Varian Virus Corona B117: Gejala dan Cara Mencegah Penularannya

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 4 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Varian B.1.1.7 memiliki 23 perubahan jika dibandingkan dengan virus asli Wuhan.
tirto.id - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan bahwa saat ini varian baru dari virus Corona (Sars-CoV-2) asal Inggris atau yang biasa disebut B.1.1.7 sudah masuk Indonesia.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian dari 426 spesimen selama beberapa bulan terakhir menunjukkan 2 di antaranya mengarah pada varian B.1.1.7.

Ia mengatakan 2 kasus itu ditemukan pada Senin malam, 1 Maret 2021 dan ini menjadi masalah tersendiri karena Indonesia akan semakin berat dalam menghadapi COVID-19.


"Artinya kita akan menghadapi pandemi ini dengan tingkat kesulitan yang semakin berat," kata Dante dalam peringatan 1 tahun pandemi Covid-19 bertajuk "#InovasiIndonesia untuk Pulih Pascapandemi" pada Selasa (2/3/2021).

Lantas apakah gejala B.1.1.7 sama seperti COVID-19 pada umumnya?

Gejala Infeksi Varian Baru Corona B.1.1.7

Mengutip laporan epidemiologis WHO yang dirilis pada pekan terakhir Februari 2021, varian B.1.1.7 asal Inggris diduga memiliki tingkat penularan lebih tinggi, sekaligus memperbesar potensi gejala berat hingga kematian. Namun, dugaan itu masih terus dikaji dalam serangkaian studi yang masih berjalan.

Masih merujuk laporan WHO, hasil studi sementara juga memperlihatkan varian B.1.1.7 tidak terlalu berdampak kepada kualitas vaksin Moderna, vaksin Pfizer, dan vaksin AstraZeneca.

Sedangkan berdasarkan data laporan European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) keluaran 21 Januari 2021, varian B.1.1.7 diperkirakan lebih menular 36-75 persen dibanding varian lainnya. Perkiraan itu merupakan hasil studi pemodelan di Inggris dan Denmark.

Namun, laporan ECDC menyebutkan belum ada indikasi bahwa infeksi B.1.1.7 berhubungan dengan gejala klinis yang lebih parah dibandingkan dampak infeksi varian Corona lainnya.

Dalam pemberitaan BBC akhir Januari 2021 lalu, Prof Lawrence Young, ahli virologi dan profesor onkologi molekuler di Universitas Warwick, mengatakan varian B.1.1.7 memiliki 23 perubahan jika dibandingkan dengan virus asli Wuhan.

"Beberapa perubahan di berbagai bagian virus ini bisa mempengaruhi tanggapan kekebalan tubuh dan juga mempengaruhi berbagai gejala yang terkait dengan infeksi," kata Lawrence.

Dia menambahkan, karena orang yang terinfeksi varian B.1.1.7 kemungkinan memiliki virus lebih banyak (viral load) maka infeksi lebih luas di tubuh bisa saja terjadi. "Mungkin menyebabkan lebih banyak batuk, nyeri otot, dan kelelahan," ujar dia.

Analisis Lawrence Young tersebut merupakan bagian dari studi jangka panjang untuk melacak virus Corona di populasi Inggris, yang dilakukan bersama dengan Public Health England, University of Oxford, dan University of Manchester.

Mengenai ragam gejala yang diakibatkan infeksi varian B.1.1.7 memang belum mengindikasikan ada jenis baru. Namun, hasil survei Badan Statistik Nasional (ONS) Inggris yang dirilis di akhir Januari lalu menyimpulkan ada gejala tertentu yang lebih sering muncul pada kasus infeksi B.1.1.7.

Survei ONS menunjukkan mereka yang terinfeksi varian B.1.1.7 lebih cenderung mengalami batuk terus-menerus, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan demam dibandingkan dengan mereka yang terenfeksi varian awal virus Corona.

Menariknya, tidak banyak pasien terinfeksi varian B.1.1.7 yang melaporkan gejala hilangnya indera perasa atau penciuman.

Survei ONS melihat gejala yang dilaporkan oleh orang-orang hingga seminggu sebelum dinyatakan positif terinfeksi B.1.1.7, dan membandingkannya dengan mereka yang terinfeksi varian lama.

Ada sekitar 3.500 orang yang terinfeksi varian B.1.1.7 dan 2.500 lainnya terkena infeksi varian lama terlibat dalam survei ini. Mereka menjalani tes Covid-19 antara November 2020 dan Januari 2021.

Berikut daftar gejala Covid-19 pada 3.500 orang yang terinfeksi varian baru (B.1.1.7):
  • 35% mengalami batuk
  • 32% mengalami kelelahan
  • 25% mengalami nyeri otot dan nyeri
  • 21,8% mengalami sakit tenggorokan
  • 16% mengalami kehilangan indera perasa
  • 15% kehilangan indera penciuman.
Adapun daftar gejala pada 2.500 orang yang terinfeksi varian lama ialah:
  • 28% mengalami batuk
  • 29% mengalami kelelahan
  • 21% mengalami nyeri dan nyeri otot
  • 19% mengalami sakit tenggorokan
  • 18% kehilangan indera perasa dan penciuman.
Tony Moody, M.D, seorang spesialis penyakit menular di Duke Human Vaccine Institute di Duke University Medical Center, mengatakan tidak mengherankan bahwa varian baru akan menyebabkan gejala yang agak berbeda dibandingkan dampak infeksi varian lama.

"Varian baru memiliki perubahan dalam kode genetiknya yang akan menghasilkan protein yang dibangun secara berbeda, dan itu dapat mengubah cara virus berinteraksi dengan tubuh," katanya.

Moody mencatat hasil survei ONS di Inggris menunjukkan tidak ada gejala baru yang dilaporkan oleh pasien yang terinfeksi varian B.1.1.7. Maka itu, masih terlalu dini menyimpulkan bahwa infeksi B.1.1.7 memicu perubahan gejala yang signifikan, jika melihat data dari survei ONS.

"Jika tiba-tiba gejala baru muncul atau hilang sama sekali, barangkali itu lebih memprihatinkan,” ujar Moody, seperti dikutip dari laman AARP.

Cara mencegah penyebaran dan penularan mutasi virus Corona B.1.1.7


Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini pemerintah melalui Kemenkes sudah membuat langkah-langkah untuk mencegah penyebaran mutasi virus Corona B.1.1.7 di Indonesia.

"Tentunya penguatan '3M' (protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Deteksi dini dengan penguatan testing, peningkatan pelacakan kasus dan isolasi," kata Nadia, melansir Antara.

Dia juga menjelaskan vaksin yang sekarang digunakan pemerintah masih efektif untuk mencegah penularan mutasi virus itu. Meski pemerintah sedang mempercepat vaksinasi, dia berharap masyarakat juga semakin meningkatkan kewaspadaan.

Nadia menjelaskan satu-satunya cara untuk mencegah penularan virus adalah dengan protokol kesehatan "3M plus" menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.

"Virus ini lebih cepat menular, tapi tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit," ujar Nadia.

Sementara itu, Epidemiolog Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada dr Riris Andono Ahmad juga mengatakan masyarakat harus merespons mutasi virus Corona dengan pengetatan penerapan protokol kesehatan.

"Tetap melakukan '5M' dengan konsisten," ucap Riris.

Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menilai masyarakat harus mengetahui di mana kasus mutasi virus itu ditemukan.

"Kan cuma dua kasus. Pemerintah harus memberitahu supaya hati-hati," kata Tri Yunis.

Menurutnya, pemerintah harus segera mengisolasi warga yang terkena mutasi virus itu, kemudian melakukan kontak tracing terhadap kasus tersebut, semua orang yang sempat berhubungan dengan dua pasien harus diperiksa.

Pemeriksaan genetik juga penting, kemudian kalau sudah dianggap menyebar, segera lakukan pembatasan sosial terhadap masyarakat di sekitar itu. Tri Yunis, mengatakan masyarakat tidak perlu panik berlebihan.

"Masyarakat jangan terburu-buru panik. Tunggu hasil investigasi kasus oleh pemerintah," ujar Tri Yunis.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONAB117 atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight