Upaya Raja-raja Jawa Menundukkan Perempuan lewat Sastra Misoginis

ilustrasi siluet perempuan dengan kebaya dan konde. FOTO/tirto.id
Oleh: Indira Ardanareswari - 27 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Raja-raja Jawa yang impoten secara politik menyalurkan sisa-sisa kekuasaan mereka lewat imajinasi seksual.
Meski tua jantanku masih kencang
Orang istri sepasar sama jadi gempar
Lebé Lonthang menyerang ngajak sodok-sodokan

Adegan yang dinyanyikan lewat tembang tradisional Jawa berjudul Suluk Lonthang itu kemudian bergerak menuju permainan seksual (sodok-sodokan). Seorang petugas agama desa bernama Lebé Lonthang dikisahkan mencoba memaksakan nafsunya kepada para perempuan pasar di siang bolong. Meski sudah tua dan beristri, dia masih menginginkan gadis perawan lewat ritual perkawinan yang dianggapnya sakral.

Para perempuan berusaha melindungi diri dari amukan seksual Lebé Lonthang. Dipimpin oleh seorang perempuan penjual kue bikang, mereka melempari si gila Lonthang menggunakan barang-barang yang ada. Namun, Lebé Lonthang bergeming, nafsu seksnya justru semakin menjadi.

Lebé Lonthang zakarnya makin tegak
Tidak melemah malah berang menyerang
Penjual bikang lari terjatuh terpelanting ke belakang
Lebé Lonthang bersuka ria menarikan tayungan

Lebé Lonthang dan perempuan penjual bikang adalah tokoh fiksi yang direka oleh pujangga Keraton Surakarta pada abad ke-19. Ahli naskah-naskah kuno Jawa di Universitas Michigan, Nancy Florida, memperkirakan naskah tertua yang ada saat ini merupakan salinan yang ditulis pada tahun 1867 untuk dipersembahkan kepada penguasa Surakarta, Susuhunan Pakubuwono IX (1861-1893).

Unsur profan dan erotis, menurut Florida, bukanlah hal yang asing dalam sastra Nusantara klasik. Keraton Surakarta abad ke-19 yang dikenal juga sebagai pusat renaissance kesusastraan Jawa sudah melukiskan hubungan seksual dengan cara yang menggebu.

Namun demikian, ungkapan seksual yang berlebihan dan terkadang penuh humor dalam sastra Jawa bukan tanpa latar belakang. Di tengah pengaruh Islam yang semakin meningkat, gairah kaum lelaki “menjebol benteng perempuan” dalam beberapa jenis sastra Jawa justru menjadi bagian fundamental. Florida menandainya sebagai babak awal politik seksual di kerajaan-kerajaan Jawa.


Imajinasi Seks dalam Sastra Elite Laki-laki

Sejak raja-raja Mataram masih berkuasa ratusan tahun silam, sastra hampir selalu menjadi hak istimewa kaum laki-laki. Pada permulaan abad ke-19, Ronggowarsita dikenal sebagai pujangga paling berpengaruh di Keraton Surakarta dan seluruh Jawa. Menjelang kematiannya pada paruh kedua abad yang sama, sastra Jawa sudah berhasil membuktikan betapa elite kehidupan bangsawan Jawa kala itu.

Sastra Jawa abad ke-19 yang ditulis oleh pujangga keraton pada umumnya menceritakan garis keturunan kerajaan beserta filosofi dunia Jawa tradisional yang amat kompleks. Di antara sastra Jawa yang populer pada masa itu terdapat jenis sastra piwulang atau wulang, yakni sastra berbentuk tembang yang berisikan pengajaran moral untuk membentuk manusia ideal. Bagi perempuan, pengajaran yang sama didapat dari puwulang estri atau piwulang putri.

Guru besar Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, Alexander Sudewa, memaparkan dalam Serat Panitisastra: Tradisi, Resepsi, dan Transformasi (1991: 47) bahwa pada hakikatnya sastra piwulung estri ditulis dengan mempertimbangkan keistimewaan fungsi reproduksi perempuan. Dalam kehidupan pernikahan bangsawan Jawa, peranan perempuan sebagai ibu yang menurunkan calon raja baru menuntut mereka memiliki kualitas yang baik secara fisik dan moral, serta setia kepada laki-laki.

Soal kehormatan perempuan Jawa, Nancy Florida memiliki pembacaan yang berbeda. Dalam salah satu bab di bukunya yang berjudul Jawa-Islam di Masa Kolonial: Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa (2020: 115), Florida memaparkan kecenderungan politis sastra piwulang periode Surakarta yang lahir dari hasil pertentangan gender di kalangan bangsawan Jawa abad ke-19. Lebih jauh Florida menyebutnya sebagai peperangan seks atau sex wars.

“Sebetulnya, tak secara sungguh-sungguh ditulis dalam ungkapan perang, karena karya-karya ini malah menuliskan relasi gender sebagaimana penulis laki-laki itu membayangkan sebuah perang di mana mereka telah menang--pasukan penjajah laki-laki yang dengan penuh kemenangan mendidik kaum perempuan yang telah takluk,” papar Florida.

Jenis sastra ini biasanya berusaha mamaksakan standar harkat hidup perempuan yang ditulis berdasarkan perspektif dunia fantasi laki-laki yang menghendaki dominasi. Di dalamnya terkandung unsur-unsur seksualitas perempuan yang dipaparkan di bawah ideologi kontrol laki-laki demi menaklukkan sifat keras perempuan. Florida malah secara spesifik mencatat piwulung estri sebagai karya sastra yang memuat pesan misoginis.

“Ditulis dengan suara laki-laki yang mengintimidasi, piwulang ini ditujukan kepada perempuan ideal yang telah tunduk dengan ajaran yang dimaksudkan untuk menanamkan dan memaksakan pada elite perempuan Jawa suatu gagasan istri ideal yang mereka (laki-laki) bayangkan,” lanjutnya.

Perang Jawa yang berakhir pada 1830 secara tidak langsung melambungkan popularitas penulisan sastra bergenre piwulang. Pada periode itu, kekuasaan bangsawan Jawa direduksi habis-habisan dan menyisakan komando tertinggi di tangan Belanda. Raja-raja Jawa yang mengalami impotensi secara politik terpaksa menyalurkan sisa-sisa kekuasaan mereka lewat imajinasi seksual.

Menurut Florida, pada masa pemerintahan Pakubuwono IX kecenderungan ini semakin terlihat dari kebiasaan para pujangga keraton melantunkan tembang-tembang tentang kejantanan kaum laki-laki lewat karya sastra. Mereka dengan semangat mengeksploitasi keunggulan seksualitas sang raja yang konon mampu memuaskan hasrat seks seluruh perempuan di Tanah Jawa, dari elite perempuan pribumi sampai nyonya-nyonya Eropa.

Perihal kemerosotan wibawa politik itu diamini oleh Sudewa dalam disertasinya di Universitas Gadjah Mada (1989, PDF). Dia menuliskan bahwa ada perbedaan mendasar antara sastra piwulang yang ditulis sebelum dan sesudah periode Kasunanan Surakarta. Lebih jauh Sudewa menulis, “genre sastra piwulung terasa terjadi perubahan sikap yang mungkin terjadi akibat kemerosotan politik keraton.”


Upaya Menundukkan Perempuan

Erotika pada periode keemasan sastra Jawa memang tidak pernah jauh dari pengaruh pangeran Surakarta yang bernama Raden Mas Duksina. Jelang pertengahan abad ke-19, sang pangeran dikisahkan mengalami kegagalan asmara dengan cinta pertamanya yang kemudian mendorongnya menulis puisi erotis dan tarian sakral keraton.

