5 April 2005

ZA Maulani: Komandan Intel Era Habibie

Ilustrasi Mozaik Zaini Azhar Maulani. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 5 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Karir militer Maulani mentok di pangdam dan suram pada masa Orde Baru. Pada era Habibie, Maulani menjadi kepala intel.
Masa muda Zen terbilang indah. Dia siswa pintar di sekolah dan sejak kecil suka membaca. Dia memang telat lulus SMA, tapi itu karena dia ikut pertukaran pelajar ke Amerika Serikat.

Seperti banyak pemuda yang tak mau merepotkan kantong orangtua, setelah lulus dari SMA Zen masuk Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang pada 1958 dan jadi taruna yang intelek di sana. Pada akhir 1961, Zen lulus sebagai Letnan Dua Angkatan Darat, dan mengambil kecabangan Infanteri. Bersamanya, di Angkatan 1961 terdapat Letnan Dua Feisal Tanjung, Letnan Dua Kentot Harseno, dan Letnan Dua Sugito.

Kisah cinta pemuda bernama lengkap Zaini Azhar Maulani ini terbilang luar biasa bagi muslim di kampung asalnya di Kalimantan Selatan. Di awal karirnya, dia berhasil mempersunting gadis asal Temanggung yang berbeda agama. Nama gadis itu adalah Retno Intan.

Karir militer Zen dimulai sebagai komandan peleton, Kompi I, Batalyon 145 di Kodam III Sriwijaya, Sumatra Selatan. Dia memelihara kumis ala perwira kolonial ketika menjadi komandan pasukan. Dia tak habiskan karirnya di Sumatra Selatan, pertengahan 1970-an Zen menjadi komandan Batalyon Infanteri 320/Badak Putih di Banten. Pernah juga dia dikirim ke Timor-Timur.

Seperti dicatat Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia?: Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) (1988:195), Zen Maulani kemudian menjadi Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan akhirnya diangkat sebagai Asisten Operasi KSAD sejak 1986. Maulani pernah menjadi bawahan dari Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf, sosok yang mengajarinya untuk loyal dan percaya bahwa apa pun yang dilakukan atasan pastilah bagus.


Sewaktu Jenderal Benny Moerdani masih berjaya di Departemen Pertahanan Keamanan dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Zaini Azhar Maulani merasa orang-orang Islam kurang mendapat tempat. Sepengakuan Zen Maulani dalam Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan dan Tanah Air (2005: 308-309), jumlah perwira Islam yang diterima masuk pasukan elite hanya dua dari sepuluh orang. Itu pun golongan abangan lebih diutamakan ketimbang golongan santri macam dirinya.

Seperti dicatat Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:155), Maulani jadi saksi atas mandeknya karir Feisal Tanjung. Maulani cukup peduli pada karir kawan seangkatannya yang tujuh tahun jadi Mayor Jenderal itu. Belakangan, Maulani berkomentar: alasan kualitas tidak bisa dipakai untuk mendiskualifikasi atau memperlambat karir anak Medan itu. Dalam lakon perseteruan ABRI Hijau vs ABRI Merah Putih, Zen Maulani dan Feisal Tanjung berada dalam kubu ABRI Hijau.

Sebagai penerima penghargaan Kartika Cendikia, Maulani kemudian mengembangkan diri sebagai perwira intelek. Setelah berkarir seperampat abad, pangkatnya naik menjadi Mayor Jenderal pada 1988. Meski katanya banyak orang Islam agak dijauhi Benny, Maulani pernah bekerja di bawah Benny Moerdani, tepatnya di Badan Intelijen Strategis (BAIS).

Zen pernah ditugaskan untuk belajar ke luar negeri, misalnya di Sekolah Staf Komando di Quetta, Pakistan. Dia juga pernah menjadi atase pertahanan di London.


Setelah Jenderal Try Sutrisno menjadi Panglima ABRI, pada 17 Maret 1988 Maulani dilantik sebagai Panglima Kodam VI Tanjungpura yang membawahi seluruh pulau Kalimantan. Dia menggantikan kawan satu angkatannya, Feisal Tanjung, yang karirnya melambat di zaman Benny Moerdani. Kodam IV Tanjungpura punya wilayah teritorial yang luas seperti halnya Kodam Trikora yang membawahi Maluku dan Papua. Baginya ini Kodam tipe C saja. Kata Maulani, “Kodam tipe C tidak terlalu penting dalam perpolitikan Orde Baru." Pernyataan itu benar, tapi tak berlaku pada pundi-pundi duit yang berasal dari kayu dan minyak selama Orde Baru.

Di Kodam yang berpusat di Balikpapan itu, Maulani memimpin hingga 1991. Setelah itu karir militernya tidak lagi bersinar. Pangkat Zen kala itu Mayor Jenderal dan belum masuk usia pensiun. Namun, seperti kebanyakan para perwira, jabatan apapun yang diberikan padanya haruslah diterima sebagai tugas. Cara membuang jenderal salah satunya dengan ditempatkan di jabatan sipil.



Setelah menjadi Panglima Kodam Tanjungpura, Maulani diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Transmigrasi. Di tahun keduanya di Departemen Transmigrasi, kawan seangkatannya Feisal Tanjung diangkat menjadi Panglima ABRI. Pada 1995, Zen Maulani diangkat sebagai staf ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Baharudin Jusuf Habibie, pada 1995.

Pada 1998, Habibie akhirnya jadi wakil presiden, namun menjadi presiden dalam hitungan bulan setelah Soeharto lengser. Tak mau menyia-nyiakan Maulani, Habibie memberikan jabatan penting bagi jenderal intelek yang terbuang di masa Orde Baru ini: Kepala Badan Koordinasi Intelijen (Bakin).

“Maulani yang pandangannya bertambah konservatif, tanpa banyak bicara mencopot senior-senior Bakin yang Katolik dan Kristen (termasuk seorang deputi dan empat direktur),” tulis Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia(2007: 219).

Maulani, masih seperti dicatat Conboy, lebih sering menghadiri acara keagamaan. Selain itu sebagian besar eselon atas Bakin jadi terabaikan sehingga banyak direktorat yang loyo karena kurang perhatian. Meski begitu, menurut Conboy, Bakin di bawah Maulani membangun kerja sama bidang intelijen dengan negara-negara Islam dan Asia Tenggara.

Maulani tidak lama di jadi orang nomor satu di Bakin. Setelah Habibie lengser dan Gus Dur jadi presiden pada 1999, Maulani pun digantikan dari posisinya di era Presiden Abdurachman Wahid (Gus Dur).

Setelah tak lagi menjadi pejabat, Maulani mendekatkan diri ke dunia buku. Buku-buku dengan judul: Merajut Persatuan di Tengah Badai (2005), Mengapa? Barat Memfitnah Islam (2002), Jama'ah Islamiyyah dan China policy (2001), Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia (2002), dan Perang Afghanistan: Perang Menegakkan Hegemoni Amerika di Asia Tengah (2002) ditulis atas nama dirinya.

Tentu saja ditambah otobiografinya sendiri.

Zaini Azhar Maulani wafat pada 5 April 2005, tepat hari ini 15 tahun lalu.


Baca juga artikel terkait TNI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight