Sejarah Indonesia

Slamet Riyadi: Mati Muda dengan Gagah Berani

Oleh: Iswara N Raditya - 5 November 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ignatius Slamet Riyadi terlibat dalam sejumlah operasi militer, ia gugur dalam usia yang masih sangat muda: 23 tahun.
tirto.id - Letkol Slamet Riyadi beserta pasukan republik butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai Kota Ambon pada pertengahan 1950 itu. Bukan hanya medan berupa hutan bakau dan hamparan rawa saja yang menghadang, juga kemungkinan serangan mendadak dari musuh bisa datang setiap saat.

Kala itu, Slamet Riyadi merupakan salah satu pemimpin pasukan yang ditugaskan untuk membasmi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di kawasan timur Indonesia. Usianya masih sangat muda, 23 tahun, namun pemuda asal Solo ini sudah menempati posisi penting dalam misi bernama Operasi Senopati itu.

Setelah bersusah-payah menembus liarnya alam dan berkali-kali lolos dari rentetan tembakan lawan, pasukan republik akhirnya berhasil mendekati Benteng Victoria di Kota Ambon pada 4 November 1950. Namun, misi ini rupanya menjadi pengabdian terakhir Slamet Riyadi. Ia tertembak dan mengembuskan nafas penghabisan pada malam harinya.

Nama Slamet Agar Selamat

Slamet Riyadi lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927 dengan nama Soekamto. Ayahnya, Raden Ngabehi Prawiropralebdo, adalah seorang abdi dalem sekaligus perwira di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sementara sang ibunda, Soetati, membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan buah.

Soekamto kecil pernah terjatuh dari gendongan ibunya saat masih berusia 1 tahun. Sejak itu, ia sering sakit-sakitan. Tubuh kecilnya kurus kering, dan fisiknya pun sangat lemah sehingga mudah diserang berbagai penyakit (Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal Anumerta, 1996:9).

Keluarga Soekamto yang tinggal tidak jauh dari lingkungan Kraton Solo menganut ajaran Kejawen. Maka, ditempuhlah ikhtiar yang sesuai tradisi Jawa terkait kondisi Soekamto, yakni dengan cara “menjualnya” kepada salah satu kerabat, yakni pamannya yang bernama Warnenhardjo.

Baca Juga: Peran Ganda Raja Surakarta Berujung Petaka

Sebagai syarat, nama Soekamto harus diganti agar terhindar dari marabahaya. Nama yang dipilih adalah Slamet demi harapan untuk keselamatan hidupnya. Semenjak itu, Soekamto resmi menyandang nama baru: Slamet.

Dalam ritual yang dihadiri oleh para tetua kampung, tokoh adat dan masyarakat, juga warga sekitar tersebut, Warnenhardjo berucap:

“… maka, kami minta serta memohon doa restu dari semua hadirin agar Slamet bisa selalu kalis ing sambekala, terhindar dari segala macam bahaya, tumbuh dewasa, dan selalu berbakti kepada orangtua, masyarakat, bangsa, serta negaranya.” (Julius Pour, Ignatius Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS, 2008:16).

Secara adat, Soekamto alias Slamet sudah menjadi anak dari Warnenhardjo. Meskipun begitu, ia tetap tinggal bersama ayah dan ibunya. Nantinya, ketika Slamet beranjak remaja, ia kembali "dibeli" oleh ayahnya seperti tradisi yang berlaku.

Berjuang Sejak Zaman Jepang

Nama tambahan Riyadi diperoleh Slamet ketika ia duduk di bangku sekolah menengah milik Mangkunegaran di Solo. Nama tersebut diberikan karena di sekolah itu cukup banyak siswa yang bernama Slamet di sekolah (Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal Anumerta, 1996:11).

Slamet Riyadi lulus dari sekolah menengah bertepatan dengan kalahnya Belanda dari Jepang yang kemudian mengambil-alih wilayah Indonesia pada 1942. Slamet yang saat itu baru berusia 15 tahun memutuskan merantau ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan di akademi kelautan milik pemerintahan militer Jepang.

Baca Juga: Muradi Dipenggal Mati Karena Jepang Ingkar Janji

Hingga suatu malam di dekat Stasiun Gambir, Slamet Riyadi bersua dengan para pejuang yang bergerak dari secara sembunyi-sembunyi dengan harapan bisa mengusir Jepang suatu saat nanti. Nah, ketika Jepang akhirnya kalah oleh Sekutu dalam Perang Dunia II, Slamet Riyadi mengajak rekan-rekannya sesama pelaut untuk turut mengangkat senjata.

Salah satu gebrakan Slamet Riyadi dan rekan-rekannya pada masa ini adalah berhasil membawa kabur kapal milik Jepang, serta menggalang kekuatan dari para prajurit Indonesia yang sebelumnya tergabung dalam kesatuan militer bentukan Dai Nippon (National Geographic Indonesia, 23 September 2013).

Slamet Riyadi kemudian kembali ke Solo untuk membantu perjuangan rakyat di sana hingga akhirnya Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu, ia sepenuhnya membaktikan diri untuk mempertahankan kemerdekaan RI karena Belanda yang ingin berkuasa lagi telah datang kembali.

Bergabung dengan angkatan perang RI, Slamet Riyadi langsung terlibat sentral dalam berbagai aksi perjuangan melawan Belanda, termasuk Agresi Militer Belanda I dan II yang masing-masing terjadi pada 1947 dan 1949.

Slamet Riyadi memimpin Serangan Umum Kota Solo selama 4 hari dari tanggal 7 hingga 11 Agustus 1949. Serbuan frontal ini mengakibatkan 7 tentara Belanda tewas dan 3 orang lainnya menjadi tawanan (Sewan Susanto, Perjuangan Tentara Pelajar dalam Kemerdekaan Indonesia, 1985:86).

Keberhasilan ini membuat Slamet Riyadi semakin dilibatkan dalam misi-misi berikutnya yang tak kalah penting. Selain itu, usai Serangan Umum Kota Solo yang sukses besar tersebut, Slamet Riyadi dibaptis di Gereja Santo Antonius Purbayan Solo. Namanya kemudian menjadi Ignatius Slamet Riyadi.

Infografik Ignatius Slamet Riyadi

Gugurnya Prajurit Pemberani

Slamet Riyadi selalu terlibat dalam operasi-operasi militer penting angkatan bersenjata RI selanjutnya. Ia terlibat dalam usaha menghentikan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) juga gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, lalu menghadapi pasukan Andi Aziz di Makassar, hingga dikirim ke Ambon kontra Republik Maluku Selatan (RMS).

Baca Juga: Ketika Pengusaha Main Mata Dengan Westerling

Pada suatu kali saat menjalankan tugas, Slamet Riyadi pernah menyatakan cita-citanya kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya, Kolonel A.E. Kawilarang.

“Kalau operasi ini selesai, saya ingin membentuk pasukan khusus yang setangguh pasukan baret hijau Belanda seperti yang kita hadapi saat ini,” ucap Slamet Riyadi kala itu.

Keinginan itu tak kuasa diwujudkan. Namun, cita-cita Slamet Riyadi ditunaikan A.E. Kawilarang dengan membentuk Kesatuan Komando (Kesko), lalu berturut-turut berganti nama Korp Komando Angkatan Darat (KKAD), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha), hingga menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Slamet Riyadi meninggal dunia terlalu dini. Pada 4 November 1950, perutnya terkena berondongan peluru di depan gerbang Benteng Victoria di Kota Ambon. Usai tertembak, Slamet Riyadi langsung diamankan untuk segera mendapatkan pertolongan medis.

Meskipun perutnya terluka parah, ia terus memberikan instruksi agar disampaikan kepada pasukannya yang masih bertempur di Ambon. Di rumah sakit darurat di atas kapal di perairan Tulehu, Maluku Tengah, dokter dan tenaga medis lainnya berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa Slamet Riyadi.

Baca Juga: Belanda Melepas Manhattan Demi Pulau Kecil di Maluku

Namun, Tuhan berkehendak lain. Soekamto yang namanya sudah diganti menjadi Slamet dengan harapan selalu mendapat keselamatan ternyata tidak tertolong. Di hari yang sama, pukul 11 malam, Slamet Riyadi menghembuskan nafas terakhirnya.

Jasad sang perwira muda dimakamkan di Tulehu atas permintaan masyarakat setempat. Sedangkan sebagian tanah kuburnya dibawa ke Surakarta untuk disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Solo.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS
a