tirto.id - Kecelakaan tragis bus ALS dan truk tangki di Jalan Lintas Sumatera, Musi Rawas Utara pada Rabu, 6 Mei kemarin masih terus diselidiki penyebab pastinya. Publik pun penasaran dengan sosok pemilik armada bus yang telah lama lalu lalang di dunia transportasi tanah air ini.
Bus ALS disebut dimiliki oleh beberapa orang yang merupakan penerus dari generasi pendiri perusahaan ini. Berawal dari angkutan hasil bumi dan hutan, ALS berhasil sukses menjadi angkutan penumpang dan telah berdiri selama 60 tahun lamanya.
Sejarah Berdiri dan Pemilik Bus ALS
PT Antar Lintas Sumatra (ALS) merupakan salah satu perusahaan otobus legendaris Indonesia yang berasal dari Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatra Utara.
Perusahaan ini resmi berdiri pada 29 September 1966 berdasarkan akta notaris nomor 50 dengan nama awal PT Pengangkutan dan Industri Antar Lintas Sumatra.
ALS didirikan oleh tujuh saudagar bersaudara asal Mandailing yang dipelopori oleh Haji Sati Lubis. Pada awalnya, usaha mereka bukan bergerak di bidang transportasi penumpang, melainkan perdagangan hasil bumi dan hasil hutan.
Untuk mengangkut barang dagangan, mereka menggunakan truk-truk angkutan. Dari situlah muncul gagasan untuk mengubah kendaraan angkut barang menjadi sarana transportasi penumpang.
Armada pertama ALS menggunakan truk dan bus model Chevrolet C-50 yang awalnya hanya berjumlah dua unit. Dalam masa awal operasionalnya, ALS melayani trayek sederhana seperti Kotanopan–Medan dan Medan–Bukittinggi.
Namun seiring berkembangnya kebutuhan transportasi di Pulau Sumatra, jaringan ALS terus meluas hingga menjangkau Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Jambi, Bengkulu, Palembang, hingga Lampung.
Pada masa itu, kondisi jalan di Sumatra masih sangat terbatas, banyak jalur yang melewati hutan lebat, jalan berbatu, serta medan berat yang membutuhkan waktu perjalanan berhari-hari.
Meski demikian, ALS tetap berkembang dan menjadi salah satu penghubung utama antarwilayah di Sumatra, terutama bagi para perantau yang bekerja atau menuntut ilmu di Pulau Jawa.
Perkembangan ALS semakin pesat setelah dibukanya jalur penyeberangan feri Merak–Bakauheni sekitar tahun 1980. Sebelumnya, bus ALS hanya berhenti sampai Lampung karena keterbatasan kapal penyeberangan untuk kendaraan besar.
Setelah tersedia kapal feri yang lebih besar, armada ALS mulai menyeberang ke Pulau Jawa dan membuka trayek jarak jauh hingga Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Solo, Pati, bahkan Jember.
Salah satu trayek paling terkenal adalah Medan–Jember dengan jarak hampir 3.000 kilometer dan waktu tempuh hingga lima hari perjalanan.
Trayek panjang inilah yang membuat ALS dikenal unik karena penumpang dan kru bus hidup bersama selama berhari-hari di perjalanan. Dari pengalaman tersebut muncul ungkapan populer di kalangan penumpang ALS, yaitu “naik sebagai penumpang, turun sebagai saudara.”
Nama besar ALS juga tidak lepas dari peran Chandra Lubis sebagai generasi penerus perusahaan keluarga. Ia melanjutkan warisan bisnis yang dibangun ayahnya bersama saudara-saudaranya sejak era 1960-an.
Selain Chandra, generasi kedua ALS juga diisi oleh tokoh-tokoh keluarga pendiri lainnya, termasuk Efrizal Nursewan atau yang akrab disapa Ical.
Ia sempat menjadi pegawai negeri sipil dan bertugas di Papua sebelum akhirnya kembali mengelola perusahaan keluarga setelah orang tuanya meninggal dunia. Menurutnya, menjaga nama besar ALS merupakan amanah keluarga yang harus dipertahankan lintas generasi.
"Saya dari dulu sendiri. Tamat SMA saya kuliah di Jakarta. Tamat kuliah saya jadi PNS. Saya sempat ditugaskan di Irian Jaya (Papu) 2 tahun," ujar Ical di kanal YouTube PerpalZ TV pada Juli 2022.
"Sesudah orang tua saya meninggal saya kembali. Ini sudah diamanahkan, saya tidak boleh kembali ke Jayapura. Ini harus kau diteruskan," lanjutnya.
ALS dikenal sebagai perusahaan otobus yang dikelola secara kekeluargaan. Kepemilikan armada tersebar di beberapa keluarga pendiri, yang ditandai melalui sistem nomor pintu atau “nopin” pada setiap bus.
Angka terakhir nomor pintu biasanya menunjukkan kepemilikan armada tertentu oleh keluarga pendiri. Sistem tersebut menjadi salah satu ciri khas ALS yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Nomor pintu dengan akhiran angka 1 merupakan armada milik keluarga almarhum Haji Sati Lubis, yang juga merupakan orang tua dari Direktur Utama ALS saat ini.
Akhiran angka 3 menandakan bus milik keluarga almarhum Haji Rasyad Nasution. Nomor dengan ujung 5 dimiliki Japarkayo Hasibuan, angka 7 milik keluarga almarhum Haji M. Arief Lubis, sedangkan angka 8 merupakan armada milik keluarga almarhum Haji Abdul Wahab Lubis dan Haji Hasbullah Lubis.
Untuk nomor berakhiran 9 dan 0, armada tersebut diketahui berasal dari kepemilikan keluarga almarhum Nursewan Lubis dan almarhum Rangkuti. Selain itu, terdapat pula beberapa armada dengan nomor acak yang dimiliki keluarga lain seperti keluarga almarhum Haji Hamzah Nasution dan almarhum M. Nasir Daulay.
Selain terkenal karena trayeknya yang sangat panjang, ALS juga dikenal luas di dunia transportasi darat sebagai “Si Raja Jalanan.” Julukan ini muncul karena luasnya jaringan trayek ALS yang membentang dari ujung utara Sumatra hingga Pulau Jawa.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























