"Siapa Ayah Donor Sperma Saya?"

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 18 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Mereka adalah anak-anak yang terputus dari setengah identitas biologisnya.
tirto.id - Donor sperma adalah bisnis besar industri kesuburan. Ini karena jasa pendonor dibutuhkan oleh mereka yang ingin jadi orang tua tunggal, LGBT, dan yang susah mendapat keturunan. Namun, menjadi pendonor sperma tak semudah yang dibayangkan. Sampai ada anggapan, tesnya lebih susah daripada ujian masuk Harvard.

Persoalannya, ketika dewasa, anak-anak dari sang yang penerima donor, merasa berbeda dan mencari tahu siapa ayah donornya. Selain itu, bisa memantik hubungan kekerabatan yang tak disengaja di masa mendatang, konsekuensi dari kegiatan donor sperma.

Misalnya Natasha Fox, saat usianya 21 tahun, dia menulis artikel untuk The Guardian. Dia mencoba menggedor gerbang yang telah lama terkunci. Dia mencari asal usul identitas biologisnya dengan artikelnya bertajuk, “Siapa ayah donor sperma saya?”

Lahir dari ibu tunggal membuat Fox yakin bahwa seks bukan satu-satunya cara membuat bayi. Hidupnya bergelimang stigma sosial. Dia selalu iri pada hubungan teman sebaya yang memiliki hubungan rekat dengan seorang yang mereka sebut sebagai ayah.

Fox tahu dari mana dia sangat tertarik pada teater dan musik klasik yang sama sekali tak dimiliki ibunya. Saat Fox berusia 14 tahun, ibunya mendapat klue dari Otoritas Embriologi Pemupukan Manusia (HFEA) bahwa, proses kelahirannya dibantu seorang yang cerewet, ekstrovert, berminat pada seni dan teater, dan profesinya ialah sutradara teater.



Empat tahun setelahnya, Fox mencari tahu lebih jauh, siapa donatur sperma bagi ibunya. “HFEA menjawab, memberi tahu saya bahwa saya memiliki empat saudara tiri, dua anak perempuan dan dua anak laki-laki- lahir pada 1992 dan 1993,” tulis Fox pada 23 Februari 2013.

Namun, informasi lanjutan tak dia dapatkan. HFEA hanya akan memberikannya jika empat saudara dari pendonor yang sama itu mendaftar secara sukarela.

“Saya harap artikel ini dapat membantu saya melakukan kontak dengan sutradara teater yang menarik dan empat saudara tiri. Saya juga ingin tahu apakah orang lain memiliki cerita yang serupa dengan saya dan bersedia membagikannya,” ujarnya.

Nyaris setahun setelahnya, Chris Whitman membalas surat Fox. Kepada The Guardian, dia menulis artikel sebagai seorang pendonor sperma ke HFEA. Sperma yang dia donorkan telah melahirkan 20 anak perempuan dan 14 anak laki-laki.



“Lebih dari tiga tim sepak bola berharga yang hidup dengan gen saya,” tulis Whitman.

Whitman adalah pendonor anonim. Saat membaca artikel Fox, dia mulai berpikir untuk membuka identitasnya dan tak bersikap egois. Namun, Fox bukanlah anak donor Whitman. Mereka berdua hanya ingin pendonor dan anak donor bersikap saling terbuka.

infografik mencari separuh identitas genetik


Saling Mempertemukan Keluarga

Saat berusia 18 tahun, Emily Nappi mencari tahu melalui Facebook, siapa yang akan menjadi teman sekamarnya saat diterima di Tulane University, New Orleans. Beberapa minggu setelahnya, rekan sekamar Emily, Mikayla Stern-Ellis, 19 tahun mengunggah tentang ayah biologisnya dari donor sperma.

Saat perkuliahan berlangsung, kedua remaja itu aktif dalam kegiatan teater kampus. Keduanya menjadi aktris teater berjudul “Vagina Monologues”. Keduanya lahir di California. Emily pernah membeli jaket berbulu domba dan ternyata Emily juga punya jaket yang sama persis. Kesamaan antara Emily dan Mikayla tak didapati pada masing-masing orang tua resmi mereka.

"Saya panik," kenang Emily kepada Today ketika mendapat kabar bahwa dia dan Mikayla lahir atas bantuan pendonor sperma yang sama. "Aku ketakutan. Aku mulai berlari di sekitar rumah berteriak dan memberitahu semua orang."



Mereka berdua menjadi saudara tiri. Keluarga keduanya saling bertemu. "Ini benar-benar keren untuk mendapatkan lebih banyak keluarga," kata Mikayla. Namun, keduanya belum punya kesepakatan yang bulat untuk bertemu ayah donornya.

Begitu juga dengan Liz Herzog, 12 tahun dari Chicago, Amerika Serikat menyadari bahwa dirinya bukanlah anak tunggal setelah bertemu Callie Frasier-Walker, 10 tahun. Keduanya dilahirkan dari pendonor sperma yang sama. Mereka adalah dua gadis Chicago yang memiliki lesung pipi di dekat mata kanan, ciri itu tak ada di keluarga resminya.

Saat mengetahui bahwa Walker adalah saudara jauhnya, Herzog berkata pada The New York Times bahwa itu “adalah yang terbaik di dunia.”