Imajinasi seksual pangeran muda itu pada awalnya dibuat sekadar mengobati patah hatinya kepada Gusti Sekar Kedaton yang tidak lain adalah sepupunya sendiri. Sekar Kedaton disebutkan bersikap kukuh menolak imperialisme Belanda di kerajaan-kerajaan Jawa. Dia bahkan menghendaki kekuasaan setingkat raja demi memenuhi angan-angannya mengembalikan kekuasaan pribumi dengan berkeras menolak dimadu oleh Duksina yang kelak bergelar Pakubuwano IX.



Pada 1863, setelah hampir 20 tahun mengejar Sekar Kedaton, Pakubuwono IX mengakui kegagalannya meminang sang putri yang saat itu sudah berusia 35 tahun. Di saat keputusan untuk menyerah itu timbul, dia dengan semangat memerintahkan para cariknya untuk membuat salinan manuskrip puisi yang berjudul Serat Murtasiyah. Naskah panjang yang diperkirakan pertama kali ditulis pada awal abad ke-19 itu ditulis ulang ke dalam dua jilid yang masing-masing memiliki tebal 448 halaman.

“Puisi ini memaparkan kisah yang fantastis dan teladan atas seorang perempuan istri Jawa sempurna, yaitu peranan yang justru ditolak Sekar Kedaton,” ungkap Florida.

Menurut pembacaan Florida, Serat Murtasiyah mengisahkan kehidupan pernikahan Murtasiyah, putri cantik dan cemerlang dari seorang kyai di Pesantren Wanasari, dengan santri kelana yang juga pandai ilmu agama. Murtasiyah sempat menolak pinangan lelaki itu karena masih ingin mendalami ilmu agama seorang diri, akan tetapi takluk juga setelah dinasihati sang ayah.

Kisah Murtasiyah dipenuhi dengan pesan dan petunjuk menjadi istri setia bahkan ketika sang suami beberapa kali melakukan kekerasan. Akhir dari perjalanan Murtasiyah menunjukkan betapa seorang perempuan harus menerima seburuk apapun takdir pernikahan dengan lapang dada agar tidak mencoreng nama suami dan orang tua.

Sejak abad ke-15, elite perempuan Jawa memang sudah terkenal tangguh, cakap soal perdagangan, dan tidak buta politik. Sejarah mencatat, beberapa di antara perempuan bangsawan yang tergabung dalam angkatan bersejata keraton disebutkan pandai menghunuskan tombak dan pernah mencicipi suasana perang. Setelah Perang Jawa berakhir, resimen kawal perempuan ini berubah menjadi sekadar simbol upacara kerajaan.

Seperti halnya kisah Murtasiyah, pada akhirnya Sekar Kedaton yang perkasa dan punya harga diri tinggi pun jatuh juga ke pelukan Pakubuwono IX. Pada 1887, enam tahun sebelum sang raja tutup usia, Sekar Kedaton yang sudah hampir menginjak usia 60 tahun dinobatkan menjadi permaisuri dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu Pembayun. Bukan tidak mungkin jika pengangkatannya ini menimbulkan kecemburuan di kalangan istri dan selir raja.

Selain Pembayun, beberapa di antara 53 istri dan selir Pakubuwano IX pada dasarnya adalah perempuan-perempuan yang pernah mandiri. Karakter perkasa, penuh ambisi, dan cerdas ini justru dianggap bisa mengacaukan keseimbangan pernikahan poligami bangsawan--yang umumnya dibangun atas dasar kepentingan politik--seiring timbulnya konflik di antara para selir. Dalam situasi seperti ini sastra menjadi alat mujarab bagi penguasa untuk mengatur perilaku istri-istri mereka.

“Perlawanan mereka (perempuan) kepada ideologi dominan laki-laki tampaknya memunculkan kecemasan yang memicu suami mereka menulis dan menuliskan kembali pelajaran penuh khayal kebahagiaan poligami di bawah suatu kekuasaan laki-laki yang seakan-akan ditakdirkan,” papar Florida.

Baca juga artikel terkait SEJARAH JAWA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Irfan Teguh
DarkLight