2 Minggu Pasca-Bom Surabaya: Ragam Kisah Perempuan Bernikab

Oleh: Aditya Widya Putri - 26 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Aksi-aksi "free hug" hingga membagi-bagikan ta'jil dilakukan komunitas-komunitas bernikab guna mengimbangi stigma nikab yang diidentikkan dengan terorisme.
tirto.id - "Apakah Kakak takut dengan saya? Kalau Kakak tidak takut, boleh saya minta peluk?"

Kalimat itu terus dilontarkan seorang perempuan sembari berkeliling dari satu titik ke titik lain di Mal Tunjungan Plaza, Surabaya. Aksi itu ia lakukan persis seminggu pasca-kejadian bom Surabaya. Dengan nikabnya ia ingin membuktikan, bahwa masih banyak orang percaya bahwa nikab dan terorisme adalah dua hal yang berbeda.



Beberapa orang tersenyum dan langsung memeluknya dengan erat. Namun beberapa lainnya memilih untuk menolak saat ia baru mengucap "permisi". Meski jumlahnya hanya dua, berbanding 10 orang yang merentangkan tangannya untuk sang perempuan bernikab hitam itu.

Wardah Maulina namanya. Ia adalah seorang selebgram yang memilih bernikab sejak tahun 2015 lalu. Kepada 610 ribu pengikutnya di Instagram, ia membagikan video sosial eksperimen yang direkam bersama suami dan manajernya saat itu.

"Sempat sedih saat ditolak, karena air muka mereka terlihat takut, melihat saya seperti hantu," tutur Wardah saat bercerita kepada saya di balik layar pembuatan rekam gambar tersebut.

Serangan terorisme yang terjadi beruntun beberapa waktu belakangan tak dimungkiri menggiring stigma buruk masyarakat terhadap perempuan bernikab. Beberapa pelaku sengaja memakai nikab saat melakukan serangan. Sejak saat itu, masyarakat seakan menjadi fobia terhadap atribut keagamaan seperti nikab dan celana cingkrang.

Wardah lalu melanjutkan ceritanya. Ia mengaku cukup beruntung karena tidak mendapat intimidasi berlebihan dari lingkungan setelah serentetan aksi teror di Surabaya. Beda halnya dengan seorang ustazah yang dikenalnya dan beberapa rekan lainnya. Ia bertutur ulang bagaimana sang ustazah harus digeledah bawang bawaannya lantaran dicurigai saat membawa kardus. Padahal kardus tersebut hanya berisi tumpukan baju saja.

“Mereka bilang ke saya, seakan hidupnya tak senyaman dulu lagi sejak rentetan kejadian itu.”



Pengalaman serupa juga dituturkan oleh para angggota Komunitas Muslimah Bercadar (KMB) kepada Fahira Humaira, penggiat sekaligus Ketua Dewan Syiar dan Dakwah komunitas ini. KMB adalah sebuah perkumpulan berisi perempuan-peremuan bercadar yang dibentuk 20 Desember 2013.

Mereka punya tujuan mengenalkan cadar kepada masyarakat umum dan membantu masa transisi perempuan yang baru bercadar. Di laman Facebooknya, komunitas ini memiliki 34.777 pengikut (per 25 Mei 2018).

Anggota KMB yang berasal dari Manado dan Sahinghe, misalnya, melaporkan lebih sering mendapat teriakan, tatapan sinis, dan penggeledahan tas ketika memasuki ruang-ruang publik seperti mal. Mereka sampai harus dikuntit satuan pengamanan dari resto hingga masuk ke dalam mobil. Padahal, pengunjung lain tidak mendapat pemeriksaan seketat yang mereka terima.

Sebagian anggota lain juga menceritakan perlakuan keluarga mereka yang menarik izin bernikab pada istri dan anak-anaknya. Alasannya untuk melindungi keluarga dari stigma, kecurigaan, atau pemeriksaan aparat. Hal tersebut membuat perjuangan mereka meyakinkan keluarga selama ini kembali ke titik nol.

“Beberapa lainnya mendapat cemooh seperti efek peristiwa serupa sebelumnya. Disebut istri teroris, pembawa bom, ekstremis radikalis,” kata Ira kepada saya.


Infografik Nikab Fobia

Teroris dan Nikab


Runtutan kejadian terorisme beberapa waktu belakangan meningkatkan sentimen negatif masyarakat terhadap perempuan bercadar. Ini dikarenakan beberapa pelaku sengaja mengenakan atribut keagamaan tersebut saat melancarkan aksinya.

Misal setelah kejadian pendudukan Mako Brimob oleh napi teroris. Empat hari kemudian, Densus 88 Antiteror Mabes Polri mengamankan dua orang perempuan muda bernikab. Mereka melakukan aksi serangan ketika membesuk dan menitipkan makanan pada napi teroris di Mako Brimob. Saat petugas melakukan pemeriksaan, satu dari mereka hendak menusuk polisi menggunakan gunting.

Lalu bom di GKI jalan Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (13/5/2018) lalu. Pelakunya adalah istri Dita Oeprianto, Puji Kuswati yang membawa serta dua anak perempuannya. Puji mengenakan niqab saat melakukan aksi tersebut.
Polisi sendiri sudah mengafirmasi tak ada korelasi antara cadar dan celana cingkrang dengan aksi terorisme. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga sudah mengimbau agar tidak memberikan sentimen negatif, setelah serangkaian aksi teror yang melibatkan perempuan bernikab.

Sebagai perempuan yang sehari-hari mengenakan nikab, Wardah justru merasa tersinggung terhadap tindakan para pelaku terorisme beberapa waktu belakangan. Apalagi ketika mengetahui pelaku yang sehari-hari tak menggunakan nikab, seolah, mereka sengaja menggiring opini negatif dengan memakai nikab saat melakukan serangan.

“Pemahamannya jelas salah, di Islam tak ada kata maaf dan surga bagi orang yang bunuh diri apalagi saling menyakiti dan merusak rumah ibadah.”



Pun dengan Ira dan semua anggota KMB, mereka satu suara menyatakan aksi pengeboman dan terorisme dalam suasana damai tidak berperang bukanlah bagian dakwah Islam. Mereka mempercayai kaidah pelarangan untuk menyerang non muslim yang membayar pajak dan tidak menyerang umat Islam.

Apalagi golongan-golongan yang memaksakan ideologi tertentu berlaku di Indonesia. KMB jelas mengafirmasi komunitasnya menjunjung tinggi semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Yang penting, praktiknya masih sesuai dengan syariat Islam. Singkatnya, KMB dengan tegas menyatakan bukan bagian dari terorisme dan paham-paham sejalan itu.

“Mereka yang memandang kami sebagai simbol terorisme adalah mereka yang tidak tahu dan tidak paham apa alasan dan landasan kami memakai cadar.”

Melalui aksi-aksi damai seperti yang dilakukan Wardah, atau KMB dengan berbagi makanan berbuka di ruang-ruang publik. Pejuang-pejuang nikab ini seolah ingin menyerukan : Waspadai pahamnya, bukan nikabnya.

Baca juga artikel terkait NIKAB atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti