Tom Cruise Menolak Tua

Aktor Tom Cruise saat premiere film "The Mummy" di New York, AS (6/6/2017). FOTO/REUTERS/Lucas Jackson
Oleh: Nuran Wibisono - 26 Agustus 2017
Dibaca Normal 4 menit
Koleksi film aksinya semakin banyak semenjak 7 tahun terakhir, di usia orang-orang mulai berpikir pensiun.
Bagi manusia kebanyakan, usia 55 adalah saat untuk mengendurkan tuas gas. Hidup jadi lebih santai. Usia 55 menyadarkan bahwa marah dan kecewa adalah perbuatan sia-sia. Jika masih sehat, yang paling masuk akal adalah menikmati hari tua. Memelihara burung merpati, merawat taman, atau piknik tiap akhir pekan.

Di usia 55, manusia kebanyakan punya banyak waktu dan uang untuk melakukan hal yang disuka. Ironisnya, ada hal yang tak lagi dipunya: energi. Setidaknya tak melimpah seperti saat Anda berusia 20-an.

Namun, Tom Cruise bukanlah manusia kebanyakan.

Tahun ini, Cruise sudah berusia 55. Ia masih bermain tembak-tembakan, meloncati gedung tinggi, dan melawan Ratu Ahmanet yang sudah jadi mumi. Dalam The Mummy yang dirilis pada Juni 2017 itu, Cruise memerankan Sersan Nick Morton, sang pahlawan. Film ini dianggap buruk secara kualitas, tapi bisa menjaring uang amat besar, setidaknya $407 juta dari pemutaran di seluruh dunia. Dari film itu, penggemar tahu: Cruise sama sekali ogah mengendurkan tuas gas.

Baca juga
: Seluk Beluk Teknologi CGI Untuk Memoles Film

Pada September 2017 nanti, Cruise akan membintangi American Made. Film ini berkisah tentang Barry Seal (diperankan oleh siapa lagi kalau bukan oleh Cruise), mantan pilot penerbangan komersial yang kemudian beralih menjadi penyelundup narkoba di titimangsa 1980-an. Jika melongok iklannya, film ini juga dipenuhi letupan adrenalin Cruise. Ia tak tampak seperti pria berusia 55 yang bisa mati kapan saja karena serangan jantung.

Di satu adegan, Seal yang membawa ratusan kilogram kokain menolak untuk disuruh mendarat oleh polisi udara. Ia memilih menukik dan mendarat di jalan umum. Sayap patah karena menabrak pohon, dan sang bintang utama keluar dari pesawat dengan bubuk kokain yang menyelimuti badan.

American Made disutradarai oleh Doug Liman, yang pernah bekerja bareng Cruise di Edge of Tomorrow (2014). Mengintip potongan iklan film ini, ditambah dengan portofolio Liman yang juga menyutradarai The Bourne Identity (2002) dan jadi produser eksekutif kuartologi Bourne berikutnya, sudah bisa dipastikan film ini akan penuh adegan aksi dan api.

Aktor Lintas Genre

Jika dibandingkan dengan, katakanlah, Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, juga Jackie Chan, Cruise tidak dikenal sebagai aktor laga di awal kariernya. Film awalnya seperti Endless Love, Taps, juga The Outsiders punya corak drama yang kuat. Di Losing' It—yang bisa dibilang sebagai purwarupa American Pie dan film-film sejenis lainnya—Cruise memerankan tokoh remaja konyol bernama Woody, yang begitu menggebu ingin melepas keperjakaan.

Bahkan film yang dianggap membuat nama Cruise makin dikenal luas, Risky Business (1983), juga punya langgam drama romantis. Pria kelahiran Syracuse, New York ini, enggan terjebak dalam peran yang sama. Untunglah pilihannya tepat.

Top Gun (1986) kemudian jadi film yang melontarkan namanya ke deretan daftar aktor film aksi. Di film yang disutradarai oleh Tony Scott, Cruise memerankan Letnan "Pete" Maverick, pilot muda pemberontak nan ceroboh yang disekolahkan di akademi Top Gun. Di sana ia bertemu dengan instruktur Charlotte Blackwood yang diperankan Kelly McGillis.

Scott dengan lihai meramu film aksi, lengkap dengan adegan penerbangan yang spektakuler, beserta kisah romansa yang membuat perut dipenuhi kupu-kupu—siapa tak ingin bercumbu melihat Cruise dan Kelly bertukar keringat dan desah dengan diiringi "Take My Breath Away"? Tak berlebihan rasanya jika film itu kemudian membuat nama Cruise makin dikenal luas. Ia hadir sebagai sosok aktor berparas rupawan yang bisa memerankan rentang karakter luas. Dari remaja konyol hingga pilot bad boy yang memikat hati.

Baca juga: Ketika Kulit Putih Menyelamatkan Dunia di Hollywood

Ciri itu yang kemudian terus dikembangkan Cruise. Ia pernah bermain di film bertema olahraga (All the Right Moves, Days of Thunder, Jerry Maguire), film bertema hukum dan pengacara (The Firm, A Few Good Men), horor (Interview with the Vampire), militer (Born on the Fourth of July), dan tentu saja drama seperti Rain Man dan Magnolia, yang membuat Cruise masuk dalam nominasi Aktor Pendukung Terbaik dalam ajang Academy Awards ke 72.

Mission: Impossible kemudian semakin menarik Cruise ke dunia yang belakangan makin ditekuninya: film aksi dan laga. Di film rilisan 1996 itu, Cruise menjadi Ethan Hunt, agen andalan Impossible Mission Force. Film itu meledak, menjadi salah satu film terlaris sepanjang 1996. Dengan modal $80 juta, penghasilannya mencapai $450 juta.

Meski sukses, Cruise yang juga bertindak selaku produser tidak buru-buru membuat sekuelnya. Lagi-lagi, ia memilih untuk bermain di film genre lain. Barulah pada 2000, Ethan Hunt kembali lewat Mission: Impossible 2. Film ini juga kembali sukses secara pendapatan, menjadi film yang mendapat penghasilan terbesar pada 2000, meraup $546 juta. Seolah mengikuti pola sebelumnya, Cruise tak lantas membuat seri ketiga dalam waktu dekat.

Di sela-sela waktu, Cruise menjadi narator untuk dua film dokumenter. Yakni Stanley Kubrick: A Life in Pictures (2001) dan Space Station 3D. Ia juga bermain di film drama Vanilla Sky yang membuatnya menjalin hubungan dengan aktris Penelope Cruz. Selain itu, Cruise membintangi film-film sukses seperti The Last Samurai dan War of the Worlds.

Barulah pada 2006, Cruise membuat seri ketiga Mission: Impossible III. Sejak saat itu, sepertinya Cruise kecanduan bermain film aksi. Ia kemudian membintangi banyak sekali genre film ini. Mulai dari Tropic Thunder, Valykrie, Knight and Day, seri keempat MI, Ghost Protocol; Jack Reacher dan sekuelnya; Oblivion, Edge of Tomorrow, seri kelima MI, Rogue Nation; dan The Mummy. Selain itu, Cruise akan meluncurkan sekuel Top Gun, Maverick pada Juni 2019, alias 33 tahun setelah film pertamanya.

Di usia yang sudah kepala lima, tak ada tanda-tanda Cruise akan berhenti main film aksi. Saat banyak rekan seusianya sudah jarang terdengar, apalagi main film aksi, Cruise masih membuat film aksi yang bisa sukses secara artistik maupun komersial.

Jake Kring-Schreifels dari Esquire punya pendapat kenapa Cruise sejak 7 tahun terakhir rutin membuat film aksi yang membutuhkan stamina tinggi. Ini ada kaitannya dengan popularitas, tentu saja. Film aksi adalah salah satu genre paling populer di dunia. Di tanah Amerika Utara, dalam kurun 1995-2017, film aksi termasuk dalam tiga besar genre berpendapatan tertinggi. Ia hanya kalah oleh film petualangan dan komedi.

Jika merujuk pada pangsa pasar, menurut situs data perfilm-an The Number, dalam rentang masa 1995-2017, film aksi menempati peringkat ketiga dengan market share 18,81 persen. Di bawah film petualangan (22,4 persen), dan komedi (21,4 persen).

Itu, menurut Schreifels, bukti bahwa Cruise masih ingin menjadi bintang. Dengan terus membintangi dan memproduksi film aksi, Cruise bisa dipastikan masih akan tetap ditonton, diperbincangkan, dan terus beredar dalam orbit bintang film besar.

"Cara apa yang lebih baik untuk mendapat popularitas selain berlari, melompat, da petualangan lintas negara? Bahkan di usianya yang menginjak 50-an, Cruise enggan melamban. Dia menjalani sendiri adegan laga, memperbesar usaha dan energinya, serta membuktikan dedikasinya," tulisnya.

Harus diakui, sejak semakin rutin main di film aksi, sang bintang mulai memerankan karakter yang punya tipikal sama. Jago bela diri, energetik, dan seperti punya 9 nyawa. Entah itu bergelantungan di pintu pesawat, atau memanjat gedung tertinggi di dunia, pun jatuh dari pesawat yang membawa mumi. Tapi ini juga bisa dilihat sebagai usaha keras Cruise untuk tetap mengapung di lautan bernama Hollywood.



Untuk itu, sama seperti yang dibilang Schreifer, Cruise senantiasa membuktikan dedikasinya. Ia dikenal sebagai satu dari sedikit sekali aktor kelas A yang menolak penggunaan pemeran pengganti. Ia melakoni sendiri aksi-aksi berbahayanya. Termasuk dalam penggarapan Mission: Impossible 6, yang membuat pergelangan kakinya patah. Cedera itu membuat syuting ditunda selama 2 bulan.

Baca
: Tom Cruise Berakting Tanpa Stuntman di Film The Mummy

Beberapa kritikus film mulai bilang pada Cruise: berlakulah seperti pria usia 50-an. Artinya, cobalah bermain film yang santai dan tak perlu energi besar. Bermainlah lagi di film drama yang lebih butuh akting baik, alih-alih merepotkan diri dengan jumpalitan menghindari peluru dan mortir.

Apa boleh buat, Cruise bukanlah manusia 55 tahun kebanyakan. Ia masih belum mau menapaki jalan drama yang lebih santai. Cruise masih berhasrat menjadi aktor di film dar der dor. Banyak orang bilang, kehidupan baru dimulai pada usia 40-an. Dan di usia 50 tahunan, semua orang setuju, Cruise baru memulai kembali hidupnya.

Baca juga artikel terkait AKTOR atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Film)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight