Soal Peta Kanker RI, Kemenkes Diminta Kerja Sama Lintas Instansi

Oleh: Riyan Setiawan - 9 Juli 2019
Cancer Information & Support Center (CISC) meminta pemerintah melakukan kerja sama lintas instansi dalam hal pembuatan peta kanker seperti yang disarankan YLKI.
tirto.id - Cancer Information & Support Center (CISC) mendukung pernyataan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang meminta kepada pemerintah Indonesia agar dibuat peta kanker seperti di Cina.

Meskipun hal tersebut sudah ada dalam Program penanggulangan kanker nasional di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tetapi dirinya mengatakan, masih diperlukan peningkatan kerja sama lintas instansi, serta dukungan semua pihak.

"Agar program penanggulangan kanker tersebut bisa berjalan dari tingkat pusat sampai di desa," ujar Ketua Umum CISC Aryanti Baramuli kepada Tirto, Selasa (9/7/2019) pagi.

Selain itu, dirinya juga meminta agar program penanggulangan kanker menjadi prioritas Kemenkes. Sebab, kanker merupakan penyakit katastropik yang bukan saja membahayakan nyawa, tetapi membawa bencana finansial bagi pasien dan keluarganya.

"Data WHO [World Health Organization] menyebutkan bahwa beban penyakit kanker lebih besar dibandingkan beban penyakit TB, HIV, dan Malaria," ucapnya.

Sebagai komunitas pasien kanker CISC, Aryanti menolak adanya tembakau. Sebab menurutnya, salah satu korban penderita kanker karena mengonsumsi rokok. Baik secara aktif, maupun pasif.

"CISC selalu edukasi ke daerah-daerah untuk menyuarakan 'Enyahkan asap rokok'," pungkasnya.

Kemudian dirinya pun mendukung upaya YLKI yang meminta kepada pemerintah untuk menjadikan tempat kerja dan tenpat umummu Sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

"Penerapannya harus sesuai Perda dan yang penting implementasi nya," tukas dia.

Sebelumnya, YLKI mendesak pemerintah untuk segera membuat KTR di seluruh tempat kerja maupun tempat umum.

"Pimpinan dan semua pihak harus mewujudkan area KTR, khususnya di tempat kerja, tempat umum, dan angkutan umum," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Senin(8/7/2019).

Tulus mengatakan, adanya KTR merupakan kebutuhan yang sangat mutlak. Hal ini agar kasus meninggalnya Sutopo karena terjerat kanker paru stadium 4B di Guangzhou China (07/07/19) kemarin tidak terulang kembali.


Baca juga artikel terkait PETA KANKER atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight