Sutopo Juwono, Kepala Intel yang Mensponsori Prabowo Masuk Akabri

Prabowo Subianto dan Sutopo Juwono. Foto/Wikipedia
Oleh: Petrik Matanasi - 15 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sutopo Juwono adalah jenderal intel yang pernah menjadi Kepala Bakin. Dia mensponsori Prabowo untuk masuk Akabri.
tirto.id - Sejak usia 18, ketika Republik Indonesia baru berdiri, Sutopo Juwono Prodjohandoko sudah jadi bintara. Lalu dia jadi perwira intelijen. Ketika Badan Istimewa—yang terkenal dengan nama Penjelidik Militaire Chusus (PMC)—terbentuk, Sutopo sudah jadi orangnya spy master Indonesia, Kolonel Zulkifli Lubis. "[Sutopo] sudah ikut saya sejak PMC," aku Zulkifli Lubis dalam memoarnya di majalah Tempo (29/7/1989).

Setelah PMC bubar dan Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI)—dengan satuan Field Preparation (FP) yang tugasnya terkait sabotase, propaganda, perang urat saraf, penyelundupan, dan lainnya—didirikan, Sutopo juga terlibat.

Ken Conboy dalam Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2008: 52) menyebut, “Sutopo, yang mantan perwira PETA ini telah bergelut dengan intelijen semenjak zamannya Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI).” Sutopo muda adalah salah satu anak didik Zulkifli Lubis, seperti juga Yoga Sugama.

“Pokoknya kami ini intelijen tempur sekaligus teritorial,” aku Sutopo Juwono seperti ditulis Z.A. Maulani dalam Melaksanakan kewajiban Kepada Tuhan dan Tanah Air: Memoar Seorang Prajurit TNI (2005: 332).

Sementara Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1989: 153) menyebut pada masa Revolusi Sutopo kerap menjadi perwira intelijen di Kementerian Pertahanan maupun di Staf Umum Angkatan Darat, di mana Lubis menjadi kepala intelnya.


Setelah Lubis tersingkir dari Angkatan Darat, Sutopo memilih bertahan. Sutopo mengaku ada masa dia melihat aksi saling gunting antar kelompok intelijen. Setelah ditempatkan di Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) sebagai perwira intelijen dari 1952 hingga 1955, Sutopo lalu ditempatkan sebagai pengajar, kemudian petinggi, Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) dari 1955 hingga 1963.

Jabatan teritorial diembannya pada 1963 hingga 1965 sebagai Kepala Staf Kodam X Lambung Mangkurat lalu Kodam Jakarta Raya (Jaya). Setelah 1967, dia diangkat menjadi Asisten Intelijen dan Kemanan dari Panglima Angkatan Darat hingga 1970 dengan merangkap jabatan Asisten Intelijen Komando Pemulihan, Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Jabatan pembantu urusan intel daripada Soeharto itulah yang membuat posisi Sutopo makin penting.

Menggantikan Yoga

Ketika Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) Yoga Sugama dicopot, Sutopo—yang lebih junior beberapa tahun—menggantikannya. Prajurit ABRI dengan NRP 14530 ini mengisi jabatan Kepala Bakin dari awal 1970 hingga awal 1974, ketika Peristiwa Malari meletus.

Menjadi Kepala Bakin bukan hal gampang bagi Sutopo. Ada Mayor Jenderal Ali Moertopo yang secara usia lebih senior darinya. Dan parahnya lagi, Ali, yang juga menjadi Asisten Pribadi (Aspri) daripada Soeharto, memimpin Operasi Khusus (Opsus). “Ali Moertopo dilukiskan kerap berbeda irama kebijaksanaan atasan ketimbang mendengarkan petunjuk Kabakin Sutopo Juwono,” aku Sumitro dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 (1998: 68) yang ditulis Heru Cahyono.

Dalih yang biasa dipakai Ali Moertopo adalah “ia berada dibawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden.” Ali pun dimusuhi jenderal-jenderal Bakin.


Ali dikenal sebagai pejabat intelijen yang doyan mempergunakan orang-orang bekas Darul Islam. Reputasinya sebagai orang "di luar kotak" atau berpikir di luar nalar orang kebanyakan cukup dikenal. Itulah kenapa dia sangat diandalkan Soeharto. Sementara Sutopo tidak menyukai hal itu. “Jangan, resikonya terlalu besar nanti, sebab orang-orang DI suka macam-macam karena merasa punya jasa ikut menghancurkan G30S segala macam, nanti mereka menagih janji. Maka lebih baik jangan”.

Seperti biasa, Ali tak ambil pusing. Jurus Ali yang memakai orang-orang bekas DI/TII itu bikin keki para jenderal yang dulu pernah berperang melawan mereka. Mengetahui bekas DI/TII dapat duit, para jenderal itu sakit hati.

Ali akhirnya bertemu lawan yang lebih keras dari Sutopo, yakni Nichlany Soedardjo. Saking beratnya, Ali baru terbebas dari Nichlany setelah sang rival dimutasi sebagai atase pertahanan di Washington. Sutopo sendiri akhirnya kena apes setelah Malapetaka 15 Januari 1974. Dia dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan itu hingga di-dubes-kan oleh Soeharto ke Belanda.

Tak hanya Sutopo yang apes karena kehilangan jabatan Kepala Bakin, Ali juga kehilangan jabatan Aspri dan Opsus. Kepala Bakin pun harus diganti, Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro kemudian dipanggil Soeharto.

“Mitro begini, Sutopo Juwono sudah selesai, turunnya sebentar lagi. Menurut pendapatmu siapa yang tepat menggantikan Sutopo Juwono? Bagaimana pendapatmu kalau Ali Moertopo?” tanya Soeharto pada Soemitro. Soemitro—seperti jenderal lain yang punya masalah dengan Ali—pun tidak setuju.

“Saya rasa kalau Pak Harto menunjuk Ali Moertopo sebagai pengganti Pak Topo, itu keliru Pak,” kata Soemitro. “Kalau dijadikan menteri, silahkan. Bukan saya tidak setuju atau tidak senang dengan Ali, tapi Ali karena tugasnya sebagai Opsus, rekayasa, telah meninggalkan luka di mana-mana. Sehingga nanti banyak orang yang belum apa-apa sudah berprasangka buruk terhadapnya. Padahal Bakin adalah tempat kepercayaan seluruh masyarakat Indonesia.”



Nama Ali pun hilang dari daftar calon kepala intelijen pengganti Sutopo. Soemitro—yang ikut apes setelah Malari—ditanyai Soeharto soal siapa yang layak menggantikan Sutopo.

“Lantas siapa kalau kamu ndak setuju Ali?” tanya Soeharto.

Untuk pertanyaan itu, Soemitro punya jawaban mantap, “Yoga, Pak. Yoga Soegama.”

Yoga adalah Kepala Bakin sebelum Sutopo. “Ia dibebas tugaskan karena kasus hilangnya tas berisi penuh dokumen di pesawat, sewaktu transit di Singapura,” aku Soemitro (hlm. 275). Ada yang menyebut itu adalah ulah Ali untuk mendiskreditkan Yoga.

Setelah Sutopo di-dubes-kan, Ali dijadikan Menteri Penerangan. Setelah 4 tahun jadi duta besar di Belanda, Sutopo dijadikan Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas).

Mensponsori Prabowo

Bagi Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Sutopo punya jasa tersendiri. Sutopo adalah orang mensponsori Prabowo untuk belajar di Akabri Magelang. Ketika Sumitro Djojohadikusumo baru pulang ke Indonesia setelah bertahun-tahun di luar negeri, salah satu pejabat yang sempat mengobrol lama dengan Sumitro adalah Sutopo.

“Pada kesempatan itu bahkan Sumitro sempat 'menyodorkan' anaknya, Prabowo, agar bisa masuk Akabri. Dus, Jenderal Sutopolah yang menjadi sponsor Prabowo masuk Akabri,” tulis Heru Cahyono (hlm. 24).

Di tahun pertama Prabowo di Magelang, Sutopo baru saja menjadi Kepala Bakin. Di tahun terakhir Prabowo, Sutopo sudah bukan lagi Kepala Bakin.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight