Tiket Penerbangan Mahal, Taksi Bandara Ikut Terpukul

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 6 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Beberapa maskapai memang sudah mengumumkan penurunan tarif, tapi harga tiket masih dianggap mahal dan memukul sektor lain.
tirto.id - Terminal Kedatangan 2F Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, tampak lengang pada Jumat (1/3) malam. Para penumpang pesawat tidak terlihat berkerumun termasuk para penjemputnya. Waktu baru menunjukkan pukul 19.30, tidak terlalu malam untuk aktivitas bandara sebesar Soekarno-Hatta.

Kondisi terminal 2F seolah berkelindan dengan ketersediaan para pengemudi taksi online yang ada di sekitar bandara. Butuh waktu lama untuk mendapatkan pengemudi salah satu aplikasi taksi online. Saya mencoba memesan layanan taksi online sejak pukul 19.36, tapi baru mendapatkannya pukul 21.44.

“Waduh maaf ya, pengemudi kami sedang sibuk-sibuknya. Pesan lagi ya kalau kamu masih butuh kendaraan. Kami siap membantumu berangkat," tulis pesan aplikasi taksi online.

Taksi online yang saya tunggu pun tiba. Hengky, sang pengemudi cukup ramah menyapa. Kami pun berbincang ringan, saat obrolan ngalor ngidul itu, Hengky sempat bercerita ihwal permintaan penumpang di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta yang berkurang drastis, hingga berdampak uang yang ia bisa kantongi setiap hari.

Hengky bercerita, sebelum kebijakan bagasi berbayar berlaku pada awal Januari 2019 yang diterapkan beberapa maskapai penerbangan, dan kenaikan harga tiket pesawat domestik, ia bisa mengantongi pendapatan kotor sampai dengan Rp800 ribu setiap hari. Setelah dipotong dengan biaya makan dan bensin, penghasilan bersih yang bisa dibawa pulang oleh Ayah tiga orang anak ini bisa mencapai Rp500 ribu per hari.

Namun, kondisi terbalik terjadi saat harga tiket pesawat domestik melonjak nyaris tiga kali lipat. Pria berusia 49 tahun ini hanya bisa mengantongi pendapatan kotor antara Rp500 ribu-Rp600 ribu per hari. Pendapatan bersih yang bisa ia bawa pulang hanya sebesar Rp200 ribu-Rp300 ribu.

“Penghasilan otomatis berkurang dan terasa sekali perbedaannya,” cerita Hengky.

Perbedaan yang amat terasa adalah waktu tunggu penumpang. Waktu tunggu yang Hengky habiskan di pool taksi online biasanya hanya 15-30 menit. Kini, ia harus menunggu sampai dengan dua jam untuk mendapatkan satu order mengantar penumpang dari bandara.

“Waktu tunggu yang lama itu juga menguras kantong karena sambil nunggu, kita tentu sambil makan. Jadi uang lebih banyak terbuang untuk biaya makan,” ungkap Hengky.



Selain itu, pengeluaran ekstra juga terjadi pada biaya tol. Ia sering menuju bandara dengan kondisi mobil kosong tanpa penumpang. Otomatis, ia harus menanggung biaya tol sendiri. Saat penumpang ramai, kondisinya justru berbeda.

“Kalau hanya dapat sekali order menuju bandara atau bahkan tidak ada, kita harus menanggung biaya bayar tol masuk bandara kan?! Sekali jalan misalnya Rp20 ribu bayar tol, kalau dikali empat kan udah banyak,” kata Hengky.

Nasib mirip juga dirasakan Yunaldi, pengemudi taksi konvensional harus antre menunggu mendapatkan penumpang sampai dengan empat jam. Padahal waktu tunggu, saat penumpang ramai kurang dari satu jam. Pengemudi taksi konvensional juga harus bersaing dengan taksi online. Uang yang kantongi pun kian tiris, ia sempat mengantongi pendapatan Rp900 ribu sehari, kini hanya Rp700 ribu per hari.

Dampaknya penghasilan bersih yang ia bawa pulang ke rumah pun menipis. “Kalau dulu sebelum harga tiket pesawat naik, bisa sampai Rp200 ribu bawa pulang ke rumah. Sekarang hanya Rp100 ribu sampai Rp120 ribu,” jelasnya.

Infografik Pengguna Angkutan Umum
Infografik Pengguna Angkutan Umum


Cerita Hengky dan Yunadi bagian dari kenyataan bahwa moda angkutan udara di awal tahun memang sedang suram. Selain faktor "musim sepi" atau low season, ada faktor mahalnya harga tiket pesawat domestik. Menteri Pariwisata, Arief Yahya pernah mengeluhkan tarif penerbangan Jakarta-Padang, sempat naik 210 persen. Walaupun harganya sudah diturunkan, tapi tarifnya masih terpaut mahal 160 persen dari harga sebelum kenaikan.

Selain itu, kenaikan tarif kargo udara dan pengenaan tarif bagasi penumpang semakin menjadi persoalan bagi pengguna jasa penerbangan di Indonesia.
Kondisi demikian mendorong terjadinya perpindahan penumpang ke transportasi lainnya terutama darat. Sehingga lalu lintas penumpang pesawat di bandara juga mengalami penurunan, ini yang dirasakan oleh para pengemudi taksi bandara.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari 2019 terjadi penurunan 16,07 persen penumpang untuk penerbangan domestik dibanding Desember 2018. Data Januari 2018 ke Januari 2019, jumlah penumpang pesawat juga mengalami penurunan. Saat bersamaan, jumlah penumpang kereta api dan kapal laut mengalami peningkatan meski tipis. Belum lagi sejak pertengahan 2018 pemerintah memberikan akses di sebagian Tol Trans Jawa. Hal ini juga menyebabkan penurunan penumpang maskapai penerbangan.



“Secara umum memang ada peralihan, apalagi dengan adanya Tol Trans Jawa. Itu langsung menghubungkan tol dari Jakarta ke Surabaya. Ini membuka peluang masyarakat beralih moda transportasi,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti.

Kenaikan tarif penerbangan, hingga penerapan bagasi berbayar, secara langsung berdampak pada penurunan penumpang angkutan udara. Sektor transportasi lain juga ikut merasakan, tak kecuali taksi online di bandara. Industri penerbangan memang sektor yang punya dampak berantai cukup luas, termasuk pada ekonomi.

Baca juga artikel terkait KENAIKAN TIKET PESAWAT atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra