Utang Luar Negeri RI pada Mei 2020 Naik Lagi Jadi 404,7 Miliar USD

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 18 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Utang luar negeri Indonesia ini disumbang oleh sektor publik (pemerintah dan Bank Sentral) sebesar 194,9 miliar dolar AS dan sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 209,9 miliar dolar AS.
tirto.id - Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Mei 2020 sebesar 404,7 miliar dolar AS. Angka ini naik dibanding April 2020 lalu 400,2 miliar dolar AS. Posisi ULN Indonesia saat ini berada di kisaran 36,6 persen dari PDB meningkat dari bulan sebelumnya 36,2 persen PDB.

Utang luar negeri ini disumbang oleh sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar 194,9 miliar dolar AS dan sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 209,9 miliar dolar AS.

“Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2020 sebesar 2,9 persen yoy,” kata Kepala Departemen Komunikasi Onny Widjanarko dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2020).

Lebih rincinya, ULN pemerintah naik 3,1 persen yoy sehingga menjadi sebesar 192,1 miliar dolar AS. Kenaikannya dipengaruhi oleh penarikan utang melalui Surat Berharga Negara (SBN). Di sisi lain, tambahan ini juga terjadi seiring turunnya tingkat imbal hasil SBN.

Penggunaan ULN pemerintah ini terdiri atas beberapa sektor. Antara lain jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,4 persen persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (16,3 persen), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,6 persen), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6 persen).

Selanjutnya ULN swasta pada akhir Mei 2020 tumbuh sebesar 6,6 persen yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 4,4 persen yoy.

ULN lembaga keuangan tercatat menurun 0,8 persen yoy. Sementara itu perusahaan bukan lembaga jasa keuangan justru naik 8,9 persen yoy.

“Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,3 persen dari total ULN swasta, adalah sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pertambangan dan penggalian, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), dan sektor industri pengolahan,” ucap Onny.






Baca juga artikel terkait UTANG INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight