tirto.id - Pedagang Pasar Barito direncanakan segera direlokasi mulai hari ini, Minggu (3/8/2025). Dengan begitu, para pedagang diminta sudah harus mengosongkan kios beserta dagangannya.
Reporter Tirto pun mengunjungi Pasar Barito, pada Minggu (3/8/2025). Berdasarkan pantauan di lapangan, terlihat para pedagang masih beraktifitas seperti biasa dengan tetap berjualan di kios nya masing-masing.
Pedagang pada umumnya menolak rencana relokasi tersebut. Salah satu pedagang kucing di Pasar Barito, Dewi (45), mengaku baru mendapatkan informasi rencana relokasi itu sejak sekitar 1 bulan ini, yakni Juli lalu. Sementara, baru sebulan sejak pengumuman, para pedagang sudah diminta untuk pindah.
Dewi bercerita hingga akhir Juli, pedagang dijanjikan akan dipindahkan ke Kawasan Lenteng Agung di bawah naungan Perumda Pasar Jaya. Namun, rupanya kawasan tersebut masih berupa lahan kosong sehingga dia merasa keberatan dengan rencana itu.
Menurutnya, dalam hal ini, pemerintah justru belum memberikan jaminan tempat baru yang layak, baik baginya dan untuk pedagang lainnya untuk berjualan.
“Namanya relokasi itu kan tempat harus ada dong? Nah, sekarang, dari yang lama pindah ke yang baru. Itu namanya relokasi,” kata Dewi saat ditemui Tirto di kios jualannya.
Bahkan, Dewi juga mengaku dirinya tidak mendapatkan surat pemberitahuan resmi secara tertulis dari Pemprov DKI Jakarta terkait pemindahan para pedagang tersebut. Apalagi, pemberitahuan relokasi ini dinilai sangat mendadak sehingga Dewi tidak memiliki kesempatan untuk bersiap-siap terlebih dahulu.
Bersiap dalam hal ini, katanya, terkait pertimbangan dana yang harus dikeluarkan untuk menyewa kios baru, hingga uang kontrakan di lokasi baru nantinya. Dengan demikian, Dewi meminta agar pemerintah melakukan perpanjangan waktu hingga 2026 untuk relokasi sehingga dia bisa melakukan penyesuaian.
“Ya mohon untuk pemerintahan, kasihlah kebijakan. Kan kita nggak minta muluk-muluk, cuma sampai lebaran aja gitu kan. Dan tempatnya pun juga kalau memang mau dipindahkan ke Lenteng Agung, itu tempatnya belum ada, masih tanah. Jadi dari pedagang sekian banyak ini, menangis gitu,” keluh Dewi.
Lalu, mengaku sudah berjualan di kawasan tersebut sejak 1990, Dewi pun memiliki kekhawatiran apabila pindah lokasi, maka dia tidak mendapatkan pelanggan yang cukup banyak, Pasalnya, Pasar Barito sudah dikenal oleh banyak orang. Maka dari itu, dia menolak keras pembangunan Taman ASEAN yang harus mengorbankan Pasar Barito.
“Kayak seolah-olah dibuang ke sampah, gitu. Dan bahkan kita juga di sini itu kan aman, banyak orang yang lihat, bersih juga tempatnya. Tapi kenapa ya? Jangan mementingkan untuk yang lain-lain dulu lah, itu rakyat kita yang harus diperjuangkan,” lirihnya.
Meskipun pemerintah menargetkan agar para pedagang mengosongkan tempat, Dewi mengaku bersikeras agar tak ingin pindah dari Pasar Barito. Apabila seandainya pemerintah memberikan jaminan kepada pedagang terkait tempat atau kios baru di kawasan baru nanti, barulah Dewi akan setuju.
“Saya mah berusaha di sini aja dagang, karena kan saya kalau nggak dagang pun juga mau makan dari mana, kan begitu. Ya tetap saya di sini aja berdiri,” tegas Dewi.
“Saya nggak bakalan (pergi dari Pasar Barito), di sini aja dagang. Terserah aja, saya kalau nggak dagang mau dapat dari mana?” imbuh Dewi.
Menurutnya, kalaupun pemerintah ingin membangun Taman ASEAN, keberadaan Pasar Barito tidak akan mengganggu. “Taman juga kan di belakang kan sudah luas gitu. Kalau tahu memang di sini untuk kawan-kawan di sini kita itu, kalau memang pengen jalan ke belakang buat taman, beri gitu toko gitu berapa gitu, terserah buat jalan ke belakang. Begitu,” terangnya.
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan relokasi pedagang di kawasan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai Minggu (3/8/2025).
Relokasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya revitalisasi ruang terbuka hijau dan taman kota demi meningkatkan kualitas lingkungan hidup warga Jakarta.
"Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan telah menetapkan jadwal relokasi pedagang Loksem Jalan Barito pada 3 Agustus 2025," kata Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, dalam keterangan resmi, Sabtu (2/8/2025).
Relokasi, kata dia, dilakukan untuk mendukung penataan kawasan taman di lokasi tersebut. Nantinya, pemerintah kota akan menyiapkan kendaraan angkut bagi para pedagang.
Para pedagang, ujar dia, juga diberikan kebebasan untuk memilih lokasi usaha sementara, baik di wilayah Jakarta Selatan maupun di wilayah lain, agar kegiatan ekonomi tetap berjalan. Namun, penataannya sendiri akan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan dialogis dan kolaboratif agar tidak mematikan sumber penghidupan warga.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id

































