Menuju konten utama

Tanggapan Demokrat atas Turunnya Tren Elektabilitas Ridwan Kamil-Uu

Asep Wahyuwijaya yakin jika turunnya tren elektabilitas ini akan membuat jalan pasangan Ridwan-Uu menang di Pilkada Jabar semakin sulit. 

Tanggapan Demokrat atas Turunnya Tren Elektabilitas Ridwan Kamil-Uu
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) dan Uu Ruzhanul Ulum menyampaikan visi dan misi saat Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat di Sabuga, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/3/18). ANTARA/M. Agung Rajasa

tirto.id - Politisi Partai Demokrat Asep Wahyuwijaya menilai jika turunnya tren elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum akan berpengaruh pada hasil akhir mereka di Pilkada Jabar 2018.

Berdasarkan hasil survei Indo Barometer mengenai elektabilitas pasangan cagub dan cawagub Jawa Barat pada Januari dan Maret, terjadi penurunan tren 8,1 persen pada pasangan Ridwan-Uu, dari 44,8 persen menjadi 36,7 persen.

Menanggapi survei tersebut Asep yakin jika tren ini akan membuat jalan pasangan Ridwan-Uu menang di Pilkada Jabar semakin sulit.

"Tampaknya bahwa pasangan yang unggul di awal tetapi kalah itu sudah sangat terbaca ini terlihat adanya penurunan 8,1 persen di pasangan Ridwan-Uu," ucap Asep di Fx Sudirman, Jakarta, Kamis(19/4/2018).

Asep menambahkan jika penurunan ini menguntungkan pasangan yang diusung Demokrat yaitu Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. Merujuk survei Indo Barometer pada Januari dan Maret, pasangan tersebut mendapat peningkatan elektabilitas sebesar 3,4 persen dari 27,9 persen menjadi 31,3 persen.

"Ini berbeda dengan pasangan kami yang konsisten naik terus" ucap Asep.

Berbeda dengan Ridwan-Uu, sambung Asep, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi bersifat saling melengkapi. Pasalnya pada sebuah survei terdahulu kala Deddy Mizwar digosipkan akan berpasangan dengan Ahmad Syaikhu, elektabilitas mereka 24 persen. Sedangkan saat Deddy Mizwar berpasangan dengan Deddy Mulyadi, elektabilitas mereka terus beranjak naik pada angka 31,3 persen.

"Pada November tahun lalu pasangan Deddy-Syaikhu mendapat 24 persen dan waktu Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi berpasangan elektabilitasnya meningkat. Ini mencerminkan satu kondisi kalau mereka saling menaikkan elektabilitas," ucap Asep.

Asep sendiri menyakini jika skenario Indo Barometer yang kedua terjadi yaitu pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi akan mampu mengejar elektabilitas Ridwan Kamil-Uu dan memenangkan Pilkada Jabar.

"Maka kami yakin insyaallah yang terbaca pada survei ini bahwa skenario kedua akan terjadi bahwa mereka yang unggul di awal maka pada hasil akhir ternyata kalah suaranya pindah ke yang lain (pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi)," ucap Asep.

Politisi PPP Ervan Maksum pun turut berkomentar. Dia mengatakan bahwa hasil survei ini akan menjadi evaluasi bagi pasangan Ridwan-Uu.

"Ini jadi evaluasi dalam memilih strategi apa yang paling jitu untuk meraih suara. Mungkin kalau pak Ridwan Kamil memiliki semuanya strategi kampanye yang lebih efektif untuk mengatasi tren yang menurun ini," ucap Maksum.

Sebelumnya, Indo Barometer telah merilis survei dinamika dan proyeksi Pilkada Jabar 2018 yang dilaksanakan pada 20-26 Maret 2018. Hasilnya elektabilitas tertinggi dimiliki pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dengan 36,7 persen, disusul Deddy Mizwar-Deddy Mulyadi 31,3 persen, Sudrajat-Ahmad Syaikhu 5,4 persen, dan Hasanudin-Anton Charilyan dengan 3,4 persen.

Pada survei tersebut juga terdapat tiga skenario hasil Pilkada Jabar 2018 yang masih berpeluang terjadi.

Pertama, pasangan Ridwan Kamil-Uu akan menang jika dapat mempertahankan keunggulan elektabilitas sampai hari pemilihan.

Kedua, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi bisa menang jika mampu mengejar ketertinggalan suara yang tidak terlampau jauh dari Ridwan Kamil-Uu.

Ketiga, masih ada peluang muncul kejutan, yakni pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu atau Hasanuddin-Anton Charliyan justru mampu memenangkan Pilkada Jabar 2018.

Baca juga artikel terkait PILGUB JABAR 2018 atau tulisan lainnya dari Naufal Mamduh

tirto.id - Politik
Reporter: Naufal Mamduh
Penulis: Naufal Mamduh
Editor: Ibnu Azis