Susi Pudjiastuti Sebut Harga Garam Jatuh Karena Banyak Impor

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 15 Januari 2020
Susi Pudjiastuti menyebut bahwa jatuhnya harga garam disebabkan impor berlebihan.
tirto.id -
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 angkat bicara mengenai jatuhnya harga garam di awal tahun 2020.

Menurut Susi, penyebabnya tak lepas dari kebijakan pemerintah yang membiarkan impor mengalir deras sehingga garam petani tak terserap.
"Mulai 2018 Impor naik tinggi sekali. Neraca produksi garam diabaikan. Sehingga harga petani jatuh dan masih belum bisa jual produksinya," ucap Susi dalam akun Twitter @susipudjiastuti, Rabu (15/1/2020).

Penjelasan ini menjadi respon Susi saat menanggapi komentar warganet di akun Twitternya saat Susi memposting berita berjudul "Bikin Meringis, Petani Garam Menangis Impor Garam Makin Sadis".

Kemudian seorang warganet menyebutkan kalau di era Susi impor garam juga terjadi. "Bukannya zaman ibu impor juga," ucap akun @ayaharno.
Namun, Susi menjelaskan kalau jatuhnya harga garam yang terjadi sejak 2018 itu karena ada pengabaian neraca garam. Maksudnya impor dilakukan berlebihan dibanding kebutuhan sebenarnya.

Menurut asosiasi petani garam, hal itu terlihat jelas dari dari hitung-hitungan sederhana, APGRI mencatat kebutuhan garam nasional mencapai 4,2 juta ton per tahun.

Sementara itu, produksi garam dalam negeri hanya mencukupi 2,7 juta ton per tahun sehingga jumlah yang harus diimpor sebenarnya hanya 1,5 juta ton. Namun, kenyataannya importasi garam lebih dari itu.

Jumlah importasi garam bahkan menyentuh 3,7 ton selama 2018 dan 2,7 ton selama 2019.
Susi pun bilang kalau sebelum 2018 importasi garam berhasil dibatasi. Alhasil harga garam petani cukup baik berlipat-lipat dari hari ini yang menyentuh Rp150 per kg.
"2015, 2016, 2017 Impor kita batasi sehingga harga garam petani di atas Rp1.500 per kg sampai Rp2.000 lebih per kg. Semua produksi petani terserap oleh pasar," ucap Susi.


Baca juga artikel terkait HARGA GARAM atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Hendra Friana
DarkLight