Menuju konten utama

Warga Lubuklinggau Serahkan Beruang Madu Peliharaan ke BKSDA

Satu individu anakan beruang madu yang sempat dipelihara warga Lubuklinggau selama 5 bulan akhirnya dievakuasi BKSDA Sumsel ke PRS Punti Kayu.

Warga Lubuklinggau Serahkan Beruang Madu Peliharaan ke BKSDA
Satu individu anakan beruang madu diserahkan warga Lubuklinggau setelah dipelihara selama lima bulan. FOTO/BKSDA Sumsel
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Selatan menerima serahan satu individu anakan beruang madu dari warga Lubuklinggau. Satwa bernama latin helarctos malayanus itu sebelumnya dipelihara selama lima bulan sejak ditemukan.

Anakan beruang madu tersebut ditemukan warga saat membuka kebun di Lubuklinggau lima bulan lalu. Sejak ditemukan, warga memeliharanya di rumah sehingga menjadi jinak kepada manusia.

Setelah dirawat dalam waktu cukup lama, warga tersebut berencana melepasliarkan, tetapi khawatir kesulitan mencari makan dan ancaman terhadap manusia lain sehingga tetap dipelihara di rumahnya. Tak ingin terlalu lama memelihara, warga akhirnya melapor ke call center BKSDA Sumsel untuk dievakuasi.

Kepala BKSDA Sumsel Daniwari Widiyanto mengungkapkan, tim telah mengevakuasi anakan beruang madu temuan warga untuk mendapatkan penanganan. Saat ini beruang madu telah berada di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu Palembang untuk menjalani pemantauan perkembangan kesehatannya.

"Anakan beruang madu itu ditemukan warga saat buka kebun, lalu dipelihara selama lima bulan dan akhirnya dilaporkan kepada kami untuk diserahkan," ungkap Kepala BKSDA Sumsel Daniwari Widiyanto, Sabtu (24/10/2026).

Anak Beruang Madu

Satu individu anakan beruang madu diserahkan warga Lubuklinggau setelah dipelihara selama lima bulan. FOTO/BKSDA Sumsel

Berdasarkan pemeriksaan awal, anakan beruang madu berusia sekitar satu tahun itu dalam kondisi sehat, tidak ditemukan luka, dan memiliki nafsu makan yang baik. Hasil observasi luar oleh petugas medis juga menunjukkan bahwa satwa memiliki body condition score (BCS) yang baik dan terpantau sangat aktif.

Untuk mendukung kesehatan dan membantu satwa beradaptasi dengan lingkungan rehabilitasi, tim melakukan observasi visual dan pemberian multivitamin. Apalagi beruang madu ini telah cukup lama dipelihara dan terbiasa dengan kehadiran manusia sehingga penanganan lebih lanjut diperlukan untuk menilai kondisi serta kesiapan satwa sebelum menentukan langkah konservasi berikutnya.

"Proses ini menjadi bagian penting agar setiap keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan perilaku alami satwa. Apalagi anakan beruang madu ini sudah jinak dengan manusia," kata dia

Daniwari mengapresiasi langkah warga yang inisiatif menyerahkan satwa dilindungi untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab penanganan satwa liar membutuhkan pengetahuan dan pertimbangan yang tepat, terutama satwa yang sudah cukup lama dipelihara dan terbiasa berinteraksi dengan manusia.

"Melepasliarkan satwa secara langsung tanpa pemeriksaan dan penilaian yang memadai justru berpotensi membahayakan keselamatan satwa itu sendiri. Kami berharap langkah positif warga ini menjadi contoh bagi yang lainnya untuk bersama-sama menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BBKSDA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Reporter: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah