Terbenamnya Village Voice, Media "Hipster" dari New York

Oleh: Faisal Irfani - 1 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Punggawa Voice diganjar penghargaan Pulitzer sebanyak tiga kali.
tirto.id - Dunia rock berduka pada 13 April 1982. Lester Bangs, kritikus musik yang terkenal dengan gayanya yang ugal-ugalan, merenggang nyawa akibat overdosis. Ia terlentang di sofa di antara botol bir yang berserakan dan piringan hitam yang bejibun jumlahnya.

Padahal, usia Bangs waktu itu masih 33 tahun. Jalannya di dunia kepenulisan rock and roll pun punya prospek yang panjang, kendati masa edarnya sebagai jurnalis musik tak lagi berada di Rolling Stone maupun Creem.


Ihwal tersebut bisa disaksikan tatkala pada 1981 ia bikin geger publik dengan merisak The Beatles. Dalam tulisan berjudul “Better Than the Beatles (and DNA, Too),” ia tak ragu mengatakan album Philosophy of the World (1969) milik The Shaggs, band rock dari New Hampsire yang seluruh anggotanya perempuan, berhasil mendefinisikan ulang apa makna seni. Hal, yang menurut Bangs, tidak bisa dilakukan The Beatles.

Tentu butuh keberanian untuk mengolok-olok band yang dianggap paling besar di eranya. Namun, keberanian itu akan jadi sia-sia selama tak punya ruang guna menyalurkannya. Dan Bangs mendapatkan kemewahan tersebut dari The Village Voice, surat kabar bernas dan legendaris asal New York yang terkenal akan liputan investigatif serta kritik-kritiknya yang meluncur tanpa tedeng aling-aling terhadap produk kebudayaan.

Faktor Duit

Namun, nasib buruk menimpa The Village Voice—selanjutnya Voice. Akhir Agustus lalu, mereka resmi menutup kegiatan operasionalnya setelah 63 tahun beredar karena masalah keuangan.

“Ini adalah hari menyedihkan bagi The Village Voice dan jutaan pembacanya,” kata Peter Barbey, pemimpin perusahaan dalam pernyataan resminya, seperti diwartakan Vox.

Barbey menerangkan, optimismenya untuk menyelamatkan Voice hanyalah “ilusi semata.” Ia merasa tak mampu mengangkat Voice dari jerat kerugian yang terus mengiringi kiprah mereka. Kendati tutup, Barbey bakal mempertahankan delapan dari 18 staf yang tersisa guna memastikan arsip-arsip Voice selama enam dekade tetap bisa diakses dan diproduksi secara daring.


Banyak yang telah memprediksi bahwa tutupnya Voice “cuma perkara waktu” setelah sebelumnya, pada Agustus 2017, dilaporkan The Guardian, mereka resmi menghentikan edisi cetak dan beralih ke platform digital. Alasan finansial lagi-lagi memaksa pihak manajemen menempuh langkah itu.

Edisi cetak yang terakhir memasang sampul bergambar Bob Dylan, yang dipotret di dekat kantor Voice pada 1965. Di dalamnya, ada 176 halaman yang menampilkan portofolio dari para jurnalis-penulis yang punya andil membentuk karakter Voice: dari Ed Fancher (pendiri), Michael Feingold (kritikus teater), J. Hoberman & Amy Taubin (kritikus film), sampai Michael Musto yang moncer lewat kolom kehidupan malamnya bertajuk “La Dulce Musto.”

Tak ketinggalan, edisi cetak terakhir tersebut turut merayakan karya-karya fotografer Voice. Beberapa gambar yang didokumentasikan dalam edisi terakhir antara lain potret Williams Burroughs, Beastie Boys, Madonna, serta Jack Kerouac.

Kawah Para Penulis Hebat

“Untuk satu waktu pada 1950an, 1960an, dan 1970an, Voice adalah satu-satunya suara kontra-budaya. Menjadi jendela ke alam semesta alternatif. Pada saat itu, [Voice] hampir berperan sebagai satu-satunya wasit untuk seni-budaya, politik, sampai gaya hidup,” jelas Lenny Kaye, gitaris Patti Smith yang juga rutin menulis untuk Voice.

