Hati-hati Jebakan Kosmetik Palsu!

Penulis: Aditya Widya Putri, tirto.id - 23 Okt 2023 09:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Lagi-lagi, harga murah membuat produk laku di pasaran, termasuk kosmetik palsu. Walau penggunaannya yang tidak aman, sangat berisiko.
tirto.id - Andari masih berusia 25 tahun ketika mendapati bopeng-bopeng hitam di mukanya. Ya, itulah bekas iritasi akibat satu tahun pemakaian krim wajah yang dijual bebas secara daring. Memang awalnya krim itu bekerja cepat memuluskan wajah. Namun begitu berhenti dipakai, wajahnya jadi lebih kusam.

“Waktu itu beli dari langganannya temen, tertarik karena lihat muka temenku mulus banget. Terus harganya juga lumayan murah,” ujarnya kepada Tirto.

Andari membeli produk perawatan wajah yang terdiri atas sabun, krim malam, dan krim siang—total seharga Rp150 ribu. Tanpa merk, tanpa izin BPOM pada wadahnya. Krimnya bertekstur lengket dengan warna berbeda: krim pagi kuning keemasan, krim malam putih mengkilat. Proses transaksinya juga gampang: pesan online dan produk diantar jasa ekspedisi.

Sampai satu waktu, Andari lupa membawa koleksi perawatan kulitnya selama dua minggu pulang kampung. Dari situ, masalah mulai muncul. Kulit mukanya jadi rewel—bahkan tak mampu menyesuaikan dengan produk perawatan lain.

Saat wajahnya dicuci, sensasi yang muncul malah kaku, kering dan perih. Jerawat mulai muncul pada hari ketiga Andari absen dari krim wajahnya. Semakin hari, jumlahnya semakin banyak. Kelimpungan, ia berkonsultasi ke dokter kulit setempat, “Saat pemeriksaan, dokternya bilang ini efek samping krim terdahulu.”

Andari hanyalah satu dari sekian korban produk kosmetik ilegal dan berbahaya, yang di negara ini relatif mudah ditemukan terutama lewat jalur perdagangan daring.

Kamu selama ini mungkin sudah familiar dengan temuan polisi tentang produksi kosmetik ilegal. Pada 2017 misalnya, satu rumah di Jakarta Utara memproduksi kosmetik tanpa izin edar BPOM.

Mereka meliputi produk minyak bulus putih yang terbuat dari minyak sayur, krim ketiak dan kolagen masker badan berbahan losion putih, gingseng hair tonic dari air dan pewarna makanan.

Dengan modal produksi Rp30 juta, tersangka mengklaim dapat laba per bulan sekitar Rp25 juta. Kosmetiknya dijual kepada sales lalu dikirim via ekspedisi ke Jawa Timur, Jawa Barat, Banten sampai Lampung.

Masih di Jakarta Utara, pada Maret lalu, polisi menggerebek pabrik kosmetik ilegal berkedok gudang. Praktik bisnisnya diduga melibatkan tenaga kesehatan, klinik kecantikan dan apotek sebagai pihak pemesan.

Kosmetik mereka disebut berkandungan hidroquinon, asam retinoat, resorsinol dan deksametason—bahan-bahan kimia yang berpotensi membahayakan tubuh. Tak tanggung-tanggung, nilai barang buktinya ditaksir sampai Rp7,7 miliar!

Header Diajeng Kosmetik Palsu
Header Diajeng Kosmetik Palsu. foto/IStockphoto


Edukasi Kosmetik Berbahaya

Berdasarkan saran dr. Melyawati Hermawan, Sp.KK, kamu sebaiknya memilih perawatan kulit yang punya izin edar BPOM. Dengan demikian, kamu tak perlu repot-repot mencari kandungan kosmetik tersebut. Risiko terpapar zat berbahaya juga bisa diminimalisir.

Melyawati menilai, peredaran kosmetik palsu dan ilegal di Indonesia sangat masif. Sebab banyak penjual memasarkan produknya secara daring. Selain itu, pola konsumsi masyarakat Indonesia masih berpatokan pada harga murah.


“Banyak yang pilih online karena lebih irit, tak perlu bayar konsultasi dokter, datang ke klinik, kena macet jalanan. Itu hal menggiurkan buat konsumen,” jelas Melyawati kepada Tirto.


Di satu sisi, pemakaian kosmetik tak melulu harus didahului konsultasi dokter. Konsultasi dengan dokter hanya disarankan bagi kamu yang punya kriteria kulit bermasalah seperti flek atau berjerawat. Tapi kalau kulitmu tak bemasalah, kamu cukup pakai produk kosmetik yang beredar di pasaran.

Melyawati juga meluruskan persepsi keliru masyarakat tentang ketergantungan kosmetik. Persepsi “ketergantungan” dianggap tak tepat, karena fungsi pemakaian krim perawatan kulit memang untuk memaksa kulit beregenerasi.

Jika tak beregenerasi, kulit akan kusam karena sel mati menumpuk di permukaan kulit. Maka dari itu, pemakaian produk perawatan harus terus dilakukan untuk mempertahankan regenerasi kulit.


“Konsumen mesti cerdas, harus tahu memilih kosmetik yang baik. Kalaupun beli online pastikan [ada nomor] registrasi dari BPOM,” pungkas Melyawati.


Namun mirisnya, penjualan kosmetik palsu dan ilegal terus berjaya. Belum lagi iming-iming yang ditawarkan membikin konsumen tergiur: jadi putih atau awet muda.

Kuatnya paradigma cantik adalah kulit putih, rambut lurus dan tubuh tinggi sangat mungkin berperan mendorong kebutuhan tinggi akan kosmetik di Tanah Air.

Tak mengherankan, perempuan muda di Indonesia cenderung punya antusiasme tinggi terhadap industri kosmetik guna mencapai standar cantik tersebut.

Header Diajeng Kosmetik Palsu
Header Diajeng Kosmetik Palsu. foto/IStockphoto



Dalam riset persepsi konsumen yang terbit di jurnal Berita Kedokteran Masyarakat (2011), tim peneliti pimpinan Bidan Tringani Damanik melakukan survei pada 394 remaja perempuan di 12 SMA di Kota Ambon. Paradigma cantik yang dibentuk publik sudah mempengaruhi keinginan remaja putri Ambon, yang umumnya berkulit kecoklatan, untuk merombak penampilan wajah, rambut hingga tubuh.

Pada pertanyaan yang mengizinkan responden memilih lebih dari satu pilihan jawaban, sebanyak 76,6 persen mengklaim sudah memakai kosmetik untuk menghaluskan kulit.

Mengekor di bawahnya, 69 persen responden mengaku pakai kosmetik untuk mengharumkan, 62,7 persen untuk menghilangkan jerawat atau komedo dan 55,1 persen untuk memutihkan badan atau muka.

Kebutuhan yang meningkat terhadap kosmetik inilah yang lantas dimanfaatkan oleh produsen “nakal” demi memperoleh untung besar.

Nyaris 58 persen siswi mengalami masalah kulit setelah memakai kosmetik—seperti jerawat berlebihan, flek noda hitam, gatal pada kulit muka atau badan, kulit terkelupas, kulit kemerahan dan rasa terbakar, gatal pada ketiak, bahkan pembengkakan wajah.

Mirisnya, edukasi yang kurang membuat sebagian orang abai masalah kulit. Mereka menganggapnya sebatas efek samping kosmetik yang tak berbahaya. Iritasi kulit dipersepsikan sebagai reaksi kerja kosmetik sebelum membuat kulit jadi putih dan halus. Mereka baru menilai kosmetik berbahaya setelah pemakaiannya menimbulkan flek atau noda hitam dan banyak jerawat.

Wah, salah banget, nih! Yang benar, kalian harus memastikan produk yang kalian pakai aman sebelum digunakan, daripada menunggu reaksinya di kulit. Gitu, ya, girls!


*Artikel ini pernah tayang di tirto.id dan kini telah diubah sesuai dengan kebutuhan redaksional diajeng.

Baca juga artikel terkait KOSMETIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani & Sekar Kinasih

DarkLight