Keduanya saling berkirim surel, lalu mempertemukan keluarga besar masing-masing di rumah Walker di Chester County, Pennsylvania, Amerika Serikat. "Itu bukan reuni karena tidak ada yang pernah bertemu sebelumnya," kata Herzog.

Siapa yang Ingin Bertemu?

Beberapa anak donor menghimpun diri untuk membentuk Donor Sibling Registery (DSR). Sejak 2005 mereka membantu melacak ikatan genetik mereka yang dibantu pendonor sperma.

Berkat DSR, lima keluarga berkumpul bersama di Orlando, Florida, Amerika Serikat. Dua keluarga pasangan lesbian dan tiga lainnya pasangan heteroseksual. Anak-anak mereka lahir dibantu pendonor sperma yang sama.

Menurut Direktur DSR, Wendy Kramer, kehadiran organisasinya membuat para orang tua cemas. Mereka takut muncul keretakan dalam keluarganya. Namun, dia yakin, lambat laun anak-anak donor akan memahami bahwa dirinya berbeda dengan keluarga resminya. Jika terus-menerus disembunyikan, itu justru akan berdampak buruk bagi psikologi anak.

Setidaknya ada 74 persen orangtua dan 69 persen keturunan yang berupaya mencari saudara donornya. Hanya 13 persen dari mereka menyatakan bahwa mereka tidak akan mencari saudara donor. Hal itu tercantum dalam penelitian Wendy Kramer berjudul “Donor sibling networks as a vehicle for expanding kinship: A replication and extension” tahun 2017. Riset itu mengambil sampel 2.217 orang tua dan 419 anak.

Sebanyak 62 persen orang tua mencari tahu saudara donor anaknya untuk mengetahui riwayat medis anaknya. Kemudian 68 persen orang tua memberikan status sebagai keluarga baru saat bertemu saudara donor anaknya.



Selain itu, ada 68 persen anak donor yang ingin bertemu lagi dan membangun hubungan yang intensif dengan saudara donornya.

Lantas bagaimana dengan sikap pendonor sperma?

Sebanyak 73 persen dari mereka telah melihat foto anak donornya sendiri. Itu berdasarkan penelitian T. Freeman dari Universitas Cambridge. Riset yang terbit tahun 2016 itu bertajuk “Online sperm donation: a survey of the demographic characteristics, motivations, preferences and experiences of sperm donors on a connection website”.

Kemudian ada 26 persen pendonor sperma yang mengaku telah bertemu dengan anak donornya. Donatur berlatar belakang gay dan biseksual lebih banyak mau menemui anak donornya, yakni 58 persen. Sedangkan donor heteroseksual hanya 19 persen.

Studi lain dilakukan R. Hertz, dari Perguruan Tinggi Wellesley, Amerika Serikat pada 2015. Riset itu berjudul “Sperm donors describe the experience of contact with their donor-conceived offspring".

Herzt mendapati 65 persen pendonor sperma mencari tahu ke mana donasi mereka dialirkan. Kemudian 59 persen donatur anonim dan 73 persen donatur yang melepas identitas, telah menghubungi klinik tempatnya berdonasi untuk mencari tahu berapa anak yang lahir dari spermanya.

Ada 97 persen pendonor anonim dan 100 persen pendonor non-anonim penasaran, seperti apa anak yang lahir dari spermanya. Di sisi lain 80 persen pendonor anonim dan 94 persen pendonor non-anonim penasaran, apakah anak keturunan dari donasinya memikirkan tentang siapa pendonornya.




Dari semua pendonor, 31 persen menganggap hubungan dengan anak donornya susah dijelaskan. Kemudian 22 persen di antaranya menganggap anak donornya seperti putra atau putrinya sendiri. Selain itu 16 persen pendonor menganggapnya kerabat dekat dan 11 persen menganggap seperti seorang teman.

Sejauh ini masih banyak negara yang mempersulit anak donor melacak ayah biologisnya. Di Jerman, Asosiasi Spenderkinder ikatan anak donor sperma menolak pendonor sperma yang merahasiakan identitas atau anonim. Mereka menganggap masih banyak klinik reproduksi yang memutus hak anak donor untuk mengetahui keturunan genetisnya. Spenderkinder juga mendesak agar orangtua yang mendapat bantuan dari para pendonor jujur pada anaknya.

Di Australia, upaya mencari tahu pendonor sperma adalah perbuatan yang dinyatakan legal oleh negara sejak 1 Maret 2017. Mereka memasukkan payung hukum itu dalam Amandemen terhadap Undang-Undang Perawatan Reproduksi Terpadu. Setiap orang berhak mengakses informasi identitas yang tersedia tentang donor mereka, terlepas dari kapan mereka dilahirkan.

Selain Australia, beberapa negara yang menghapus anonimitas donor ialah: Finlandia, Islandia, Belanda, Swiss, Inggris, Selandia Baru, dan beberapa negara bagian Australia di New South Wales, Victoria, dan Australia Barat.

Sedangkan Aliansi Donor Internasional (IDOA) telah bergerak lebih jauh. Organisasi yang dibentuk sejak tahun 2007 itu bertindak sebagai advokat untuk melacak keturunan genetis. Tuntutan mereka adalah mewajibkan agar nama pendonor dicantumkan dalam akta kelahiran anak donor.

Baca juga artikel terkait DONOR SPERMA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Suhendra