Misbar

Sex Education 2: Betapa Susahnya Bicara Santai tentang Seks

Trailer Film Sex Education Season 2. Youtube/Netflix
Oleh: Aulia Adam - 4 Februari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Sex Education masih jadi tontonan seru untuk belajar, bukan cuma tentang seks dan seksualitas, tapi juga penerimaan dan menegakkan keadilan.
Musim pertama Sex Education meninggalkan banyak pelajaran tentang penerimaan.

Lewat karakter utama Otis Milburn (Asa Butterfield), kita memang dapat banyak pengetahuan tentang seks dan seksualitas, bahkan ilmu tentang menjadi masyarakat yang lebih inklusif. Kedua topik yang sering kali tabu dan misterius itu dibawa dengan santai, dan tak jarang kocak, tanpa maksud mengolok-olok.

Ada cerita tentang aborsi, homofobia, transfobia, revenge porn, dan penyakit kelamin yang dituturkan dengan perspektif yang amat humanis dan jauh dari solusi-solusi brutal maskulinitas beracun, khas masyarakat patriarkis. Artinya, serial ini tidak menempatkan perempuan dan hal-hal feminin jadi sumber konflik. Ia justru mengurai problematika itu secara dingin dan komprehensif.

Contohnya, diskusi tentang aborsi.

Lewat karakter Maeve (Emma Mackey) di salah satu episode musim pertama, Sex Education menunjukkan solusi persoalan ini dengan memberi ruang dan kepercayaan pada perempuan untuk menentukan sendiri nasib kandungannya (pro-choice). Hebatnya, persoalan itu tak dikemas miring sebelah. Laurie Nunn yang juga menulis naskah bersama beberapa rekannya turut menghadirkan karakter-karakter yang kontradiktif (pro-life) terhadap solusi tersebut, tanpa mengolok-olok mereka.

Contoh lain datang dari karakter Eric (Ncuti Gatwa), karib Otis yang gay. Ia jadi representasi orang-orang dari kelompok rentan dan terpinggirkan yang dalam Sex Education diberi ruang luas untuk menceritakan narasinya sendiri. Sebagaimana Nunn tegas memberikan solusi positif buat masalah Maeve, Eric juga diberi resolusi manis di episode terakhir.

Sebelum masuk ke pesta dansa di sekolahnya, Eric terlibat percakapan dengan sang ayah yang seorang imigran—representasi kelompok rentan lainnya. Ayah Eric takut putranya yang gay akan punya hidup lebih susah, jika terlalu “menunjukkan” perbedaannya. Malam itu, Eric memang tampil memukau—atau ekstra, buat orang lain yang punya masalah kepercayaan diri dan toxic: hiasan kepala yang tinggi, stiletto emas, dan muka yang dilukis fabulous.

I don’t want you to be hurt,” kata ayah Eric.

Look, I’ll be hurt either way,” sahut Eric. “Isn’t it better to be who I am?

Adegan itu bukan cuma segar dan progresif, tapi juga bukti bahwa pengembangan karakter yang unik jadi senjata Sex Education untuk tampil menonjol.

Sepotong dialog ayah Eric jelas datang dari kasih, bukan perasaan jijik (homofobik). Sebuah penggambaran langka, terutama buat karakter orangtua imigran yang biasanya lebih konservatif. Jawaban Eric yang dilempar dengan pertanyaan retorik juga jadi gambaran bahwa tak selamanya hanya anak yang bisa belajar dari orangtua, tapi juga berlaku sebaliknya.

Dalam semesta Sex Education, para karakternya memang kikuk dan selalu ceroboh ketika menghadapi masalah-masalah seks dan seksualitas mereka. Bukan cuma para remaja yang jadi karakter-karakter utama, tapi juga para orangtua. Namun, kedua topik utama itu tak pernah diperlakukan hanya sebagai bahan olokan dan dibahas dangkal. Ada pesan bahwa bicara santai tentang seks memang tak akan pernah jadi lebih mudah, meski umur kita bertambah.

Semua akibat penabuan yang sudah berlarat-larat pada kata dan aktivitas empat huruf itu. Sering kali kerancuan dan kepayahan kita mengomunikasikannya jadi sumber malapetaka yang merusak hubungan sesama manusia: orangtua-anak, guru-murid, sesama kawan sebaya, atau bahkan antar-tetangga. Padahal menurut semesta Sex Education, solusinya mudah, yaitu penerimaan.

Dan ia kembali jadi tema besar musim kedua ini.

Moordale dan Semestanya yang Menerobos Zaman

Premis Sex Education sebetulnya sederhana. Hampir setiap alur cerita dibangun dari klise dan rumus-rumus standar kisah coming of age. Tak terkecuali musim kedua ini. Otis tetap jadi tokoh utama, pusat cerita sekaligus ahli terapis seks, sementara teman-temannya di Moordale High School jadi sumber pelajaran hidup sekaligus klien.

Eksplorasi seks dan sekualitas juga masih jadi tema utama. Ada cerita tentang biseksualitas, panseksualitas, aseksualitas, pernikahan tanpa seks dan krisis umur paruh baya, vaginismus, pelecehan seksual, homofobia di barak militer, seks pertama, bahkan anal douching. Semuanya, tentu saja, dikemas dengan sangat manusiawi, dan solusi-solusi yang berlensa kesetaraan dan penerimaan.

Bedanya, tak semua solusi dalam musim kedua ini hadir dari Otis sendiri.

Premis utama musim pertama adalah ironi tentang Otis yang tak pernah melakukan aktivitas seks, tapi malah jadi terapis seks dan seksualitas di sekolahnya. Lewat Otis, kita dibawa Nunn untuk menyelami problematika seksual di sekitar kita, tanpa prasangka dan sikap menghakimi. Otis hadir sebagai anomali, yang wisdom-nya dibutuhkan teman-teman di sekitarnya: para remaja yang tengah bereksperimen dan menjelajahi seksualitas untuk lebih mengenal diri mereka sendiri.

Di musim kedua, sifat anomali itu mulai terkikis, semenjak musim pertama ditutup dengan adegan Otis merasakan pengalaman pertamanya masturbasi. Musim kedua dibuka dengan tumpukan adegan Otis yang ketagihan onani. Sekuens itu jadi titik balik perubahan karakter Otis yang altruis pada musim pertama (cenderung jadi penyokong dalam narasi-narasi seksual orang-orang di sekitarnya), menjadi lebih fokus pada pengembangan dan pencarian jati diri sendiri.

Singkat cerita, Otis yang sudah mulai bereksperimen dengan seks dan seksualitasnya sendiri, juga butuh wisdom dari orang lain. Di sanalah letak keindahan musim kedua: pelajaran dan penerimaan itu hadir dari sesama karakter.

Tak jarang, Nunn dan rekan-rekan penulis naskahnya menyodorkan subplot-subplot kuat yang bahkan tak melibatkan Otis, si tokoh utama. Misalnya, diskusi tentang pelecehan seksual.



Aimee (Aimee Lou Wood) yang naif, mengalami pelecehan seksual di bus menuju sekolah pada salah satu episode. Plot ini disusun lambat dan cenderung tak terlalu mengambil porsi besar pada beberapa episode awal. Sehingga, pada titik tertentu sikap Aimee yang cuek pada kejadian nahas itu mudah sekali terlewatkan di tengah tumpukan plot lain dalam semesta Sex Education.

Namun, Nunn pintar mengurai problematika runyam dalam kasus-kasus pelecehan seksual pada episode-episode berikutnya. Kita akan melihat perubahan watak Aimee—seorang yang selalu ceria, menjadi paranoia dan menyimpan kejadian itu sebagai trauma. Kita juga akan disodori potongan-potongan adegan yang memperlihatkan ketidakadilan sistem yang masih berat sebelah pada korban pelecehan seksual.

Tak cuma ingin menunjukkan kompleksitas yang dihadapi korban-korban pelecehan seksual di dunia dominasi patriarki, Nunn juga mengajarkan kita bagaimana menghadapi dan bersikap pada korban lewat karakter Maeve; sesuatu yang bahkan nyaris tidak diajarkan dalam kurikulum sekolah di dunia nyata.

Dalam subplot pelecehan seksual itu, kita bisa melihat bagaimana tenang dan suportifnya Maeve menemani Aimee dari awal sekali ia mendapati kabar tersebut, hingga di sekujur proses Aimee menghadapi traumanya.

Lewat satu adegan yang mengambil referensi dari The Breakfast Club (1985) karya sutradara John Hughes, Sex Education bahkan memberikan ruang besar buat Aimee, Maeve, dan empat karakter perempuan lain untuk mengupas objektifikasi kelewatan yang dilakukan masyarakat patriarkis pada perempuan. Meski keenamnya berbeda, dan sebenarnya tak saling dekat, mereka akhirnya bersatu dan merasa lebih kuat karena berhasil menemukan kesamaan nasib diperlakukan tidak adil oleh sistem yang seksis.

Tapi, tak semua subplot diberikan solusi kuat dan memberdayakan. Salah satunya adalah nasib para gay di semesta Sex Education. Eric, karib Otis yang gay, di awal-awal episode memang diberikan ruang cukup besar untuk punya romansa baru dengan karakter pendatang bernama Rahim (Sami Outalbali), pindahan dari Perancis keturunan Mesir yang rupawan dan agnostik. Di tengah kegembiraan itu, muncullah Adam (Connor Swindells)—tukang bully yang di ujung musim satu jatuh cinta pada Eric.

Kegamangan Eric memilih Rahim dan Adam sebetulnya diskusi penting tentang representasi romansa minoritas gender, yang sering kali digambarkan: menyedihkan, berujung tragis, dan toxic di media mainstream. Memilih Rahim atau Adam bisa jadi metafora bahwa karakter gay, kulit hitam, dan imigran (triple minority) macam Eric adalah karakter yang hidupnya tidak satu dimensi. Naskah Nunn memberikan ruang buat Eric berdiskusi dengan dirinya untuk memilih punya masa depan cerah (jika memilih Rahim) atau terjebak dalam hubungan beracun (jika memilih Adam).

Sayangnya, solusi yang diberikan di ujung konflik, bukan cuma tak adil buat Rahim yang tampil nyaris sempurna (dan tak patut dapat nasib buruk) selama musim ini. Tapi, juga tak adil buat representasi karakter dari kelas yang sama dengan Eric.

Memang ada kisah cinta Ola (Patricia Allison) dan Lily (Tanya Reynolds)—sebagai representasi minoritas gender—yang berujung bahagia. Tapi, lagi-lagi naskah Nunn tak berbuat cukup adil mengembangkan karakter-karakter di bawah payung pelangi ini. Pergulatan Ola yang di tengah musim ternyata menyadari dirinya sebagai panseksual dibuat terlalu tiba-tiba, sebatas sekali dua kali mimpi basah. Perjalanan Lily menerima seksualitasnya jauh lebih masuk akal karena naskah memberikan waktu yang cukup buat pengembangan karakternya.

Alhasil, beberapa karakter dan sebagian subplot pada musim kedua memang terasa tanggung dan tidak seklimaks naskah musim pertama.

Jika ada yang berhasil dikembangkan Nunn secara sempurna dan tampil menarik perhatian, maka tak lain dan tak bukan adalah Moordale, desa fiksi tempat semesta Sex Education eksis.

Sejak musim pertama, memang ada yang aneh dengan latar tempat dan waktu dunia Otis dkk. Syutingnya di bekas University of South Wales di Carleon, Newport, tapi aksennya karakternya bermacam-macam: kebanyakan beraksen Inggris Selatan, sebagian beraksen Inggris Utara, dan ada yang beraksen Welsh. Sekolah mereka lebih terlihat seperti SMU di Amerika pada umumnya--murid-murid sekolah tanpa seragam, loker panjang, dan murid-murid atletnya pakai jaket Letterman (sangat tidak United Kingdom)--daripada secondary school ala Inggris.

Pakaian mereka yang warna-warni juga menerobos konsep waktu. Semua karakter berpakaian seperti orang-orang yang hidup di masa 1980-an akhir sampai 1990-an awal, tapi sudah pegang smartphone. Tak ada yang aneh, jika hanya satu atau dua karakter yang terjebak dan menggilai fashion tahun-tahun tertentu.


Kebanyakan mobil yang muncul juga keluaran 1970-an hingga 1990-an. Desain rumah Keluarga Adam populer pada 1970-an di Inggris, sementara komplek karavan tempat tinggal Maeve populer pada 90an sampai awal 2000-an. Konsep waktu semakin membingungkan, karena informasi waktu memang tak pernah eksplisit tampil di layar. Cuma lewat dalam bentuk informasi-informasi kecil macam nama-nama ranum di budaya populer.

Misalnya, Ed Sheeran yang lahir tahun 1991, dan baru mengeluarkan album pertama pada 2011 sempat disebut. Hedwig and the Angry Inch (2011), Smash Bros (1999/2018), dan Stronger dari Kelly Clarkson juga disebut.

Dalam musim kedua ini, desain unik Moordale tampil makin kuat. Ia juga disebut lebih sering oleh para karakter. Menurut Nunn, yang juga merupakan creator Sex Education, pemilihan desain eksentrik Moordale memang sengaja dilakukannya sebagai penghormatan pada film-film drama-komedi remaja karya John Hughes di tahun 1980-an, masa ketika ia masih remaja.

Tapi, semesta Moordale yang menerobos zaman itu bisa jadi metafora sempurna: sebuah desa inklusif yang berisi warga-warga toleran—yang mungkin kikuk ketika membicarakan seks dan seksualitas, tapi tetap berusaha membicarakannya—dan mulai menyadari ada yang salah dengan dunia yang terlalu maskulin dan tidak adil pada jenis kelamin, gender, atau orang dari kelas tertentu.

Baca juga artikel terkait SERIAL NETFLIX atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight