Gara-gara Nikab, Diusir sampai Dicap Teroris

Oleh: Aditya Widya Putri - 30 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Bagaimana pengalaman sebagian perempuan yang mengenakan nikab di lingkungan keluarga dan sosial?
tirto.id - Fahira Humaira memutuskan mengenakan cadar pada umur 15 tahun saat haid pertama dia. Meski lingkungan terdekatnya yang religius, dilahirkan di Madinah dan dibesarkan dalam keluarga pesantren di Bogor, tetapi keinginannya mengenakan nikab muncul dari dirinya sendiri.

Berbeda dengan jilbab, nikab adalah pakaian terusan berwarna hitam hingga pinggang dengan kain cadar menutupi wajah kecuali mata. Nikab berbeda dengan burka, potongan kain terusan dari kepala hingga kaki, dengan bagian mata ditutup oleh kain kasa. Baik nikab dan lebih-lebih burka masih dipandang negatif oleh masyarakat Indonesia, apalagi di negara berpenduduk mayoritas non-muslim seperti di Eropa.

Karena itu, perempuan 28 tahun yang akrab disapa Ira ini memahami bahwa peneguhan identitas diri, sekaligus “ingin lebih memuliakan dan melindungi diri”, lewat nikab tak bisa sepenuhnya berjalan mulus ketika menjalin relasi sosial di luar lingkungan terdekat.

Ira mengisahkan, pernah mengunggah foto tangannya di Facebook, dan ada laki-laki mengiriminya pesan seksis dengan menulis, “Ih, tangannya aja gitu. Apalagi lainnya.” Ia langsung memblok akun si pria itu. Ia bilang, “Yang ada dalam diri perempuan itu semua indah. Makanya Allah suruh kita menutup. Kalau kita merasa indah, ya tutuplah.”

Ira adalah salah satu penggiat Komunitas Muslimah Bercadar, sebuah perkumpulan yang dibentuk 20 Desember 2013 dengan tujuan mengenalkan cadar kepada masyarakat umum dan membantu masa transisi perempuan yang baru bercadar. Di fanpage Facebook-nya, komunitas ini memiliki 16.570 anggota (per 30 Januari 2017). Media sosial ini dipakai untuk “mensosialisasikan cadar agar lebih familier di Indonesia.”

Bagi Ira, apa yang disebut masa transisi itu berjalan mulus. Ia menjalani masa usia sekolah di rumah. Barulah saat kuliah, ketika mengambil studi psikologi di salah satu universitas negeri, hambatan terhadap perempuan bercadar terasa baginya. Pihak kampus beralasan, seorang yang meniti karier sebagai psikolog tentu akan menjalin kontak dengan klien, dan karena itu ia perlu interaksi lewat mimik wajah. Ira mengajukan alasan, ia akan bekerja sebagai psikolog khusus untuk perempuan. Pihak kampus akhirnya menyetujui dan membolehkannya belajar.

Semula memang ia dianggap “aneh” karena masih minim perempuan memakai cadar di lingkungan universitas. “Tapi lama-lama mereka penasaran dan aku malah jadi terkenal. Banyak dari mereka yang penasaran sama muka aku, banyak yang ingin tahu juga akhirnya tentang Islam dan bagaimana cadar sebenarnya,” ujarnya.

Ada juga kemudahannya sebagai sosok berpenampilan lain. Banyak orang di kampus mudah mengenalinya. “Saat mengumpulkan makalah, begitu tahu nama yang tertera 'Fahira', mereka tahu Fahira mana yang dimaksud,” katanya.

“Tapi dasarnya aku orangnya bodo amatan,” kata Ira. “Berani beda kalau di jalan Allah. Karena prinsipnya: Memang surga yang kasih orang lain? Bukan. Kan, Allah.”

INFOGRAFIK HL Niqab diskriminasi perempuan bercadar


Saya bertemu Fahira di sebuah warung Sunda di Cibubur, Jakarta Timur. Selain dia, ada tiga perempuan yang mengenakan cadar yang menemani kami. Cerita mereka berbeda dengan Ira. Ada yang mendapat tentangan dari keluarga saat kali pertama memakai nikab, menerima cibiran, dan paling sering adalah stigma sebagai “teroris” dari lingkungan sosial. Aktivitas harian mereka kadang diawasi dan dicurigai oleh masyarakat dan bahkan otoritas Indonesia.

Herlina Sari, yang menemani kami, mengisahkan awal mula ia memutuskan bercadar dua tahun lalu, yang ditentang oleh orangtuanya. Lina mengumpulkan seluruh anggota keluarga—Bapak, Emak, dan keenam saudaranya, minus saudara sulung dia yang bekerja di Abu Dhabi. Secara halus ia coba ungkapkan keinginan memakai cadar. Ia justru menerima penolakan keras.

“Kalau lu pakai cadar dan jilbab panjang, pergi lu dari rumah, lu bukan keluarga kita lagi!” ujarnya menirukan pengusiran dari keluarganya.

Tak hanya itu, keluarga Lina membakar seluruh baju dan nikab yang ia punya. Selama hampir setahun ia tak bertegur sapa dengan seluruh anggota keluarga.

Cibiran dan gunjingan dari tetangganya juga bikin ia gerah. “Saya dikata Wahhabi, Syiah, ISIS, teroris, disebarin ke siapa-siapa. Sampai Oktober tahun lalu didatangi polisi, Ketua RW dan RT karena dikira sedang merakit bom,” tuturnya. Wahhabi adalah ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, teolog muslim abad ke-18, yang menekankan puritanisme dalam Islam dan diterima luas di Arab Saudi. ISIS adalah akronim untuk Negara Islam Irak dan Syam.

Pengalaman Lina serupa Iis Isnaini, juga penggiat Komunitas Muslimah Bercadar. Isna harus menerima kenyataan semua kerudungnya digunting oleh orangtuanya, yang memaksanya mengenakan jilbab pendek.

“Mereka bilang, 'Kamu ngapain sih ditutupin? Muka cacat enggak, jelek juga enggak. Orang yang pakai cadar itu yang giginya tonggos. Kamu jadi bikin orang orang mikir gigimu tonggos',” cerita Isna.

Berbeda dari kedua temannya, Ida Mardiana Fitri memutuskan memakai cadar dari rasa malu karena tidak menutupi aurat. Ia pernah mengalami catcalling: seorang sopir truk menggodanya dengan kalimat tak senonoh.

“Dari situ aku merasa malu, tidak beberapa lama aku langsung berhijrah memakai cadar,” kata Fitri. Namun, mendapati perubahan yang drastis pada anak gadisnya, keluarga besar Fitri sempat khawatir.

“Kamu kok seperti ini? Kayak ISIS saja!”

“Gimana makannya?”

“Gimana kalau mau travelling lagi sama kita?”

Beragam tanggapan itu ia terima dari lingkungan terdekat. Saking sering, Fitri akhirnya menegaskan kepada ayahnya untuk meyakini pilihannya.

“Aku enggak mau tiap langkah kaki keluar rumah membuat Bapak makin dekat dengan api neraka. Pokoknya apa yang Bapak dengar tentangku dari orang sekitar, jangan pernah percaya. Aku anak Bapak. Aku enggak bakal macam-macam, aku cuma mau yang terbaik buat Bapak,” katanya, sembari menarik napas panjang. Saat bercerita, Fitri seketika tersedu, yang segera dihibur oleh Fahira.

Di laman komunitas mereka di Facebook, salah satu kisah seperti Fitri, yang semula merasa bimbang dan dikuatkan oleh mereka untuk memutuskan bernikab, diunggah. Postingan itu pada Minggu kemarin, bertempat di sebuah warung di Senayan, Jakarta Pusat. Seorang perempuan muda, mengenakan jilbab sembari kedua tangannya melipat dan menutupi wajahnya, mungkin terharu, tengah duduk di belakang meja dan dipeluk dari belakang oleh seorang penggiat komunitas. Postingan ini disukai 338 akun, dicintai 21 akun, dan ditangisi 17 akun.

Kata-kata yang ditulis: “Rangkul eratlah sahabatmu yang sedang ingin berhijrah, jangan pernah tinggalkan ia, jangan pernah mengasingkan ia, dan jangan pernah menjauh darinya.”

Fahira, yang salah satu aktivitas rutinnya sebagai trainer berwirausaha, mengatakan bahwa komunitas ini dapat saling menguatkan dan, dengan sikap terbukanya, mereka hendak merangkul para perempuan yang sedang “berhijrah”.

Di tengah meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia, dan persentuhan antara kebebasan berekspresi, pembentukan identitas plus perkembangan teknologi, saya kira sangat mungkin jumlah para perempuan yang menjalin diri dalam komunitas bernikab akan terus naik. Ini sejalan pula dengan kecenderungan masyarakat Indonesia di perkotaan yang kian religius sejak 1990-an dan terlebih pasca-Orde Baru—yang tak semata menempatkan diri untuk melawan kekuasaan negara.

“Cadar itu asyik. Ini hanyalah kain hitam yang menutup muka kita. Tidak ada hubungan dengan rezeki dan jodoh. Ini cuma kain. Ini fesyen aku,” ujar Fahira.

Baca juga artikel terkait ISLAM atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight