Siapa Pemenang "Perang Dagang" antara Amerika dan Cina?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbincang dengan Presiden China Xi Jinping di wilayah bagian Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, AS, Kamis (6/4). ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria/djo/17
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 9 April 2018
Dibaca Normal 5 menit
Gayung saling bersambut dalam ketegangan kebijakan proteksi perdagangan antara AS dan Cina. Siapa akan keluar jadi pemenang?
tirto.id - China is sleeping lion. Let her sleep, for when she wakes she will shake the world

Napoleon Bonaparte pernah berucap demikian untuk menggambarkan kekuatan Cina. Nyaris dua abad setelah ucapan Napoleon, Amerika Serikat (AS) seolah sedang mengusik tidur tenang "sang singa".

Presiden AS Donald Trump berani dan secara terang-terangan menabuh genderang perang terhadap Cina. Presiden ke-45 AS itu melancarkan proteksi perdagangan terhadap Negeri Tirai Bambu.

Namun, di akun Twitter pribadi, seperti ditulis Bloomberg, Trump berkicau bahwa apa yang dilakukan AS terhadap Cina bukanlah perang dagang. Saat ini, AS memiliki total defisit perdagangan sampai dengan $500 miliar per tahun, dengan pencurian kekayaan intelektual senilai $300 miliar. Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Trump kemudian juga menulis “Ketika Anda sudah kehilangan $500 miliar, Anda tidak boleh kalah”.

Ini merefleksikan defisit neraca perdagangan AS-Cina yang memiliki kesenjangan mencapai US$ 337,18 miliar. Pengenaan tarif memang bertujuan untuk memangkas defisit perdagangan Negeri Paman Sam terhadap Cina, yang terus menggunung dan telah menembus angka $300 miliar sejak 2014.


US Trade Representative (USTR) merilis proposal tarif impor bea impor masuk sampai dengan 25 persen, kepada lebih dari 1.300 produk asal Cina dengan nilai berkisar $50 miliar. Dokumen setebal 58 halaman yang ditandatangani oleh Robert E. Lighthizer tersebut, memuat secara rinci daftar produk asal Negeri Tirai Bambu yang dikenakan tarif bea masuk impor. Bahkan seperti dilaporkan Reuters, proposal tarif impor itu akan ditingkatkan menjadi $100 miliar.

Dalam rincian daftar di laman sebagian besar produk Cina yang dikenakan tarif bea masuk impor berupa barang teknologi, senyawa kimia, transportasi, produk medis atau farmasi seperti antibiotik, robot industrial serta produk perakitan pesawat.

USTR menyatakan pengenaan tarif impor ini sebagai hukuman bagi Cina yang dituding menjalankan praktik pelanggaran hak atas kekayaan intelektual milik perusahaan AS yang berekspansi di Cina. Aturan tersebut termaktub dalam Section 301 di bawah aturan perdagangan yang berlaku sejak Agustus 2017.

USTR menetapkan produk Cina yang masuk dalam daftar pengenaan bea masuk impor melalui alogaritma dan diperingkat sesuai dengan besarnya dampak bagi konsumen AS. Daftar pajak impor yang diajukan USTR tidak termasuk produk yang berfokus pada produk konsumen seperti telepon seluler maupun laptop yang dirakit di Cina.

Jack Cutts, Direktur Senior Riset Bisnis di Consumer Technology Association mengungkapkan seperti ditulis CNN, daftar yang dirilis oleh USTR tersebut akan membuat konsumen yaitu masyarakat AS membayar lebih tinggi untuk membeli barang-barang konsumsi. Mulai dari hal yang kecil seperti perangkat elektronik, lampu LED, kawat tembaga, kapasitor maupun resistor.

Kenaikan harga barang di AS akhirnya akan tergantung pada ketersediaan komponen pengganti. Industri AS kemungkinan akan menemukan cara untuk menekan biaya produksi yang membengkak dengan memanfaatkan lebih banyak fasilitas manufaktur di negara lain, seperti Brasil dan Vietnam.

Meski demikian, Senior Wakil Presiden Hubungan Pemerintah di National Retail Federation David French menuturkan, tidak ada cara yang mudah apakah perusahaan AS akan menaikkan harga barang sehubungan dengan kenaikan biaya produksi akibat efek perang dagang ini. Menurut David, harga yang lebih tinggi dalam bentuk apapun akan mempersulit pengusaha ritel untuk menjual barang terutama selama musim liburan mendatang.



Meski barang-barang seperti pakaian dan sepatu tidak masuk dalam daftar, namun mungkin akan muncul tiba-tiba dalam daftar selanjutnya. Suku cadang dan mesin yang digunakan untuk memproduksi barang-barang termasuk dalam daftar, sehingga dapat memengaruhi harga jual,” kata David seperti dikutip dari CNN.

Berselang 24 jam pasca pengumuman AS, negara yang dipimpin oleh Xi Jinping ini melancarkan serangan balasan dengan mengumumkan bea masuk tarif impor barang asal AS sebesar 15-25 persen untuk sekitar 106 produk.

Proposal tarif impor ala Cina diterapkan pada produk impor utama asal AS seperti kedelai, pesawat, mobil, wiski, daging asal AS dan bahan kimia. Meski belum jelas kapan berlakunya, tapi Kementerian Perdagangan Cina menegaskan bahwa pengenaan tarif tersebut dirancang untuk memungut tarif produk AS hingga $50 miliar setiap tahun.

Kedua negara sepertinya telah mengkalibrasi tindakan dengan angka impor senilai masing-masing $50 miliar. Melansir data Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS, nominal tersebut menyumbang sepertiga impor Cina dari AS sepanjang 2017 kemarin. Sedangkan untuk AS, angka $50 miliar kurang dari sepersepuluh realisasi ekspor Cina ke AS.

Target retribusi tambahan yang diusulkan Beijing ini, menyerang inti hubungan komersial antarkedua negara dan beberapa komoditas yang paling sensitif secara politik di konstituen Donald Trump. Misalnya saja, impor kedelai. Cina merupakan pembeli terbesar kedelai AS di dunia dengan nilai perdagangan sekitar $14 miliar sepanjang tahun lalu. Negara bagian AS yang menyokong industri pertanian, merupakan pendukung kuat Trump dalam pemilihan presiden 2016 lalu.

Para petani kedelai AS juga khawatir, pengenaan tarif bea masuk impor akan mendorong Cina untuk membangun hubungan dagang yang lebih kuat dengan Brazil maupun Argentina. Akibatnya, ekspor kedelai AS ke Cina dapat berkurang dalam jangka panjang. Pengumuman balasan Cina, membuat harga kontrak berjangka kedelai di Chicago Futures mengalami penurunan sampai dengan 5,3 persen pada perdagangan hari Rabu (4/4) waktu setempat.

Pembuat anggur di California, AS, juga sangat marah dengan tarif bea masuk impor wine Golden Sate oleh Cina. Anggur AS populer di Cina dan nilai impor komoditas ini mencapai US$ 82 juta anggur Amerika tahun lalu. Pengenaan bea masuk bisa menjadi anugerah besar bagi produsen anggur di Cile, Selandia Baru dan Australia, yang memiliki transaksi perdagangan bebas dengan Cina.

Jika Cina memperluas tarifnya di produk pesawat, perusahaan penerbangan Boeing Co. juga bisa menderita. Todd Harrison, Direktur proyek keamanan kedirgantaraan di Pusat Strategis dan Pembelajaran Internasional menuturkan, seperti ditulis Los Angeles Times, pasar komersial Boeing terbesar adalah Cina, di mana sekitar 1 dari setiap 4 pesawat Boeing dikirim ke pelanggan Cina.





Apa yang terjadi pada dua negara mendapat tanggapan dari banyak praktisi perdagangan maupun analis global. Winter Nie, Direktur Regional Asia Tenggara dan Oseania dari International Institute for Management Development (IMD) misalnya, dalam tulisannya berjudul Why America would lose a trade war with China menyebutkan bahwa perang dagang tidak akan menjadi bencana bagi Cina. Utamanya karena AS membutuhkan Cina lebih dari sebaliknya.

Jika perang dagang terjadi dua dekade lalu, AS masih memiliki kemungkinan untuk menang. Namun, situasi saat ini telah berubah drastis, di mana Cina juga sudah bertransformasi menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.



Menurut Winter, saat ini Cina memiliki sebagian besar dari apa yang dibutuhkan AS dan apa yang tidak dapat diperoleh dengan mudah oleh vendor di luar AS. Sementara, pasar AS yang terlihat menarik beberapa dekade yang lalu, saat ini relatif "matang". Negara-negara berkembang lainnya telah menjadi pasar baru yang jauh lebih menarik bagi Cina.

Ia menambahkan, Cina merupakan pasar yang tidak boleh diabaikan begitu saja oleh AS. Akhir 2015, konsumen Cina telah membeli 131 juta produk iPhone yang hanya sebagian kecil dari ekspor AS. Boeing, produsen pesawat yang mempekerjakan 150.000 pekerja di AS, memperkirakan bahwa Cina akan membeli sekitar 6.810 pesawat selama dua dekade ke depan.

Dari pasar itu saja, akan bernilai lebih dari $1 triliun,” tulis Winter.

Masih merujuk apa yang dikatakan Winter, Cina akan dengan senang hati menggeser triliunan dolar dalam pembelian pesawat di masa depan ke perusahaan Eropa yang sudah berinvestasi membangun pabrik di Cina yaitu Airbus. Untuk ponsel, produk lokal Cina macam Huawei, HTC serta pabrikan Korea Selatan yaitu Samsung, juga akan mengisi kekosongan pasar iPhone dengan segera.

Untuk kendaraan roda empat, akan banyak masyarakat Cina yang mengendarai merek mobil Eropa seperti BMW, Mercedes, dan juga Lexus. Winter juga mencatat, dampak paling langsung dari perang dagang justru akan dirasakan oleh perusahaan ritel AS seperti Walmart. Sebab, perusahaan yang didirikan oleh Sam Walton itu mengimpor miliaran dolar barang murah asal Cina yang dikonsumsi oleh masyarakat AS.


Nantinya hampir harga barang akan cepat meroket alias menjadi mahal, di luar jangkauan masyarakat level ekonomi lebih rendah di AS. Hasilnya, akan terjadi perang ekonomi dan posisi Cina jauh lebih memungkinkan untuk menang,” tulis Winter.

Michael Pettis, profesor keuangan di Guanghua School of Management Universitas Peking menyatakan, pada prinsipnya perang dagang adalah sesuatu yang terjadi pada negara-negara defisit, dengan ekonomi yang terdiversifikasi harus menang dan negara surplus selalu kalah. Jadi itu bukan benar-benar pertarungan yang sulit.

“Itu tidak berarti bahwa negara-negara defisit tidak dapat mengacaukan. Dan sayangnya, pendekatan yang diambil AS tidak akan benar-benar mengatasi defisit,” kata Pettis seperti dilansir dari South China Morning Post.

Wei Li, ekonom senior Standard Chartered di Shanghai-Cina, memperkirakan perang perdagangan berbasis luas antara AS dan Cina akan merugikan Negeri Tirai Bambu sebesar 1,3 persen-3,2 persen dari PDB. Ini dengan perkiraan terakhir mewakili skenario ekstrem di mana AS melarang semua impor Cina.

“Untuk AS, kerugian yang dirasakan juga akan sebanding dengan 0,2 persen sampai dengan 0,9 persen,” ujar Wei Li seperti dilansir dari Financial Times

Sementara itu, Arthur Kroeber dari Gavekal-Dragonomics, sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Beijing mengungkapkan poin utama Cina lainnya adalah ketergantungan perusahaan-perusahaan AS di pasar domestik Cina. Ketergantungan layanan serta pendapatan perusahaan oleh unit lokal perusahaan AS seperti Apple, General Motors, dan Caterpillar.

Menurut Kroeber, bisnis perusahaan AS rentan terhadap berbagai bentuk gangguan. Sebab, banyak yang kemungkinan akan rentan terganggu akibat kesalahan peraturan. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan Cina tetap lebih terfokus di dalam negeri.

Bila melihat kenyataan-kenyataan itu, Cina sebagai negara yang surplus perdagangan dengan AS, cenderung di atas angin. Masyarakat negara mana yang paling terpukul dari aksi proteksi perdagangan ini tentu jadi pihak pesakitan. Sudah dapat ditebak siapa yang kalah dalam perang proteksi perdagangan ini.

Baca juga artikel terkait PERDAGANGAN atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dea Chadiza Syafina
Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra
DarkLight