Jauh sebelum istilah “alt-right” maupun “alt-left” dirayakan secara politis seperti sekarang, di masa lampau telah lebih dulu muncul sebutan “alt-weekly.” Istilah tersebut merujuk pada surat kabar mingguan alternatif, atau dalam kata lain “tidak mainstream,” yang menyajikan liputan-liputan mendalam, lepas dari intervensi, serta tak partisan. Voice adalah media yang teguh memegang nilai-nilai itu.

Voice didirikan pada 1955 di Greenwich Village, New York. Dari kantor yang berukuran kecil, Voice menjelma sebagai salah satu media besar, yang namanya dikenal seantero Abang Sam. Pada 1967, Voice merupakan surat kabar mingguan terlaris di AS dengan sirkulasi penjualan harian lebih tinggi dibanding surat kabar lain di New York, termasuk Life.

Sebelum laku keras, mengutip laporan berjudul “It Took A Village” yang diterbitkan The New Yorker pada 2009, Voice harus melewati masa berdarah. Antara 1955 sampai 1962, Voice menanggung defisit kerugian hampir 60 ribu dolar. Situasi itu membikin redaksi pusing dan merasa pesimis terhadap masa depan Voice. Namun, kondisi berbalik 180 derajat kala selepas 1965, mereka mampu mempertebal kas perusahaan dari pemasukan iklan.


Uang dari iklan lantas dipakai Voice untuk membikin liputan yang independen. Mereka menolak tunduk pada kepentingan politik, seperti yang banyak dilakukan media-media lokal pada masa itu. Berbekal motivasi tersebut, Voice kemudian berdiri di garda terdepan untuk menyajikan narasi tandingan atas situasi politik, khususnya yang terjadi di New York.

Mereka memperlakukan perkara politik elektoral lokal sebagai pertarungan antara yang baik dan jahat. Menulisnya dengan penuh letupan antusiasme sehingga urusan kelahi para elit bisa jadi kontestasi nasional. Hal tersebut membuka kemungkinan adanya kesegaran dalam dinamika politik urban.

Tak sekadar membingkai urusan politik menjadi lebih menarik, Voice juga berani melawan para elit-birokrat yang dirasa menyimpang dan sewenang-wenang. John Nichols dalam tulisannya berjudul “What ‘The Village Voice’ Taught Us About Speaking Truth to Power” yang dipublikasikan di The Nation menjelaskan, gelagat tersebut bisa disaksikan ketika Voice menentang para pengembang real estate yang membikin (biaya hidup di) New York kian sulit terjangkau.

Mereka bahkan mengklaim sebagai musuh utama Tammany Hall Democrats—mesin politik Partai Demokrat di New York—yang dianggapnya “sibuk melakukan barter-barter politik culas.” Banyak liputan Voice yang akhirnya mengacaukan rencana licik Demokrat.

Di lain sisi, Voice juga terhitung progresif dalam memandang persoalan di luar politik. Voice tercatat menjadi pusat gerakan LGBTQ. Mereka aktif berkampanye mendukung pernikahan sesama jenis dan perlindungan terhadap kelompok minoritas seksual. Puncak dukungan Voice kepada kelompok LGBTQ terjadi ketika mereka mempublikasikan liputan mengenai pembunuhan Brandon Teena, transgender pria berusia 21 tahun, di Nebraska pada 1993. Mata publik jadi terbuka berkat laporan Voice. Lebih-lebih, kisah Brandon kemudian diangkat ke layar perak dengan judul Boys Don’t Cry (1999).

Voice pun juga dicitrakan ramah dan terbuka dengan kelompok minoritas lainnya. Jajak pendapat yang dirilis Scarborough Research Corporation pada 1984, seperti dipetik The New York Times, menyebut bahwa “Voice telah menarik persentase yang tinggi dari pembaca kulit hitam, Hispanik, dan lain-lain.”

Thulani Davis, penulis dan editor yang bergabung dengan Voice pada 1978-1991 dan 2001-2004 mempertegas hal tersebut. Dalam wawancaranya bersama Esquire, yang kemudian diterbitkan dengan judul “Village Voice Oral History,” Davis mengatakan bahwa ia ditugaskan oleh redaksi untuk “merekrut penulis kulit hitam, Asia, dan Latin.”

“Begitulah cara negara ini bekerja. Jika Anda sedang menulis antologi sastra, mereka [penerbit] akan menelepon Anda dan berkata, ‘Bisakah kamu menulis tentang budaya kulit hitam?’ Voice pun muncul dengan budaya dan tradisi serupa,” terangnya.

Sebagaimana surat kabar pada umumnya, Voice melahirkan penulis-penulis hebat di setiap eranya. Mereka secara konsisten menyajikan tulisan berkualitas yang dibalut dengan analisa tajam, kritik pedas, hingga lelucon-lelucon bernada sarkas. Tulisan mereka dijadikan serupa pedoman, tentang bagaimana melihat sesuatu—musik, film, teater, sastra, politik—dari perspektif out of the box, oleh generasi selanjutnya.

Ezra Pound, Henry Miller, Katherine Anne Porter, Nat Hentoff, James Baldwin, Colson Whitehead, Tom Stoppard, Allen Ginsberg, Lester Bangs, Jonas Mekas, Andrew Sarris, Nelson George, Jill Johnston, Robert Christgau, J. Hoberman, sampai Manohla Dargis adalah beberapa contoh penulis hebat yang pernah menempa diri bersama Voice.


Infografik Village Voice


Kehebatan punggawa Voice bahkan diganjar penghargaan Pulitzer sebanyak tiga kali. Yang pertama diberikan untuk Teresa Carpenter pada 1981 atas liputan investigasinya tentang pembunuhan Dorothy Stratten, model majalah Playboy. Lima tahun berselang, giliran Jules Feiffer yang memperoleh Pulitzer untuk kartun editorial yang ia bikin. Terakhir, ada nama Mark Schoofs yang mendapatkan Pulitzer sehubungan dengan laporannya mengenai krisis AIDS di Afrika pada 2000.

Meski demikian, reputasi Voice pernah tercoreng oleh kasus yang melibatkan salah satu penulisnya bernama Alexander Cockburn. Ia diketahui kedapatan menerima hibah sebesar 10 ribu dolar untuk menggarap proyek buku tentang invasi Israel di Lebanon dari Institut Studi Arab. Cockburn pun dipecat pada 1984. Atas sengkarut itu, publik menganggap Voice bias terhadap gerakan anti-Israel.

Sekarang, Voice sudah tak ada. Yang tersisa hanyalah kenangan maupun rekam jejak mereka sebagai surat kabar mingguan yang konsisten menjaga nilai-nilai jurnalistik: independen, menolak tunduk pada intervensi, serta mendorong lahirnya tulisan-tulisan bermutu lagi jujur. Voice, sebagaimana makna katanya, adalah suara; suara yang membuat kita paham bahwa menyerukan kebenaran adalah cara agar kita tetap waras di dunia yang tak baik-baik saja.

“[…] Ketika kamu membaca tulisan di Voice, itu akan menjadi seperti bola api. Penuh dengan referensi untuk hal-hal yang tidak saya dan kalian baca. Saya mengetahui begitu banyak hal dari sini,” ungkap Sasha Frere-Jones, awak penulis Voice era 1994-2004 sekaligus penulis Pop Is King: On Michael Jackson and Pop Music (2010).

Voice, sekali lagi, menjadi gambaran ketika orang-orang yang disatukan kegairahan sama mencoba memandang dunia dari sudut kecil di kota New York. Mereka membentuk jurnalisme menjadi sesuatu yang “otentik dan tak kenal rasa takut.”

Baca juga artikel terkait JURNALISME atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Maulida Sri Handayani