menemui titik terang. Pembentukan tim gabungan khusus untuk menindaklanjuti pun menuai kritik.

Independensi tim diragukan karena sebagian besar anggotanya berasal dari unsur kepolisian.

ICW juga menilai, cara kepolisian menangani kasus Novel berbeda dengan perkara lain. Pasalnya, meski sudah ada bukti CCTV, penanganan kasus Novel tetap berjalan lambat.

Sementara di kasus lain, kepolisian bisa mengungkap dalam hitungan hari.

Sebagai bagian dari Koalisi Masyarakat Sipil, ICW juga mendesak Jokowi untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen guna mempercepat penanganan kasus Novel.


Baca juga artikel terkait KASUS KRIMINALITAS atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Agung DH