Singapura Resesi, Sri Mulyani Sebut Permintaan Domestiknya Tak Kuat

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 16 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Sri Mulyani mengatakan Singapura tidak banyak memiliki alternatif ekonomi lain seperti permintaan domestik.
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan alasan di balik resesi yang dialami Singapura, usai mengumumkan kinerja pertumbuhan ekonominya yang minus selama dua kuartal berturut-turut.

Sri Mulyani menjelaskan resesi itu terjadi karena Singapura cukup bergantung pada arus perdagangan dunia yang notabene sedang terpuruk akibat COVID-19. Porsi ekspornya, kata Sri Mulyani, bahkan di atas 100 persen.

Di tengah tingginya ketergantungan itu, Sri Mulyani menjelaskan Singapura tidak banyak memiliki alternatif ekonomi lain seperti permintaan domestik. Dengan demikian, hilangnya potensi perdagangan internasional langsung memengaruhi pertumbuhan Singapura.

“Ekonomi mereka kecil sehingga domestic demand tidak bisa mensubstitusi. Oleh karena itu penurunan Singapura sangat besar. Karena ya memang tidak terjadi perdagangan internasional yang selama ini menjadi engine growth-nya Singapura,” ucap Sri Mulyani kepada wartawan di DPR RI, Rabu (15/7/2020).

Kondisi itu, katanya, diperburuk dengan pembatasan aktivitas di Singapura yang di Indonesia disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan terhentinya kegiatan, maka ekonomi domestik Singapura yang tidak terlalu kuat pun juga ikut terpukul.

Berbeda halnya dengan Indonesia. Sri Mulyani mengatakan Indonesia memiliki mesin pertumbuhan berupa konsumsi dalam negeri yang tidak dimiliki Singapura. Lalu pertumbuhan Indonesia juga didukung oleh investasi dan ekspor.

“Kali ini pemerintah akan menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk menjadi salah satu mensubstitusi pelemahan di sisi konsumsi, investasi maupun ekspor,” ucapnya.

Sri Mulyani juga memastikan kalau resesi yang dialami Singapura belum akan menimbulkan gangguan signifikan pada Indonesia. Ia bilang faktor itu masih lebih ditentukan oleh keadaan ekonomi global secara lebih luas ketimbang satu negara.

“Singapura kan sebagai HUB. Jadi kami lihat permintaan yang sifatnya final ke Singapura atau ke negara lain, maka mereka akan sangat ditentukan oleh kondisi perekonomian global,” kata Sri Mulyani.


Baca juga artikel terkait SINGAPURA RESESI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight