Menuju konten utama

Tarif Bagasi Mahal Dinilai Akan Buat Maskapai Kehilangan Penumpang

Muhammad Baiquni mengatakan mahalnya tarif bagasi akan lebih berdampak pada maskapai penerbangan itu sendiri.

Tarif Bagasi Mahal Dinilai Akan Buat Maskapai Kehilangan Penumpang
Ilustrasi Bagasi pesawat. FOTO/iStockphoto

tirto.id -

Peneliti pariwisata cum Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Muhammad Baiquni mengatakan mahalnya tarif bagasi akan lebih berdampak pada maskapai penerbangan itu sendiri. Menurut Baiquni tarif tersebut akan berefek pada pangsa pasar maskapai yang bersangkutan.

Hal ini memang berlainan dengan prediksi Kementerian Pariwisata dan pelaku usaha. Sebabnya, Baiquni meyakini masyarakat umumnya tetap mau berwisata walaupun diterpa kenaikan tarif bagasi dan tiket.

"Yang kehilangan wisatwan bukan Indonesia tapi sejumlah airline. Mereka akan kehilangan pangsa pasarnya karena tarif mahal," ucap Baiquni saat dihubungi Reporter Tirto pada Rabu (31/1).

Walaupun sejumlah maskapai beralasan mengenai harga avtur, Baiquni meyakini bahwa pelaku usaha penerbangan perlu beradaptasi dengan kritik masyarakat. Hal ini terutama bagi maskapai penerbangan berbiaya murah atau LCC.

Jika kritik masyarakat tidak ditanggpi dengan baik, ia menduga kombinasi tiket LCC dengan tarif bagasi akan membuat masyarakat memilih maskapai lain dengan kelas yang lebih tinggi. Sebab perbedaan harganya semakin kecil.

"Kalau tidak ada insentif, maskapai penerbangan sendiri akan mengalami penurunan (penumpang). Nanti konsumen lebih milih misalnya ke Garuda sekalian yang juga mahal," ucap Baiquni.

Saat ini Baiquni mencontohkan langkah Citilink yang mau beradaptasi dengan keluhan masyarakat. Ia menilai keputusan Citilink yang mau memberi kemudahan bagasi di bawah 10 kg dapat berdampak baik pada maskapai yang bersangkutan. Karena itu, ia menyarankan agar maskapai lain pun turut beradaptasi.

Sementara itu, menurut Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Guntur Sakti kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan sejumlah maskapai penerbangan tak hanya merugikan penumpang, tapi menimbulkan efek domino bagi sektor lain, seperti pariwisata, perhotelan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

"Kebijakan bagasi berbayar ini menurunkan jumlah penumpang pesawat dan menyebabkan pembatalan perjalanan oleh wisatawan di beberapa tempat," kata Guntur ketika dihubungi reporter Tirto, Kamis (31/1/2019).

Sebab, kata Guntur, sekitar 30-40 persen pengeluaran wisatawan diisi kebutuhan transportasi. Ini diyakini akan menjadi masalah bila persentase itu naik hingga 80 persen dari total pengeluarannya.

Akibatnya, kata Guntur, tidak hanya sektor pariwisata yang terkena imbas, melainkan juga berpengaruh pada okupansi hotel di sejumlah daerah destinasi wisata. "Travel agent misalnya, saat ini ragu bahkan tidak berani menjual paket," kata Guntur.

Baca juga artikel terkait BAGASI BERBAYAR atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nur Hidayah Perwitasari