30 Tahun Histeria Hysteria

Band rock asal Inggirs, Def Leppard. FOTO/Istimewa
Oleh: Nuran Wibisono - 24 September 2017
Dibaca Normal 4 menit
Sang drummer kehilangan lengan kiri. Vokalisnya terserang beguk. Produser pun ganti. 3 tahun yang seru!
tirto.id - Bagi seorang drummer, kematian datang dua kali. Kematian pertama datang ketika ia (dianggap) tak lagi bisa menggebuk drum. Itu yang terjadi pada Rick Allen, drummer band rock asal Inggris, Def Leppard.

Pada suatu siang, 31 Desember 1984, Allen bersama pacarnya, Miriam Barendsen, mengendarai mobil Corvette Stingray 1984 hitam di pedesaan Sheffield yang tenang. Hingga dua lelaki di mobil Alfa Romeo menantang Allen untuk balapan.

Adegan kejar-kejaran itu tak berakhir baik. Allen yang belum terbiasa dengan setir kiri ala mobil Amerika, gugup ketika berada di tikungan. Mobilnya selip dan menabrak tembok, terbalik beberapa kali, dengan posisi akhir atap di atas. Miriam terperangkap di kursi, mengalami cedera parah dan gegar otak. Sedangkan Rick yang tak memasang sabuk pengaman dengan benar terlempar keluar. Lengan kirinya putus.

"Seingatku, lengan kiriku tertinggal di mobil," ujar Allen pada BBC, 1992 silam (baca juga: Move-On dari Nirvana).

Seorang perawat bernama Doreen Billington dan polisi yang sedang libur tugas, membantu Allen. Seorang perawat lain memasukkan lengan Allen dalam kotak berisi es batu hingga ambulan datang. Di rumah sakit, dokter sempat berusaha menyambung kembali lengan itu. Tapi karena infeksi, lengan yang sudah tersambung itu harus diamputasi kembali.

Histeria massa merebak. Koran-koran memberitakan kisah tragis ini. Para penggemar patah hati. Orang-orang mengira Def Leppard akan bubar. Atau yang paling sering dipikir para penggemar: mendepak Allen dan mencari penggantinya. Itu bukan pekerjaan yang susah bagi band yang sedang berada di puncak ketenaran.


Setahun sebelum Allen kecelakaan, Def Leppard merilis album ketiga mereka, Pyromania. Album ini disambut meriah oleh penggemar, dan mendapat acungan jempol dari para kritikus. Pyromania punya beberapa lagu gacoan. Mulai "Rock! Rock! (Till You Drop)", "Photograph", "Rock of Ages", dan "Foolin".

Setelah kesuksesan itu, Def Leppard tak mau santai. Mereka langsung ngebut membuat album keempat. Saat itu mereka belum memikirkan judul album. Februari 1984 Def Leppard masuk studio. Band asal Sheffield ini kembali mengandalkan produser legendaris, Robert John "Mutt" Lange.

Album ini ternyata seperti mengulur kesabaran. Ada beberapa kejadian yang menunda selesainya album yang awalnya akan diberi judul Animal Instinct ini. Allen kecelakaan dan kehilangan lengan. Lange sempat berhenti jadi produser, namun kembali lagi. Ia juga mengalami kecelakaan, walau tak separah Allen. Sedangkan vokalis Joe Elliot kena beguk.

Prediksi bahwa Def Leppard akan mencari drummer baru ternyata salah. Mereka tetap mendampingi Allen. Di kamar rumah sakit, Allen kembali mendengarkan Led Zeppelin, Free, Bad Company, T-Rex, juga David Bowie. Ia ingin menumbuhkan kembali perasaan terbakar ketika mendengar musik. Di kasur rumah sakit, ia berlatih menggebuk busa untuk kembali menajamkan ketukannya (baca juga: Apalah Artinya Led Zeppelin Tanpa Gebukan Drum Bonzo).

"Saat itu aku sadar ternyata bisa menghasilkan ketukan hanya dengan menggunakan kaki," ujarnya dala sebuah wawancara. "Ingatan dan pola masih lekat di otak, aku hanya tinggal mengasahnya kembali."

Perusahaan audio Whirlwind membantu merangkai drum baru untuk Allen. Mereka memasang empat pedal elektronik di bagian sebelah kiri. Urutan dari paling kiri adalah: hi-hat, bass drum, snare, dan tom.


Pelan tapi pasti, album mulai diselesaikan. Allen bisa kembali bermain di atas panggung. Tak tanggung-tanggung, setelah satu kali bermain di pub kecil, Def Leppard langsung bermain di salah satu festival rock terbesar kala itu, Monster of Rock. Mereka disambut meriah. Allen dihujani tepuk tangan dan tangis haru.

Akhirnya album keempat yang ditunggu selama 3 tahun itu selesai juga. Allen punya ide nama untuk album ini: Hysteria. Ia terinspirasi dari histeria media massa, juga para penggemar, ketika kabar amputasi Allen tersebar. Personel yang lain setuju.

Hysteria resmi dirilis pada 3 Agustus 1987. Album ini membawa banyak sekali pembuktian. Terutama bagi Allen. Kehilangan satu lengan tak membuatnya mengalami kematian pertama seorang drummer. Ia masih terus hidup. Dalam buku Def Leppard: The Definitive Visual History (2011), Allen mengungkapkan bahwa hilangnya lengan kiri dan keteguhannya tetap bermain drum adalah bukti kekuatan semangat manusia

"Kejadian itu juga membuatku ingat bahwa kita selalu bisa bersandar pada keluarga dan sahabat di masa krisis. Membuat kita paham bahwa manusia tak sekadar badan, tapi juga jiwa."

Tiga Dekade Sebuah Album Klasik

Tahun 2017 adalah penanda usia ke 30 Hysteria. Album berisi 12 lagu ini memang layak untuk terus dibicarakan. Produser Mutt Lange sejak awal mencanangkan album ini sebagai jawaban terhadap album Thriller milik Michael Jackson. Lange berusaha membuktikan bahwa sebuah album rock bisa memiliki banyak single, lagu gacoan.

Tapi tak semua berjalan mulus. Salah satunya adalah tudingan bahwa album ini adalah gerbang masuknya Def Leppard ke ranah pop. Apa boleh bikin, secara musikal album ini sering dianggap sedikit berjarak dengan Pyromania, dan berjarak cukup jauh dari dua album sebelumnya. Hysteria dianggap lebih ngepop alih-alih tetap berakar pada heavy metal ala Britania Raya.


Tak salah memang, Lange lebih memilih pendekatan yang bersahabat dengan radio (radio friendly). Selain itu, Lange dan para personel Def Leppard banyak menggunakan eksperimen -- antara lain memasukkan sampling lagu secara terbalik di "Rocket". Begitu pula soal pemilihan karakter sound, atau lapisan suara gitar. Ini juga dipengaruhi berubahnya karakter suara drum Allen. Proses-proses ini membuat penggarapan album lebih lama dan hati-hati. Ini diakui oleh vokalis Joe Elliot.

"Album ketiga," ujar Elliot pada Kerrang, "menjadi lebih laris di Amerika ketimbang di Inggris karena saat itu tak ada tuntutan sebuah lagu harus lebih bersahabat dengan radio. Tapi di Hysteria, frekuensi pemutaran di radio dan jumlah single adalah salah satu aspek yang kami pertimbangkan. Kami bekerja keras supaya sound yang kami cari bisa terpenuhi."



Album ini, pada akhirnya, tetap berhasil menjaring dua jenis pendengar. Yakni pendengar lawas yang menyukai Def Leppard karena sound rock dan heavy metal, dan mereka penyuka Def Leppard yang berwarna pop metal dan lagunya empuk di kuping.

Bagi pendengar pertama, "Gods of War", "Run Riot", juga "Armageddon It" rasanya tak akan mengecewakan. Permainan Terror Twins -- gitaris Steve Clark dan Phil Collen -- saling mengisi, mimpi basah bagi para gitaris yang menggemari corak gitar new wave of British heavy metal.

Baca juga:
Sedangkan golongan pendengar kedua akan mengangguk senang dengan lagu-lagu santai tapi menggelegak seperti "Animal", "Hysteria", dan tentu saja "Pour Some Sugar on Me". Baik "Hysteria" atau "Pour Some Sugar On Me" tak pernah gagal menjaring koor massal. Baik di pub kecil berisi para hooligan mabuk, atau di stadion besar berisi puluhan ribu orang.

Hysteria
juga terasa semakin spesial karena beberapa cerita sampingan. Selain kecelakaan Allen, album ini adalah album terakhir gitaris Steve Clark bersama Def Leppard. Gitaris yang merupakan salah satu duta besar Gibson ini meninggal karena keracunan alkohol pada 1991. Album ini menjadi, mengutip Allen, bukti kekuatan manusia, sekaligus menjadi warisan terakhir Clark.

Terlepas dari segala pro kontra, hingga sekarang Hysteria masih dianggap sebagai salah satu album paling penting dalam peradaban rock n roll. Majalah Rolling Stone mendudukannya di peringkat 464 dalam daftar 500 Album Terbaik Sepanjang Masa. Album ini juga masuk dalam buku 1001 Album yang Harus Kamu Dengar Sebelum Mati.

Seorang bijak pernah berkata, usia paling menentukan bagi manusia adalah 30 tahun. Di usia itu, manusia kerap membuat keputusan penting. Soal pekerjaan, soal kehidupan asmara, juga banyak hal lain. Saya rasa pendekatan serupa juga bisa dipakai untuk sebuah album musik.

Jika usia 30 tahun sebuah album masih diperbincangkan, didengarkan, dimainkan, dan terus dikenang, maka hampir bisa dipastikan: akan ada perayaan serupa untuk ke 40 tahun, 50 tahun, entah sampai kapan. Album seperti itu berhasil melewati ujian paling kejam bernama waktu. Dengan kata lain, ia adalah album klasik.

Dan saya rasa banyak orang akan sepakat: Hysteria adalah salah satu album klasik itu.

Baca juga artikel terkait MUSIK ROCK atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight