Transformasi Perbankan yang Berawal dari Bencana Gempa Bumi

Kontributor: Tyson Tirta, tirto.id - 2 Nov 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Transformasi perbankan terjadi seiring perubahan arus informasi dan perkembangan teknologi.
tirto.id - Kemunculan sejumlah bank digital di Indonesia tidak lepas dari semakin cepatnya arus informasi dan perkembangan teknologi. Perlahan peran bank konvensional yang mengandalkan kehadiran fisik dan layanan langsung di kantor-kantor cabang, digantikan oleh layanan virtual yang hadir dalam bentuk aplikasi di smartphone.

Kini, para nasabah dan calon nasabah bisa membuka rekening, mengirim uang, dan menikmati layanan perbankan lainnya dari mana saja selama ada jaringan internet yang stabil.

Para ahli memprediksi di masa depan layanan bank virtual akan terus tumbuh, meski ada juga dugaan bahwa hanya segelintir bank virtual yang akan bertahan di tengah kerasnya persaingan memperebutkan nasabah.

Satu hal yang pasti, seiring waktu, dunia perbankan terus bertransformasi guna memberikan layanan cepat, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Transformasi Bank of Italy menjadi Bank of America pada awal 1930 merupakan satu contoh upaya bank untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi-politik di masa itu.

Dalam sejarah bank di Amerika Serikat, nama Amadeo Peter Giannini punya posisi penting. Anak keturunan Italia yang lahir di negara bagian California itu mendirikan bank kecil-kecilan di usianya yang baru 34 tahun.

Kala itu, Giannini memulai aktivitasnya dengan memenuhi kebutuhan perbankan bagi komunitas imigran Italia di sekitar North Beach, San Francisco. Ia melihat kebutuhan masyarakat kecil karena umumnya bank-bank besar hanya melayani bisnis besar dan menerima simpanan uang bagi mereka yang tergolong kaya raya.

Dengan semboyan “melayani orang kecil”, bank yang didirikan Giannini berkembang menjadi apa yang kini dikenal sebagai Bank of America.


Batu loncatan dalam bisnis perbankan Giannini dimulai ketika bencana gempa bumi di San Francisco melanda. Kehidupan ekonomi wilayah itu mendadak kacau balau. Masyarakat yang tertekan kemudian menjarah bank-bank besar.

Melihat situasi makin tak terkendali, Giannini dengan sigap memindahkan setidaknya 80 ribu dolar AS ke luar kota. Koin-koin emas bahkan harus disembunyikan di bawah peti jeruk agar selamat dari para penjarah. Ketika situasi perlahan mulai terkendali, ia mulai mendirikan bank darurat di dermaga North Beach.

Berbagai jenis pinjaman modal diberikan Giannini kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi. Langkah itu rupanya diikuti oleh bank-bank lain. Jumlah pinjaman yang besar itu terbukti berhasil mendongkrak perekonomian San Francisco yang morat-marit setelah bencana.

“Dalam beberapa pekan setelah pembukaan kembali Bank of italy, bank besar lain mulai meminjamkan jutaan dolar dan terbukti berhasil merekonstruksi kota,” tulis Louise Chipley Slavicek dalam The San Francisco Earthquake and Fire of 1906 (2008:98)

Pinjaman bagi Rakyat Kecil

Sebelum mendirikan bank, Giannini sudah akrab dengan ilmu bisnis dan finansial. Ayahnya yang imigran Italia meninggal ketika Giannini baru berusia 7 tahun. Ia kemudian diasuh oleh ayah tiri yang kaya raya. Di usia 21, ia telah mewarisi setengah bisnis ayah tirinya.

Ketika menikah dengan seorang perempuan dari keluarga yang juga kaya raya, ia menginvestasikan uangnya di bisnis properti. Hal itu memungkinkan Giannini untuk "pensiun" pada usia yang relatif sangat muda: 31 tahun.

Tapi niat pensiun dini itu harus batal. Mertuanya meninggal tak lama kemudian. Dengan warisan harta yang cukup besar termasuk jabatan direktur di bank kecil di San Francisco, ia harus kembali mengurus bisnis. Jabatan direktur bank itulah yang meyakinkannya untuk mendirikan bank.

Bank peninggalan mertuanya itu menolak untuk memberikan pinjaman kepada rakyat kecil. Seluruh jajaran direksi selain Giannini yakin bahwa meminjamkan uang kepada rakyat kecil hanya akan membawa kerugian.

Padahal, ia yakin bahwa para imigran kelas pekerja di San Francisco adalah orang-orang yang punya potensi besar dan bisa mendongkrak perekonomian mereka secara makro jika diberikan akses permodalan yang baik.

Hingga 1904, secara umum kinerja perbankan di San Francisco telah dikenal buruk. Apalagi, bank milik Giannini justru meminjamkan uang pada rakyat kecil yang pada masa itu dianggap tidak biasa, bahkan hampir tabu. Dalam keadaan seperti itu, Giannini nekat menjual 3000 lembar saham banknya.

Saham itu sebagian besar dijual kepada investor kecil dengan aturan tidak ada yang diizinkan membeli lebih dari 100 lembar. Berbagai kebijakan lain pun membuatnya semakin dikenal sebagai bank paling kontroversial di AS.


Infografik Mozaik Bank Of America
Infografik Mozaik Bank Of America. tirto.id/Tino


Membiayai Produksi Walt Disney dan Investasi Lain

Meski kontroversial, pada 1910 Bank of Italy telah membukukan aset senilai 6,5 juta dolar. Sepuluh tahun kemudian, aset itu berkembang menjadi 157 juta dolar. Angka itu jauh melampaui bank-bank lain di California.

Bisnis perbankan Giannini menemui hambatan kecil ketika negara bagian California memberlakukan aturan Federal Reserve yang baru. Dengan aturan ini, bank-bank tidak diizinkan membuka kantor cabang.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Giannini mengonsolidasikan pendirian bank-bank baru yang terpisah dengan banknya di California. Semua bank itu beroperasi di bawah naungan konsorsium baru bernama Banca Italy. Ketika aturan itu dihapus pada 1927, konsorsium Giannini disatukan dengan nama Bank of America of California.

Kesuksesan Giannini setelah gempa 1906 mulai menyadarkan para bankir di AS mengenai pentingnya investasi. Bank of Italy yang sudah memiliki banyak nasabah mulai berekspansi ke kota-kota kecil lain di California.

Di sisi lain, investasi terus dilakukan di berbagai sektor, mulai dari membiayai pembangunan Golden Gate, menambah modal produksi anggur California, hingga menyuntikkan dana ke Walt Disney untuk menutup ongkos produksi film Snow White.

Sebagai anak keturunan imigran Italia, Giannini bahkan ikut mengatur pinjaman modal untuk membiayai pembangunan kembali pabrik mobil Fiat di Italia yang hancur akibat Perang Dunia II.

Investasi di berbagai sektor itu makin memopulerkan Bank of America. Giannini pun semakin jauh terlibat dalam aktivitas finansial di Federal Reserve, Wall Street, J.P. Morgan, dan lain-lain.

Pada abad ke-21, transformasi Bank of America juga dilakukan dengan mengadaptasi teknologi terkini seperti sistem pembayaran online dan internet banking. Pada 2016, mereka telah merilis 8.500 mesin ATM yang bisa digunakan tanpa kartu.

Baca juga artikel terkait PERBANKAN atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Ekonomi)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight