Tipu-Tipu Produsen Masker Gadungan di Tengah Pandemi Corona

Patung hewan yang dipasangi masker kain di kawasan pusat perbelanjaan Botani Square, Bogor, Jawa Barat, Minggu (10/5/2020). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Oleh: Joan Aurelia - 12 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Kebutuhan tinggi terhadap masker membuat ranah bisnis ini dimanfaatkan dengan tidak bijak oleh sejumlah pihak.
Dua minggu belakangan nama seniman grafiti Darbotz, Bujangan Urban, dan ilustrator Kendra Ahimsa kembali dibicarakan di jejaring sosial Instagram. Sejumlah pengguna Instagram di Indonesia dengan bangga mengunggah foto mereka menggunakan masker berbahan scuba yang motifnya dilukis oleh sejumlah seniman dalam negeri termasuk tiga nama yang telah disebutkan di atas.

“Sekarang kalau harus keluar rumah bisa aman sekaligus gaya. Memakai karya seniman favorit saya,” kata HJ, 32 tahun, yang memakai masker dengan desain buatan Darbotz.

Harga satu masker Rp40.000. “Sistemnya beli 1 untuk 3. Satu masker akan diberikan pada pembeli, tiga masker akan didonasikan. Pembeli bisa memilih sendiri kemana mereka akan mendonasikan masker. Kami sudah bekerjasama dengan beberapa lembaga,” kata relawan sekaligus pencetus kampanye Masker Untuk Indonesia yang enggan disebut namanya saat Tirto menghubunginya lewat telepon pada 27 April 2020.

Per 27 April, gerakan tersebut telah memproduksi 100.000 masker yang disalurkan ke beberapa mitra di antaranya Benih Baik (komunitas yang memiliki program bagi-bagi masker ke sejumlah pengendara di jalanan, di antaranya ojek online dan ditlantas), Yayasan Langkah Kasih, dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia.

“Kami sengaja menargetkan kaum milenial kelas menengah dan sengaja membuat strategi agar digital campaign ini bisa se-viral mungkin. Mulai dari pemilihan kata yang tepat sampai pemilihan seniman. Kami harap bisa benar-benar berpartisipasi dalam mengurangi kurva penyebaran wabah,” kata sang relawan yang bekerja ranah digital.



Ia juga menceritakan saat ini beberapa perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang retail dan perbankan mulai mengontak untuk mengajak bekerjasama. Demikian pula dengan para seniman. Kini mereka menawarkan diri untuk terlibat dalam kampanye ini. “Awalnya kami bekerjasama dengan local brands yang ada di brightspot market,”

Kini sang relawan berani menyebut target menyumbang satu juta masker. “Waktunya mungkin masih panjang. Kami kewalahan sekali meladeni pesanan. Sering dimaki-maki. Tapi bagaimana lagi kemampuan mitra produksi kami juga terbatas.”

Bagi sebagian orang, tampil aman saja memang kurang cukup. Oleh karena itu masker fashionable ini tercipta.

Sebelum wabah COVID-19, masker lumrah digunakan di Asia, bukan hanya untuk menghindari polusi udara, tapi juga menyembunyikan ekspresi wajah. Alasan kedua berlaku di Jepang. Japan Today mencatat bahwa anak-anak muda di Jepang menggunakan masker untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Jepang juga mengenal produk-produk masker fashionable yang didesain untuk membantu menjaga berat badan dengan membubuhkan aroma buah-buahan pada masker.

Kritikus fesyen New York Times Vanessa Friedman beranggapan bahwa masker bisa mewakili berbagai macam simbol seperti protes, solidaritas, perlawanan terhadap rasisme, dan sekarang ikon untuk melawan pandemi. Ia mewawancara antropolog dari University of St.Andrews di Scotland, Christos Lynteris, yang menyatakan bahwa masker selalu hadir dalam berbagai konteks.

Di Asia masker pertama kali digunakan pada awal 1900 sebagai pelindung dari pneumonia. Seiring waktu, masker semakin sering digunakan setelah munculnya penyakit yang menular melalui udara atau sentuhan, misalnya dalam kasus penyebaran SARS di Asia Timur pada 2002. Di samping itu, polusi udara juga yang semakin meningkat membuat orang lebih nyaman menggunakan masker ketika beraktivitas di ruang publik.

Dari sanalah muncul ide-ide kreatif terkait desain masker. Beberapa tahun terakhir lini busana yang tersohor di kalangan anak muda Asia seperti A Bathing Ape dan Off White mendesain masker yang bisa digunakan sebagai fashion statement. Label busana Gucci bahkan membuatkan masker untuk penyanyi populer Billie Eilish.

Sisi Gelap Produksi Masker

Bertambahnya kebutuhan terhadap masker juga menjadikan bisnis produksi masker ranah yang sangat menggiurkan sekaligus menantang. Kisah soal perusahaan baru yang memproduksi masker berjalan beriringan dengan aksi penipuan yang terjadi di ranah perdagangan masker. Hal ini terjadi di Eropa, Amerika, dan Asia.

Menurut laporan South China Morning Post, sepanjang tiga bulan terakhir ada 38.000 perusahaan di Cina yang mendaftarkan diri sebagai produsen masker.

Perusahaan-perusahaan di Cina yang tadinya memproduksi bola golf dan vape beralih memproduksi masker karena lebih cepat dan mudah diproduksi sekaligus bisa menghasilkan keuntungan kurang dari sebulan. Perusahaan otomotif General Motors, perusahaan migas Sinopec, dan pemasok perangkat untuk iPhone, Foxconn juga mulai mengalihkan usaha ke produksi masker dengan jumlah produksi yang bisa mencapai 1,7 juta dalam sehari.

Sebuah perusahaan produksi kemasan makanan di Cina memutuskan untuk memproduksi masker pada akhir Februari 2020 dan kini mereka sudah tidak bisa menerima order karena mesti melayani pesanan sampai awal bulan Mei. Pemilik perusahaan mengaku sudah menambah tenaga produksi, tapi jumlah permintaan tetap melampaui kapasitas produksi.

SCMP juga mewawancara seorang pemilik perusahaan logistik asal Tiongkok, David Sun. Ia menyatakan produksi masker ibarat mesin uang. Sun sendiri memutuskan mengurus izin ekspor benda medis setelah ia melihat fenomena ini.

Di Tiongkok ada pula jenis pengusaha seperti Sun yang memilih untuk menjadi pengekspor dan mencari perantara yang bisa menghubungkannya ke produsen masker. Tapi, hal itu juga tidak selalu mudah. Pertama, AS punya kontrol kuat terhadap barang-barang yang diimpor dari Tiongkok. Ada barang-barang yang tidak diperkenankan masuk karena tidak dianggap memenuhi kualitas.

Alasan berikutnya, harga masker sangat mudah berubah dan mereka yang berhasil mendapatkan adalah orang-orang yang berani membeli dalam jumlah besar dan membayarnya sekaligus di awal transaksi. Begitu ada peminat baru yang berani menawar harga lebih tinggi, maka barang tersebut akan diberikan padanya.



“Aku pernah bertemu dengan produsen yang mengharuskan jumlah pesanan 1 juta produk dengan harga satuan 1,84 dolar AS. Aku setuju tapi lima jam kemudian harga berubah jadi 3,84 dolar AS. Di sana aku menyerah,” katanya kepada SCMP.

Di AS, seorang pemilik firma hukum bernama Dan Harris berkata kepada SCMP bahwa ia pernah menerima tiga aduan penipuan bisnis masker senilai jutaan dolar AS yang melibatkan pemasok di Tiongkok. Ada suplier kabur setelah menerima seluruh uang yang jadi nilai total transaksi. Ada pula yang mengirim produk yang tidak sesuai janji.


Harris mengaku bahwa setiap hari ia menerima surel dari orang-orang yang menanyakan suplier murah di Tiongkok. Mereka berminat untuk jadi pedagang masker dan menjual produk dengan harga tinggi. Menurut pengakuan Harris, ada yang berani menawarinya uang 50 ribu dolar AS bila Harris bersedia memberitahu daftar suplier masker yang ada di Tiongkok.

Penipuan ini terjadi pula di dunia maya. Buzzfeed News melaporkan situs perusahaan produksi masker berlisensi di Inggris yang dibajak. Pembajak situs menipu sejumlah orang di berbagai negara seperti Yunani dan Jerman yang telah memesan paket masker dengan total nilai transaksi sekitar puluhan ribu dolar AS.

Para korban tidak merasa situs tersebut palsu karena sang penipu berani mengirimkan invoice dengan kop surat dan nomor telepon perusahaan yang teregistrasi. Mereka baru sadar tertipu tatkala barang tidak kunjung sampai dan nomor yang dihubungi--nomor perusahaan produsen yang asli--mengaku tidak menerima pesanan masker.

Untuk mengatasi penipuan yang terjadi di dunia maya, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube memutuskan menghapus setiap iklan dan unggahan terkait perdagangan masker dan perangkat pelindung diri lainnya. Menurut catatan Washington Post, pada 1 april lalu YouTube menghapus 10 video yang berkaitan dengan penjualan masker N95. Twitter menghapus 1.000 unggahan.

Sampai 27 April 2020, kasus penipuan tersebut masih saja terjadi. BuzzFeed menginformasikan dua pria asal California ditahan setelah terbukti melakukan penipuan penjualan masker senilai 4 juta dolar. AS.

Baca juga artikel terkait MASKER atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight