Si Bule Junghuhn, Kawah Putih dan Kina

Franz Wilhelm Junghuhn. FOTO/Wikimedia Commons
Oleh: Petrik Matanasi - 31 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Junghuhn adalah orang Jerman yang berjasa mengembangbiakkan tanaman kina di Indonesia.
tirto.id - Franz wilhelm Junghuhn menjalani masa mudanya dengan kuliah kedokteran di Halle dan Berlin. Kendati demikian, rasa cinta pada dunia botani telanjur tertancap dalam-dalam. Ia mengalami depresi saat studi di jurusan kedokteran.

Suatu kali, ketika pulang ke rumah orang tuanya di Mansfeld pada 1830, “[...] dia mencoba bunuh diri karena depresi,” tulis E. M. Beekman dalam Fugitive Dreams: An Anthology of Dutch Colonial Literature (1988).

Setahun kemudian, pada 1831, Junghuhn yang semakin terpelajar dan baru 22 tahun, memutuskan masuk dinas militer Prusia (Jerman) sebagai juru bedah.

Masalah baru kemudian muncul. Masih pada 1831, dia kedapatan berduel dengan seorang mahasiswa asal Swiss. Junghuhn mengalami banyak luka. Berhubung duel dilarang hukum Prusia, maka pada akhir 1831, Junghuhn pun ditangkap. Ia dijatuhi 10 tahun penjara. Dia mendekam di di Fort Ehrenbreitstein sejak awal 1832.

Tak mau terlalu lama dan frustrasi di penjara, dia melarikan diri pada pertengahan September 1833. Dia berjalan dari Coblenz menuju Perancis Selatan. Menurut buku The Role of Religions in the European Perception of Insular and Mainland Southeast Asia (2016), dia sempat mendalami lagi dunia tanaman sebentar di Perancis. Kemudian, menurut E. M. Beekman, “[...] dia bergabung dalam Legiun Asing Perancis.”

Seperti calon legiuner lain, dia menginginkan: hidup baru. Menurut buku The Role of Religions in the European Perception of Insular and Mainland Southeast Asia, dalam dinasnya yang baru ia menjadi petugas kesehatan -- dunia yang ia geluti semasa mahasiswa.


Namun, kariernya tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Setelah enam bulan di Afrika Utara, dia dinyatakan tidak layak bertugas di daerah panas dan dikembalikan ke Perancis,” tulis E. M. Beekman.

Kemudian dia bertemu ahli botani Belanda Christian Hendrik Persoon. Menurut P. Poley dalam Eroica: The Quest for Oil in Indonesia 1850-1898 (2000), orang inilah yang merekomendasikan Junghuhn menjadi tabib militer dalam Tentara Kolonial di Hindia Belanda—yang belakangan dikenal sebagai Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL).

Dia akhirnya meninggalkan Eropa pada musim panas 1835. Ia tiba di Batavia pada Oktober 1835. Kali ini dia benar-benar menemukan kehidupan baru di tanah koloni yang dulu disebut Hindia Belanda. Dia sempat jadi petugas medis militer di Batavia (Jakarta) dan Semarang.



Menurut Poley, dia menaiki beberapa gunung di sekitar Yogyakarta, Semarang, Bandung dan Bogor. Saat mendaki itulah dia mengamati banyak tanaman tropis di gunung-gunung itu. Hal yang mungkin amat penting, dan diingat orang, adalah perjalanan dan pengamatannya ke Kawah Putih, di Gunung Patuha. Junghuhn dianggap penemu kawah itu.

Setidaknya, seperti dicatat Her Suganda, dalam Wisata Parijs van Java: “Kawah tersebut pertama kali ditemukan Franz Wilhelm Junghuhn.”

Pada 1838, dia sudah mengelilingi Pulau Jawa. Selain di Jawa, dia juga menjelajahi Sumatra. Tak hanya Padang, tapi juga ke pedalaman Tanah Batak. Di sana, ia sempat mempelajari berbagai hal pada 1840 selama 1,5 tahun.

"Junghuhn melaporkan bahwa ia menghadapi perlawanan dari (orang-orang) Batak, sama seperti orang Barat lainnya,” tulis Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik abad XIII-XX (2004). Meski begitu, dia masih menganggap orang-orang Batak sebagai orang yang ramah.

Sebelum tiba, kawasan di sekitaran Padang dan sebagian Tanah Batak menjadi konsentrasi gerakan Padri pimpinan Imam Bonjol. Menurut Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba: Bagian Sejarah Batak (2006), Junghuhn menaksir 200 ribu orang Batak (terutama Mandailing dan Sipirok) tewas dalam konflik itu.

Baca juga:






Setelah menjelajahi Padang dan Tanah Batak, Junghuhn kembali ke Batavia, pusat dari Hindia Belanda, pada 1842. Dia dipekerjakan dalam pengukuran topografi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Menurut Poley, “Pada bulan Mei 1845 Gubernur Jenderal Rochussen memasukkan Junghuhn sebagai anggota tim lapangan Natuurkundige Commissie (Komisi Pengetahuan Alam). Dalam komisi tersebut, Junghuhn makin fokus mendalami minatnya sejak belia: dunia botani."

Pada 1848 dia kembali ke Eropa. Di Leiden, Negeri Belanda, dia mulai bekerja dengan berbagai catatan, gambar, sampel untuk merampungkan magnum opusnya: Java, Zijne Gedaante, Zijne Plantentooi en Inwendige Bouw, yang tebalnya 2.600 halaman, tiga bagian dan empat volume pada 1852. Tahun berikutnya, magnum opus itu diterbitkan di Den Haag. Atas karyanya itu, pada 31 Agustus 1853, dia menerima kewarganegaraan Belanda.

Tak lupa, semasa berada di Belanda itulah, dia kawin dengan Johanna Louisa Frederica Koch. Perepuan itu, dan keluarganya, menyediakan rumah tinggal untuknya pada 1850. Namun, kendati telah menikah, dia masih ingin kembali ke Jawa. Kecintaannya kepada Jawa sama sekali tidak pudar.

“Agustus 1855, Junghuhn kembali ke Jawa sebagai pengawas dan penasehat dari penelitian ilmu pengetahuan alam,” tulis Poley.

Pada 1856 dia menggalakkan tanaman kina. Soal tanaman ini, menurut catatan Denys Lombard, dalam Nusa Jawa: Batas-batas Pembaratan (1990), pohon-pohon kina, yang berasal dari benua Amerika, pertama masuk di Indonesia karena andil Hasskarl pada 1854. Namun, menurut Lombard, “Penyesuaian dengan iklim yang dilakukan di Cibodas dan pembangunan perkebunannya yang pertama di daerah Pangalengan berada di bawah pengawasan FW Junghuhn.”

Pada 1865, setelah kematian Junghuhn, orang Inggris bernama Ledger membawa spesies kina baru yang lebih manjur ke Jawa Barat. Dari sanalah akhirnya Jawa pun jadi penghasil kina terbesar di dunia. Kina itu yang kemudian diolah sebagai obat malaria.

“Dia dan keluarganya tinggal di tempat yang lapang yang disukainya, Lembang. Di mana anak laki-lakinya dilahirkan. Tahun 1861, dia hendak lakukan lagi perjalanan keliling Jawa. Namun, “semangat dan kegigihannya telah hilang.” Setelahnya adalah tahun-tahun terakhir hidupnya yang dihabiskan di Lembang.

Menurut Poley, “Dia kena serangan amoeba disentry parah dan meninggal pada 24 April 1864. Pemandangan terakhirnya dari ranjang kematiannya adalah Gunung Tangkuban Perahu yang dicintainya.”

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight