Yang Terjadi 6 Tahun Setelah Pertanyaan "Internet Cepat Buat Apa?"

Sejumlah anak menggunakan gawai memanfaatkan fasilitas internet gratis saat belajar di rumah di Desa Kebonrowopucang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2020). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/foc.
Oleh: Ahmad Zaenudin - 14 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Pengguna internet di Indonesia kian meningkat. Ketimpangan akses Jawa dan luar Jawa masih tinggi
Alkisah, pada suatu hari di sebuah negeri yang masuk dalam kategori negara Dunia Ketiga, seorang menteri bertanya kepada rakyatnya: "Tweeps Budiman, internet cepat mau dipakai buat apa?"

Jawaban pun membanjiri twit sang menteri, baik yang serius maupun bercanda. Tak sedikit pula yang kesal. Menteri yang kemudian diketahui bernama Tifatul Sembiring itu memilih menimpali jawaban-jawaban guyon alih-alih yang serius. "Skype-an sama pacar pak," jawab salah satu pengguna twitter. "Ini sama dengan membebani dana saksi kepada APBN," jawab yang lainnya. Ada pula yang nyeletuk: "Main game biar ga ngelag." Pak Menteri pun menimpali: "Astagfirullah!". Ketika muncul jawaban internet cepat dibutuhkan untuk "nonton bokep", pak menteri menimpalinya dengan jawaban canggung terenskripsi ala anak-anak alay di zaman SMS.

"Untung," ucap salah seorang pengguna Twitter lainnya, "Soekarno dan Hatta dulu tidak pernah bertanya: 'kalau kita merdeka, buat apa?'"

Enam tahun berlalu sejak Tifatul Sembiring bertanya di Twitter. Andai saja pertanyaan itu terlontar kembali, jawaban yang paling pas ialah: "internet cepat tidak bisa ditawar". Apalagi, di tengah pandemi Corona yang tengah menimpa dunia, sebagian masyarakat dipaksa untuk bekerja dari rumah. Bahkan, untuk kalangan pelajar, belajar dari rumah merupakan kewajiban. Internet cepat mutlak menjadi kebutuhan pokok saat ini.

Pengguna Internet di Indonesia yang Kian Meningkat

Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2019-2020 (kuartal-2), 196,71 juta dari 266,91 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Dengan kata lain, 73,7 persen populasi Indonesia aktif di dunia maya. Angka tersebut meningkat dari yang dilaporkan survei 2018. Kala itu, jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 171,17 juta dari 264,16 juta jiwa total penduduk Indonesia. Pada 2018, 64,8 persen populasi Indonesia adalah pengguna internet.

Dari 2018 hingga 2019-2020, jumlah pengguna internet Indonesia tumbuh 8,9 persen atau bertambah lebih dari 25,5 juta jiwa.



Yang menarik, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia, merujuk survei APJII, mayoritas ditopang oleh kian masifnya penggunaan ponsel di tengah masyarakat. Dari 7.000 responden yang disurvei APJI, 95,4 persen responden mengaku terhubung dengan internet melalui ponsel. Bahkan, 73,2 persen responden mengaku tidak pernah terhubung pada internet melalui komputer dekstop, dan 63,1 persen responden mengaku tidak pernah menggunakan laptop untuk terhubung dengan internet. Sebanyak 97,1 persen responden mengaku terhubung dengan internet melalui paket data operator seluler. Sayang, ponsel sesungguhnya tidak dirancang untuk bekerja/sekolah dari rumah, yang saat ini jadi kewajiban gara-gara pandemi Corona.

Hasil survei APJII senada dengan data yang dipublikasikan Statista. Merujuk Statista, per April 2020 lalu, tatkala kerja/belajar dari rumah digalakkan, Telkomsel menjadi penyedia internet paling unggul di Indonesia, disusul oleh Indosat Ooredoo. Layanan internet rumahan seperti IndieHome pun kalah.

Fakta ini sesunguhnya tak terlalu mengejutkan. Ananya Bhattacharya, dalam laporannya untuk Quartz (2017), menyatakan Indonesia, India, Filipina, dan Brazil, memang mengutamakan ponsel sebagai medium pengakses internet. Ketika laporan itu dirilis pada 2017, 72,3 persen pengakses internet Indonesia menggunakan ponsel. Karena menggunakan ponsel, kebutuhan akan paket data pun tak terelakkan. Sayangnya, menurut Caesar Sengupta, Vice President Product Management Google yang saya temui lebih dari dua tahun lalu, paket data punya "masalah".

