Yang Keliru dari Pernyataan Megawati Soal Sumbangsih Milenial

Oleh: Alfian Putra Abdi, Riyan Setiawan - 2 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Demonstrasi adalah wujud sumbangsih itu sendiri untuk memperbaiki kondisi negara.
tirto.id - “Saya mau tanya, hari ini apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi membuat kita sudah viral dan tanpa harus bertatap langsung?” ujar Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam peresmian virtual kantor PDIP pada 28 Oktober 2020.

Pernyataan itu ditujukan langsung kepada Presiden Joko Widodo agar tidak memanjakan generasi milenial.

Tak hanya itu, ia juga menyinggung generasi milenial hanya bisa berdemonstrasi dan merusak fasilitas. “Masa (generasi milenial) hanya demo saja. Nanti saya di-bully ini, tapi saya enggak peduli. Hanya demo saja merusak. Apakah ada aturan dalam berdemo? Boleh saya kalau mau debat,” imbuh Presiden kelima RI itu.

Pernyataan itu kemudian menuai beragam reaksi, Koordinator Pusat Aliansi BEM SI Remy Hastian menilai pernyataan Megawati sebagai Ketum PDIP itu tak elok dengan menyudutkan generasi milenial tidak memiliki sumbangsih dan hanya melakukan demonstrasi.

Dia menegaskan, banyak demonstran yang berjuang menyampaikan aspirasi buruh dan rakyat secara tulus tanpa melakukan perusakan fasilitas.

"Penyataan Bu Mega harusnya lebih elok diksinya, karena apa yang disampaikan, dipertanggungjawabkan di publik. Mereka yang berjuang dengan tulus, mau dibawa ke mana? Kami tak ada keinginan rusuh buat demo, malah disudutkan begitu sama Bu Mega," kata Remy kepada Tirto, Jumat (30/10/2020).

Lebih lanjut, ia menegaskan generasi milenial sangat banyak memberikan sumbangsih di bidang teknologi maupun industri kreatif.

Menurutnya, banyak anak muda yang berhasil menciptakan sebuah terobosan di bidang teknologi. Misalnya saja aplikasi belajar daring Ruangguru yang didirikan oleh Adamas Belva cum mantan Staf Khusus Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kemudian banyak terobosan lainnya di bidang teknologi yang berhasil diciptakan oleh kaum Milenial.

"Jadi jangan sampai egosentris yang dibangun beliau sebagai ketum PDIP," pungkasnya.

Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini juga menegaskan kepada Megawati, bahwa demonstrasi untuk menolak kebijakan pemerintah, seperti Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) merupakan bentuk sumbangsih generasi milenial kepada buruh dan rakyat.

"Jelas, karena demo itu kan tujuannya untuk perbaikan negara ini. Jadi kalau demo itu sumbangsih, memang benar," tegas dia.

Hal senada juga diungkapkan Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin. Menyoal generasi milenial aktif berdemonstrasi, Ujang menilai hal itu sebagai bentuk sumbangsih mereka atas persoalan bangsa saat ini.

“Karena melihat bangsanya karut-marut, maka mereka turun ke jalan untuk meluruskan bangsa,” ujarnya.

Ujang menilai kritik Mega justru lebih tepat ditujukan kepada para Staf Khusus Milenial presiden, yang ia nilai tidak terlihat capaian kerja dan prestasinya. Kehadiran Stafsus Milenial hanya “menjadi beban anggaran negara.”

“Salah alamat, jika kritik Megawati untuk milenial secara umum. Milenial di Indonesia bagus-bagus dan berprestasi,” ujarnya kepada Tirto, Jumat (30/10/2020).

Hal itu diafirmasi Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara yang menilai bahwa citra milenial memburuk saat era Jokowi; karena kasus konflik kepentingan dalam program kartu pra-kerja yang melibatkan Stafsus Milenial.

Alih-alih memajukan integritas generasi milenial, menurutnya pemerintah justru membuat “Milenial yang dekat dengan kekuasaan hanya menjadi alat oligarki.”



Ironi Milenial di Era Jokowi


Bhima Yudhistira menyampaikan bahwa capaian dan prestasi milenial cukup membludak di sektor bisnis startup: unicorn dan decacorn. Capaian tersebut bahkan tanpa bantuan pemerintah. Mereka membangunnya dengan mencari modal dari luar negeri karena kesulitan mendapatkan pendanaan dari BUMN.

“Bayangkan dengan internet kita yang kualitasnya rendah, bisa memproduksi perusahaan skala dunia,” ujarnya kepada Tirto, Jumat.

Alih-alih dimanjakan, menurutnya, Jokowi justru mewariskan tumpukan utang per kepala sebesar Rp 20,5 juta pada 2020 untuk generasi milenial. Lantaran pemerintah fokus mengalokasikan anggaran hanya untuk belanja rutin: pegawai, barang, dan pembayaran bunga utang.

“Di era Jokowi juga ada jutaan milenial yang akan jadi pengangguran baru. Karena industri manufaktur terus loyo,” ujarnya.

Jutaan milenial saat ini tengah berjibaku dengan tingkat konsumsi dan kebutuhan yang tinggi, akan tetapi tidak berbanding lurus dengan kenaikan upah. Kementerian PUPR bahkan mencatat ada 81 juta milenial yang terancam tak mampu membeli rumah.



Menanggapi beragam kritik itu, Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menuturkan maksud dari pernyataan Megawati Soekarnoputri mengandung semangat dari sosok seorang 'Ibu Pejuang' yang terus memikirkan masa depan Indonesia agar generasi milenial tidak dimanjakan.

“Ibu Mega berpesan, bahwa pemuda penentu masa depan bangsa, harus dilihat kekinian, bagaimana para pemuda-pemudi Indonesia menggembleng diri dan kesemuanya digerakkan oleh semangat untuk membawa kemajuan bagi Indonesia Raya”, kata Hasto melalui keterangan tertulisnya, Jumat (30/10/2020).

Meskipun pernyataan Mega berpotensi melukai para milenial. Ujang Komarudin mengimbuhkan, hal tersebut tidak akan memengaruhi kantong-kantong suara PDIP--sebagai partai dengan polesan milenial.

“Tak terlalu berdampak. Karena sudah lama PDIP dekat dengan milenial. Dan banyak kegiatan PDIP yang menggunakan jasa milenial,” ujarnya.



Baca juga artikel terkait GENERASI MILENIAL atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi & Riyan Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan & Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi & Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight