15 Masjid yang Mengabadikan Cheng Ho di Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 30 Mei 2017
Dibaca Normal 2 menit
Ditemani mayoritas awak kapal penganut Buddha dan Tao, ekspedisi Cheng Ho melayari puluhan pusat kerajaan dan pelabuhan dagang di Asia dan Afrika, membawa pertukaran budaya dan menyebarkan agama Islam.
tirto.id - Sekitar 1383, pada usia 12 tahun, Ma He harus menanggung sengsara. Bersama bocah laki-laki lain, ia mesti jadi tawanan dan kelaminnya dikebiri oleh serdadu-serdadu Dinasti Ming. Ia dibawa ke Nanjing untuk dijadikan pesuruh putra kaisar bernama Zhu Di.

“Sejak berbakti kepada Zhu Di, Ma He memanfaatkan segala fasilitas untuk membaca dan ikut bertempur,” tulis Yuanzhi Kong dalam Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (2000).

Ma He menunjukkan bakat kepemimpinan dan kesetiaannya kepada Zhu Di, yang semula hanya raja bawahan akhirnya menjadi kaisar. Ma He belakangan diberi nama marga Cheng, dan nama Ma He belakangan berubah jadi Cheng Ho.

Tak lama setelah jadi kaisar, Zhu Di memerintahkan Cheng Ho untuk memimpin pelayaran ke arah Nusantara. Tak lupa ia diberi pangkat Laksamana dan wewenang layaknya duta Tiongkok. Namanya kelak kita kenal sebagai Laksamana Cheng Ho.

Dalam pelayarannya, menurut Yuanzhi Kong, “tidak sedikit kaum muslim yang diajak oleh Cheng Ho ke samudera barat (Samudera Indonesia). Di antaranya beberapa tokoh muslim yang berjasa seperti Ma Huan, Guo Chongli, Hasan, Sha'ban, dan Pu Heri.”

Cheng Ho adalah muslim yang taat dan kebanyakan awak kapal yang terlibat dalam pelayarannya adalah penganut Buddha dan Tao. Menurut Hembing Wijayakusumah, "Cheng Ho sudah pasti mengambil inisiatif untuk menyebarkan agama Islam di negara-negara yang dikunjunginya,” termasuk di kawasan Nusantara. Tercatat Cheng Ho melakukan tujuh kali pelayaran besar.

“Sebelum tiba di Jawa, pada 1405, Laksamana Cheng Ho terlebih dahulu singgah di Samudra Pasai. Ia menemui Sultan Zainal Abidin Bahian Syah untuk membuka hubungan politik dan perdagangan. Pada 1407, Laksamana Cheng Ho mampir di Palembang dan menumpas perampok Hokkian. Lalu ia membentuk masyarakat Tionghoa Islam pertama di Nusantara,” tulis Benny Setiono dalam Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2008).

Tak hanya di Palembang, tapi juga di Sambas. Juga Semarang, kota di Jawa yang terkenal disinggahi Cheng Ho. Di sini terdapat kuil atau kelenteng bernama Sam Poo Kong. Nama lain Cheng Ho digunakan untuk menghormatinya.

Tak aneh jika Cheng Ho terkait pula dengan kelenteng, tempat orang Buddha dan Tao beribadah, karena banyak anak buahnya menganut dua kepercayaan itu. Menurut Daradjadi dalam Geger Pecinan: Persekutuan Tionghoa-Jawa melawan VOC (2013), orang-orang Jawa mengenali Cheng Ho sebagai Dompo Awang.

Cheng Ho meninggal dunia pada 1433. Ratusan tahun setelah muhibahnya ke Indonesia, ia masih diingat dan dikenang. Organisasi Islam Tionghoa bernama Persatuan lslam Tionghoa lndonesia—lalu berubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam (PITI)—aktif membangun masjid bernuansa negeri tirai bambu di beberapa kota di Indonesia, yang dinamai dengan nama Cheng Ho atau Cheng Hoo. Salah satu pendiri PITI, Haji Abdul Karim Oey alias Oey Tjeng Hien, dikenal berkat membangun masjid-masjid Lautze pada dekade 1990-an.


Tak jarang, masjid Cheng Ho ditambahi nama depan lagi dengan Muhammad, seperti terdapat di Surabaya. Menurut Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia (2009), “Masjid Muhammad Cheng Ho yang didirikan oleh PITI dibangun dengan gaya Cina, mencontoh Masjid Niu Jie di Beijing. Struktur atapnya membentuk pagoda yang sesungguhnya.”

“Bangunan (Masjid Cheng Ho) ini sebagai pengenang jasa beliau (Cheng Ho), sebagai penghormatan,” ujar Ahmad Haryono Ong alias Ong Kiem Shui, Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya. Masjid ini adalah Masjid Cheng Ho yang paling awal berdiri di Indonesia pada 2002. Cheng Ho tercatat pernah singgah ke Surabaya.

Infografik HL Masjid Di jakarta


Setelah Surabaya, di kota lain yang pernah disinggahi Cheng Ho, seperti Palembang, juga dibangun masjid serupa. Masjid ini mulai digunakan sejak 2006. Selain di dua kota itu, masjid-masjid bernuansa tirai bambu dengan nama Cheng Ho dibangun di kota-kota yang bahkan tidak disinggahi Cheng Ho, seperti di Samarinda dan Balikpapan. Bahkan di kota yang terhitung di masa lalu bukan kota dagang dan terletak di pedalaman atau di selatan Jawa seperti Purbalingga atau Jember, juga berdiri masjid Cheng Ho.

Menurut Ahmad Haryono, masjid-masjid serupa dengan nama "Cheng Ho" atau "Cheng Hoo" tengah dibangun di Deli Serdang dan Jambi, juga rencana serupa di Bangkalan dan Magelang. Di antara masjid-masjid yang sudah berdiri, masjid terbesar Cheng Ho terdapat di Banyuwangi, yang satu kompleks dengan pesantren.

Dana pembangunan masjid-masjid ini tak hanya mengandalkan PITI, tetapi dari dari donatur lain, termasuk dari pemerintah daerah dan pengusaha.

Di Pandaan, Pasuruan, pemerintah daerah berperan dalam pembangunan masjid Cheng Ho. Di Kalimantan Timur, pengusaha Jos Soetomo—salah satu orang terkaya di Indonesia—berperan dalam pembangunan tiga masjid Cheng Ho. Salah satunya yang sudah berdiri di jalan poros Balikpapan-Samarinda. Dua lain, di Samarinda dan Balikpapan, baru peletakan batu pertama.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight