Soal Tuduh Cina Dumping Baja, INDEF: Langkah Pemerintah Ketinggalan

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 1 Februari 2019
Negara yang terdampak dari dugaan praktik dumping China ini pun dipastikan tidak hanya Indonesia, tetapi juga negara ASEAN lainnya.
tirto.id - Banjirnya impor baja dari Cina yang menimpa Indonesia diduga berkaitan dengan praktik dumping negara tirai bambu itu. Namun Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pemerintah telat merespon hal itu.

Negara yang terdampak dari dugaan praktik dumping China ini pun dipastikan tidak hanya Indonesia, tetapi juga negara ASEAN lainnya.

Ekonom dari INDEF, Bhima Yudhistira mengatakan negara-negara dunia telah lama merespon keras langkah Cina. Oleh karena itu tuduhan yang belum lama ini dinyatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dinilainya terlambat.

Sebab masalah ini juga telah lama digaungkan oleh pengusaha lokal. Namun, belum ada langkah pemerintah yang dianggap dapat menyelesaikan persoalan.

"Ini kan masalahnya sudah dikeluhkan sejak lama oleh pengusaha lokal. Tapi kalau masih di tahap menuduh, artinya langkah pemerintah ini seperti ketinggalan kereta," ucap Bhima saat dihubungi Reporter Tirto pada Jumat (1/2/2019).

Bhima menuturkan Cina yang tengah mengalami perang dagang dengan AS menerapkan kebijakan yang mempermudah ekpsor komoditas itu. Bentuknya diyakini berupa insentif pajak bagi eksportir sebagai paket dari kebijakan dumping.

Selain itu, Bhima mengatakan keadaan di level dunia ini, juga diperburuk dengan kebijakan dalam negeri. Pasalnya, baja paduan Cina seharusnya dikenakan bea masuk di atas 15 persen.

Akan tetapi, belakangan baja yang dikirim dari Cina dicampur dengan bahan lain sehingga bea masuknya lebih rendah. Bahkan kata Bhima di bawah 5 persen.

"Ini masalah lama yang dibiarkan saja," ucap Bhima.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan penjualan baja indonesia terpukul oleh besarnya produksi baja Cina. Selain harga yang murah, ia menuturkan bahwa efek perang dagang AS-Cina menyebabkan Cina kehilangan pasar baja di negara rivalnya.

Dengan demikian, baja itu pun mengalir deras ke berbagai negara di ASEAN. Tak kurang Enggar pun menuding Cina menjual bajanya lebih murah dari harga domestiknya ke luar negeri atau dumping.

Baca juga artikel terkait IMPOR atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Irwan Syambudi