Sengupta menyebut, terdapat empat tantangan terkait paket data, yakni membingungkan, sulit dikendalikan, mahal, dan adanya rasa tak pernah cukup.

“Data mobile hari ini bisa sangat membingungkan," tutur Sengupta dua tahun silam. Lanjutnya, "hari ini mayoritas orang Indonesia adalah pengguna prabayar, (mereka) rutin top-up. Paket data 500 MB apa artinya? Lima video, satu jam browsing. Tidak ada yang tahu pasti apa gunanya. Ini jelas merupakan sumber daya yang mahal. Itulah yang harus mereka keluarkan dan pikirkan," ujarnya.

“Paket data terkadang merupakan sesuatu yang sulit dikontrol. Saya bertemu orang di Bandung, (ia bilang) telpon saya menjilati data (seperti es krim),” terangnya.

Sengupna menerangkan bahwa di negara-negara seperti Indonesia dan India, para pengguna internet acap-kali mengakali penggunaan paket datanya, semisal mengaktifkan mode pesawat, penjadwalan, merasionalkan pemakaian, hingga memilih paket-paket khusus yang disediakan operator. Ini membuat kekuatan internet tidak dapat dimaksimalkan.

Kembali ke hasil survei APJII, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia tahun 2020 disokong terutama oleh penduduk di wilayah Jawa yang menyumbang 56,4 persen penetrasi internet secara nasional. Kontribusi Jawa disusul oleh Sumatera (22,1 persen), Sulawei (7,0 persen), Kalimantan (6,3 persen), Bali dan Nusa Tenggara (5,2 persen), serta Maluku dan Papua (3 persen).



Jumlah pengguna internet di DKI Jakarta tumbuh dari 8,3 juta jiwa menjadi 9 juta jiwa. Sebanyak 28,2 juta jiwa pengguna internet di Jawa Barat di tahun 2018, tumbuh menjadi 35 juta jiwa di survei terbaru APJII. Sementara itu, hanya ada sekitar 300 ribu pengguna internet baru di Papua. Di tahun 2018, jumlah pengguna internet di Papua berada di angka 2,7 juta jiwa. Kini, angkanya mencapai 3 juta jiwa. Lalu, di Papua Barat, jumlah pengguna internetnya kini berada di angka 722,7 ribu jiwa, meningkat dari 564,8 ribu jiwa.

Artinya, ada kesenjangan internet antara Jawa dan non-Jawa, khususnya dengan Papua. Padahal, selepas 74 tahun Indonesia merdeka dari Belanda, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pemerintah Indonesia sukses menyelesaikan konstruksi jaringan tulang punggung (backbone) Palapa Ring paket Timur pada pertengahan Agustus 2019 silam. Pembangunan infrastuktur internet ini tentu ditujukan untuk memberikan akses internet kepada rakyat di wilayah Timur Indonesia.

Sayangnya, tatkala Palapa Ring paket Timur usai dikerjakan, pemerintah Indonesia mematikan internet di sana sekitar akhir Agustus 2019 untuk merespons aksi-aksi protes.

Merujuk pernyataan Johanis Gabriel Fofid, seorang warga Agats sekaligus pegawai Kominfo, di Papua--khususnya di wilayah Agats--terdapat hampir 4.000 pelanggan Telkomsel, satu-satunya operator seluler yang tersedia. Masalahnya, paket internet yang mereka bayarkan dengan harga yang sama--atau bahkan lebih mahal--dibandingkan warga Jawa menghasilkan "lola alias 'loading lambat'. 4G, tetapi rasa 2G,” tutur Johanis, Agustus tahun lalu.



“Kita bagai anak tiri, kalau di Jawa perbedaan (kecepatan internet) terasa sekali. Wah, kita di Papua dengan kekayaan Sumber Daya Alam tidak difasilitasi sarana telekomunikasi yang lebih baik,” tegas John. “Kami bayar sama (dengan pelanggan di Jawa), tetapi yang didapatkan berbeda. Ibaratnya, kami hanya beli loading,” tutur Johanis.

Di tengah-tengah gerakan bekerja/belajar dari rumah, kesenjangan internet yang ada di Indonesia tetap memprihatinkan.

Baca juga artikel terkait INTERNET atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight