Periksa Data

43% Tenaga Kerja Lulusan SD & SMP, Apa Indonesia Siap Industri 4.0?

Oleh: Hanif Gusman - 21 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Statistik menunjukkan lulusan SD dan SMP menguasai hampir setengah pangsa tenaga kerja industri manufaktur Indonesia.
tirto.id - "Sekarang orang ngomong industri 4.0, apa itu? Problem tenaga kerja kita rata-rata tamat SMP. Itu problem dasarnya, 4.0 itu penting, tapi hanya kelihatan canggih, namun tidak menjawab kebutuhan pokoknya bahwa kualitas tenaga kerja kita itu sangat rendah."

Ketua Komnas HAM Taufik Damanik menanggapi debat cawapres pada Minggu (17/3/2018) lalu yang menurutnya tidak membahas hal lebih substansial terkait kualitas ketenagakerjaan di Indonesia. Sektor tenaga kerja memang vital, apalagi pemerintah punya ambisi ingin mengembangkan industri 4.0 yang berbasis digital. Industri 4.0 memang sedang hangat dibicarakan.

Apa itu industri 4.0?

Menurut World Economic Forum (WEF), revolusi industri 4.0 merupakan revolusi digital pada industri. Hal tersebut terlihat dari penggunaan beragam teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), internet of things (IoT), wearables, robotika canggih, dan 3D printing.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bahkan meluncurkan Making Indonesia 4.0 sebagai sebagai roadmap (peta jalan) yang terintegrasi guna mengimplementasikan sejumlah strategi.

Pada tahap awal, penerapan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. Pemilihan kelima sektor tersebut didasari ukuran Produk Domestik Bruto (PDB), potensi dampaknya terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

“Tentu saja ini direncanakan dengan baik, ada roadmap yang jelas, tahapan-tahapan apa yang harus kita siapkan. Arahnya sudah jelas seperti itu. Lebih mudah menggarapnya,” ujar Presiden Jokowi dalam acara Indonesia Industri Summit 2018 sekaligus meresmikan Making Indonesia 4.0 di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Rabu (4/4/2018).

Apa yang menjadi kritikan Taufik di atas, patut ditelaah soal kesiapan SDM. Ini karena pendidikan umum maupun pendidikan kejuruan memiliki peran penting terhadap kesiapan pekerja menghadapi industri 4.0. Di negara-negara maju seperti Jerman dan AS yang sudah melekat dengan industri 4.0, lebih dari 60 persen penduduknya mengenyam pendidikan tertinggi.

Seperti apa sebenarnya kapasitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia untuk menggarap industri 4.0 terutama dari tingkat pendidikannya?


Infografik Periksa Data Industri 4.0 dan Komposisi Pekerja Indonesia
Infografik Periksa Data Industri 4.0 dan Komposisi Pekerja Indonesia. tirto.id/Nadya


Berdasarkan Pendidikan tertinggi yang ditamatkan, tenaga kerja lulusan SD mendominasi pangsa tenaga kerja Indonesia. Dalam kurun waktu 2014 hingga 2018, setidaknya seperempat dari tenaga kerja merupakan lulusan SD. Pada 2014, terdapat 28,75 persen tenaga kerja lulusan SD. Angka tersebut terus menurun hingga mencapai 25,21 persen pada 2018.

Penyumbang terbanyak kedua yaitu lulusan SMP. Komposisi tenaga kerja yang merupakan lulusan sekolah menengah pertama tersebut berkisar antara 17-18 persen setiap tahunnya, bila ditotal komposisi antara lulusan SD dan SMP mencapai 43 persen. Meski demikian, gabungan kelompok lulusan SMA dan sederajat (SMK) juga termasuk mayoritas karena menguasai lebih dari seperempat pangsa tenaga kerja.

Pada 2014, gabungan SMA dan SMK menguasai 25,39 persen tenaga kerja. Dengan adanya tren peningkatan pada kelompok SMA maupun SMK, porsi gabungan kelompok tersebut juga ikut menanjak. Terhitung pada 2018, gabungan lulusan SMA dan SMK menguasai 29,04 persen pangsa pekerja Indonesia.

Sementara itu, tenaga kerja yang tidak pernah bersekolah dan tidak/belum tamat SD menyumbang tenaga kerja sebesar 15 hingga 18 persen setiap tahunnya dengan tren menurun. Menariknya, lulusan SMK yang digadang-gadang siap terjun ke dunia kerja malah menyumbang tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan tamatan SD maupun SMP.

Meskipun mengalami tren meningkat, namun angka tertinggi baru mencapai 11,03 persen pada 2018. Kontribusi yang lebih rendah dibandingkan kelompok lain ini cukup masuk akal karena porsi angkatan kerja lulusan SMK juga berkisar pada angka 9-11 persen terhadap total tenaga kerja selama lima tahun belakangan.

Namun masalah kualitas keterampilan para lulusan SMK juga tidak dapat dikesampingkan. Pemerhati ketenagakerjaan Ade Hanie mengatakan industri kesulitan menyerap tenaga kerja lulusan SMK karena dalam praktik belajarnya, siswa diukur melalui nilai akademis ketimbang keahliannya.

Didominasi Lulusan SD-SMP

Fokus pemerintah pada bidang industri pengolahan (manufaktur) untuk tahap awal implementasi industri 4.0 adalah hal yang cukup masuk akal. Selain menyumbang 22 persen terhadap PDB pada 2016, BPS juga mencatat industri manufaktur merupakan sektor ketiga terbesar dalam menyerap tenaga kerja Indonesia.

Berdasarkan Statistik Tenaga Kerja Agustus 2018, BPS menyatakan tenaga kerja di sektor manufaktur tercatat sebesar 18,25 juta orang. Menariknya, 23,06 persen atau sekitar 4,21 juta pekerja merupakan lulusan SD yang merupakan tingkat dasar dalam jenjang Pendidikan dengan keterampilan rendah.


Infografik Periksa Data Industri 4.0 dan Komposisi Pekerja Indonesia
Infografik Periksa Data Industri 4.0 dan Komposisi Pekerja Indonesia. tirto.id/Nadya


Lulusan SMP menjadi penyumbang terbesar kedua pada industri pengolahan atau manufaktur, komposisinya sebesar 22,8 persen atau sekitar 4,16 juta pekerja. Jika digabung, lulusan SD dan SMP menguasai hampir setengah pangsa tenaga kerja di sektor manufaktur dengan 45,86 persen. Lulusan SMK yang dipersiapkan siap kerja di dunia industri hanya menyumbang 17,31 persen atau 3,16 juta pekerja.

Kontribusi yang terbilang kecil dibandingkan Pendidikan yang lebih rendah tersebut sempat dikeluhkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pada 2016 lalu. Seperti yang dilansir katadata, Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Industri Pemberdayaan Daerah I Made Dana Tangkas menyebut tenaga kerja di sektor manufaktur didominasi lulusan SMP. Sedangkan lulusan SMK dan SMA belum bisa menghasilkan kebutuhan minimum bagi manufaktur.

Dominasi pekerja dengan Pendidikan rendah khususnya pada sektor industri manufaktur menimbulkan pertanyaan apakah para tenaga kerja siap dengan industri 4.0 yang banyak berkaitan dengan ekonomi digital dan teknologi robotik?

Pemerintah pun menyadari hal tersebut dan melakukan beberapa persiapan, salah satunya penguatan sumber daya manusia (SDM). Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah telah mengalokasikan dana yang lebih substansial di sektor pendidikan dan kesehatan.

Kemenperin pun juga telah menyiapkan empat strategi guna memasuki industri 4.0 diantaranya melalui peningkatan keterampilan memahami teknologi internet serta mendorong pemanfaatan teknologi digital.

Upaya menyambut industri 4.0 tidak hanya soal kecanggihan teknologi yang digunakan, kualitas SDM ketenagakerjaan tidak kalah penting dan mesti menjadi perhatian utama pemerintah.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Hanif Gusman
Editor: Suhendra