Periksa Data

Virus Corona: Tingkat Fatalitas Rendah, Tetapi Tetap Berbahaya

Oleh: Irma Garnesia - 11 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Tingkat fatalitas virus corona hanya 2,2 persen dan gejalanya tampak seperti flu biasa, tapi ia memakan lebih banyak korban.
tirto.id - Berdasarkan pemantauan per 10 Februari 2020, virus corona telah menyebar ke 29 wilayah di seluruh dunia. Total terdapat 40.533 kasus yang terjadi dalam satu bulan terakhir dan menyebabkan kematian 910 orang. Pemantauan yang dilakukan WHO, CDC, ECDC, NHC, dan DXY dan ditampilkan secara real time oleh John Hopkins CSSE itu juga menunjukkan sebanyak 3.308 orang berada dalam tahap penyembuhan.

Virus corona paling banyak terjadi di Cina dengan 40.157 kasus dan kematian 908 orang. Virus ini juga menyebar ke beberapa negara seperti Thailand (32 kasus), Singapura (43), Jepang (26), Hong Kong (36), Korea Selatan (27), Taiwan (18), Makau (10), Malaysia (18), Vietnam (14), dan Filipina (3).

Meski kasusnya total berjumlah ratusan, kematian akibat corona di luar Cina hanya terjadi pada 2 korban, masing-masing di Hong Kong dan Filipina. Kabar baik lainnya adalah ada 3.287 orang di Cina yang berada dalam tahap penyembuhan. Di luar Cina, ada 21 orang yang berada dalam tahap penyembuhan.


Jika dibandingkan dengan beberapa virus lainnya seperti H7N9 flu burung, MERS, SARS, H5N1 flu burung, dan ebola, corona bisa dianggap tidak begitu berbahaya. Tingkat fatalitas virus ini 2,2 persen—hanya sedikit lebih tinggi dibanding H1N1 yang jumlah kasusnya lebih dari 762.000 dan terjadi di 214 negara.

Masih banyak virus dengan fatalitas lebih tinggi seperti Marberg yang mencapai 80 persen, virus nipah yang mewabah di beberapa negara di Asia pada 2018 dengan fatalitas 77,6 persen, H5N1 dengan 52,8 persen, dan ebola yang jadi epidemi di Afrika dengan fatalitas 40,4 persen.


Perlu diketahui bahwa data di atas tidak memasukkan virus yang ditularkan nyamuk seperti zika, malaria, dan demam berdarah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan corona sebagai darurat kesehatan global pada 30 Januari 2020. Namun hingga saat ini, di tengah penyebarannya yang cepat, virus tersebut belum dianggap sebagai pandemi. Suatu penyakit dikategorikan sebagai pandemi ketika menyebar ke wilayah geografis yang luas, berbeda dengan epidemi yang hanya berdampak di satu kota, wilayah, atau negara.

Tingkat fatalitas virus corona memang hanya 2,2 persen dan berselisih sedikit dengan H1N1 yang ramai sekitar 2008 hingga 2009. Namun, dengan tingkat fatalitas yang rendah, kedua virus ini memakan lebih banyak korban. Seperti dilansir New York Times, sejauh ini para ahli juga belum dapat memastikan seberapa mematikan virus corona.

Infografik Periksa Data Virus Corona
Infografik Periksa Data Virus Corona. tirto.id/Quita


Sementara itu otoritas kesehatan Cina merilis bahwa dua per tiga kasus kematian akibat corona menimpa pria. Lebih dari 80 persen di antaranya berusia di atas 60 dan memiliki riwayat penyakit seperti kardiovaskular atau diabetes. Sehingga kemungkinan kematian sangat ditentukan oleh imunitas seseorang.

Virus corona sendiri tampaknya tidak fatal; gejala yang dialami penderita kurang lebih sama seperti gejala flu. Tapi justru hal itulah yang dikhawatirkan para peneliti. Menurut Jennifer Rohn, ahli biologi dan pakar penyakit pandemi dari University College London, seperti dilaporkan Bloomberg, “Virus ini sangat menakutkan dan mematikan, apalagi jika berada di tempat padat penduduk.”

Virus ini dapat menyebar tanpa dapat terdeteksi, kecuali jika menyerang orang-orang dengan imunitas rendah. Para ahli khawatir akan penyebarluasan virus ini karena bisa tidak terdeteksi di tubuh manusia. Dengan kata lain, orang-orang dapat menjalani rutinitas dengan normal, tetapi diam-diam menyebarkan virus corona. Hal ini tentu membuat penanganan menjadi sulit dilakukan.

Chaolin Huang dan kawan-kawan dalam laporan berjudul “Clinical Features of Patients Infected with 2019 Novel virus corona in Wuhan, China” menyebut penderita virus corona pertama, yang baru diketahui pada 12 Desember 2019, tidak memiliki riwayat mengunjungi pasar tradisional di Wuhan yang menjadi tempat virus berasal. Dari 41 kasus terawal, hanya 27 di antaranya yang memiliki riwayat mengunjungi pasar tradisional. Terakhir, istri dari korban tewas pertama terjangkit virus meskipun tidak pernah berkunjung ke pasar tradisional.

Secara sederhana, penyebaran virus corona antarmanusia sudah terjadi sejak kasusnya pertama kali ditemukan. Sayangnya, Cina terlambat mengumumkan masalah ini ke dunia internasional.

Hal serupa juga ditulis Qian Sun dalam laporan bertajuk “Why the Coronavirus crises is getting out of control in China?” Laporan itu menunjukkan bahwa birokrasi; hierarki publikasi informasi yang rumit, khususnya terkait informasi sensitif; dan pentingnya menjaga stabilitas sosial justru menjadikan pemerintah Cina lamban menangani virus corona.

Saat ini Cina berada dalam pemantauan ketat terkait cara menangani corona. Negeri tirai bambu itu juga dikritik karena menutupi krisis ini pada awal kemunculannya. Pemerintah Cina sendiri telah mengakui kekurangan dan respons lambat mereka.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight