Menuju konten utama

Sewindu Xiaomi Mencuri Pasar Ponsel Pintar

Xiaomi kini menjelma menjadi salah satu penantang pasar produk ponsel pintar yang tak bisa diremehkan.

Sewindu Xiaomi Mencuri Pasar Ponsel Pintar
Gerai penjualan Xiaomi di Shenyang, Cina (7/4/18). REUTERS/Stringer

tirto.id - "Uangnya tidak cukup untuk membeli rumah, jadi dia bertanya apakah ia bisa berinvestasi pada Xiaomi?” kata Lei Jun. Ia menceritakan soal awal mula Xiaomi didirikan, dengan modal patungan dari rekan-rekannya.

Pada 6 April 2010, Lei Jun memulai babak baru dalam hidupnya dengan mendirikan startup bernama Xiaomi. Ia sempat mengingat bagaimana startup yang didirikannya memperoleh pendanaan.

Dalam laporan Bloomberg, Jun mengetahui ia membutuhkan dana investasi yang tak sedikit untuk membangun startup. Ia beruntung, ada cukup banyak karyawan-karyawannya yang “peduli” terhadap Xiaomi.

Salah satunya adalah Lei Weixing, mantan teknisi Microsoft dan menjadi karyawan nomor ke-12 Xiaomi. Tabungannya Lei sebesar 500 ribu yuan digelontorkan untuk modal Xiaomi, karena tak cukup membeli rumah. Ada 59 karyawan Xiaomi yang bahu-membahu mengucurkan dana sampai $11 juta untuk berinvestasi pada Xiaomi.

“Ketertarikan karyawan awal Xiaomi untuk berinvestasi tinggi, lalu kami memasang pagar karena kami khawatir bahwa jika banyak karyawan berinvestasi, akan sangat melukai jika startup ini gagal,” kata Li Wanqiang, co-founder Xiaomi.

Mula-mula, perusahaan yang terinspirasi dari nama jewawut, merilis MIUI, sebuah customized Android ROM pada 16 Agustus 2010 sebagai produk pertama mereka. Hampir setahun berselang, mereka merilis smartphone bernama Mi 1, yang hanya berselang 34 jam sejak peluncuran, diklaim ludes.

Kini, delapan tahun telah berlalu sejak Xiaomi berdiri, International Data Corporation (IDC), dalam laporan kinerja pasar smartphone kuartal I-2018 mencatat: Xiaomi mengapalkan 28 juta unit smartphone ke seluruh dunia, menguasai 8,4 persen pangsa pasar. Ia didaulat sebagai produsen smartphone nomor 4 dunia.

Dari pencapaian sewindu Xiomi, sebanyak 56 karyawan Xiaomi akan memperoleh imbal hasil $1 miliar hingga $3 miliar. Artinya setiap karyawan ata-rata akan memperoleh harta $36 juta alias lebih dari Rp500 miliar, atas investasi yang dulu mereka lakukan.

Lei Weixing, yang berinvestasi karena uangnya tak cukup membeli rumah, kini bisa memiliki dana untuk membeli satu blok komplek perumahan.

Sewindu Xiaomi

Pada September 2014, dengan metode penjualan flash sale, Xiaomi menjual 100 ribu unit ponsel dalam waktu 4,2 detik di India. Pada November 2017, Mi A1 diklaim terjual melalui berkali-kali flash sale yang dilakukan Lazada, mitra toko online yang mereka tunjuk.

Rajendra Kumar Tolety, dalam “Hunger Marketing, Flash Sale and Cost Optimization Strategy of Xiaomi Inc.” (2017), mengatakan salah satu strategi kesuksesan Xiaomi ialah flash sale. Dengan strategi ini, Xiaomi menciptakan “defisit semu,” yang menekan penawaran untuk tetap di bawah permintaan, alias menciptakan kondisi “seolah-olah laku.” Ini membuat Xiaomi mampu melakukan penawaran ulang pada para pemasoknya supaya memberikan harga murah, dan berimbas pada harga produk Xiaomi yang jauh lebih miring dari pesaing.

David Pierce, dalam tulisannya di Wired, mengungkap secara tersirat bahwa Xiaomi menggebrak pasar melalui tiga strategi: membuat produk bagus, menciptakan antusiasme online, dan menjualnya di harga yang ramah. Hasilnya, startup yang telah sembilan kali melakukan funding rounds (babak pencarian dana) dengan menggondol investasi sebesar $3,4 miliar, kini tetap berjaya di usianya yang telah menginjak 8 tahun lebih.

Setidaknya, ada dua penanda usia ke-8 Xiaomi. Pertama, mengutip pemberitaan South China Moring Post, Xiaomi akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) di bursa efek Hong Kong di pertengahan Juli nanti. Tak tanggung-tanggung mereka menargetkan dana segar $10 miliar dari IPO. Jika target itu sukses, Xiaomi akan berada di posisi ke-15 sebagai perusahaan yang memperoleh dana terbesar saat IPO. Berada di bawahnya ada Agriculture Bank of China, yang pada 2010, memperoleh dana segar sebesar $10,4 miliar.

Usia ke-8 Xiaomi ditandai dengan diluncurkannya Mi 8, smartphone premium dari Xiaomi, yang rencananya baru akan berada di pasar Cina pada Juni ini.

Berstatus smartphone premium, Mi 8 hadir dengan jeroan mumpuni. Sebagaimana dilaporkan GSM Arena, ponsel tersebut mengusung otak Snapdragon 845 dengan CPU berkekuatan Octa-Core. Kekuatan ini, senada dengan yang dimiliki Galaxy S9, ponsel premium Android dari Samsung.

Di sisi layar, sebagaimana tren saat ini, Mi 8 mengusung konsep “full screen” dengan rasio screen-to-body sebesar 83,8 persen. Layar seluas 6,21 inci itu menggunakan teknologi Super AMOLED yang juga dibikin Samsung.

Di sisi mata kamera, Mi 8 mengusung konsep dual camera di bagian belakang, yang menggunakan sensor IMX363 dari Sony, serta satu kamera di bagian depan, yang menggunakan sensor S5K3M3 dari Samsung, yang memiliki kemampuan AI bokeh, proximity, earpiece, hingga infrared lighting.

Dalam laporan CNET, menyebut Mi 8 “sangat mirip iPhone X.” Alasan karena Mi 8 yang meloncati penamaan angka “7” ini memiliki desain notch dan kamera belakang yang dibingkai vertikal. Juga ada kemampuan face unlocing yang memanfaatkan teknologi kamera infra merah, mirip dengan yang dimiliki iPhone X.

Infografik selamat ulang tahun ke 8 Xiomi

Masa depan Xiaomi

“Kami sebenarnya adalah perusahaan internet,” tegas Lei Jun, sang CEO Xiaomi saat diwawancarai oleh Business Insider. Ungkapan ini muncul karena merasa jengah karena sebutan Xiaomi sebagai "Apple-nya Cina". Jun menyatakan Xiaomi lebih serupa dengan Amazon, sebagai perusahaan internet.

Sebagai perusahaan internet, segala produk yang bisa mereka koneksikan dengan dunia maya, bisa mereka ciptakan dan dijual. Pemikiran ini juga ada di benak Liu De, co-founder Xiaomi.

“Setiap perangkat elektronik yang digunakan bisa diubah menjadi ‘pintar’,” katanya.

Semenjak 2013, dari hanya menciptakan MIUI dan smartphone, Xiaomi berupaya menciptakan segalanya. Mengutip Gizchina, selain smartphone dan tablet, Xiaomi merilis: kamera, drone, wearable device, aksesoris (seperti pulpen pintar), smarthome (Mi TV, Yeelight), personal transportation (Ninebot Mini), dan berbagai perangkat “pintar” lainnya.

Guna menciptakan segala perangkat, Xiaomi berinvestasi pada 77 perusahaan, yang membuat Xiaomi memperoleh akses kepada perancang hingga teknisi di perusahaan-perusahaan, sebagai upaya menciptakan segalanya.

“Kami memanfaatkan segala platform yang dimiliki untuk menaikkan Xiaomi ke level selanjutnya,” kata Liu De .

Akhirnya, Xiaomi telah sukses menjual lebih dari 50 juta berbagai perangkat. Namun, angka yang fantastis ini nampaknya tidak akan membuat Xiaomi berhenti. Speaker pintar, masih belum mereka kuasai.

Pada 2016, mengutip data yang dirilis Statista, Amazon menjual speaker pintar mereka, bernama Echo, sejumlah 5,2 juta unit. Semenjak kelahiran Echo, pasar ini kian bergairah. Alasannya, Echo menciptakan suatu rumah berubah jadi “pintar” dengan menghubungkan segala perangkat elektronik yang ada, lalu mengendalikan hanya dengan suara.

Selepas Echo, munculan Google Home, Apple HomePod, Line Wave, Alibaba Tmall Genie, hingga Harman Kardon Invoke. Kesemuanya dirilis demi memperoleh bagian pasar yang akan bernilai $11,79 miliar pada 2023 kelak.

Namun, menciptakan speaker pintar tak serupa menciptakan smartphone. Produsen harus lebih dahulu mengembangkan asisten digital. Meskipun Amazon unggul secara jumlah soal menjual speaker pintar, kemampuan Alexa, asisten digital yang menjadi otak Echo, masih kalah dibandingkan Google Assistant, asisten digital yang menjadi otak Google Home.

Merujuk data Statista, dari 5.000 pertanyaan yang dilempar pada berbagai asisten digital, Google Assistant mampu menjawab 77,2 persen pertanyaan dengan tingkat kebenaran jawaban mencapai angka 90,6 persen. Sementara itu, Alexa hanya mampu menjawab 53,7 persen dari pertanyaan tersebut dengan tingkat akurasi jawaban mencapai 87 persen.

Alasan mengapa Google Assistant lebih pintar tak lain karena Google memiliki basis data informasi yang lebih lengkap, hasil kerja bertahun-tahun menciptakan mesin pencari. Sementara Amazon? Bertahun-tahun hanya dikenal sebagai penjual buku online.

Untuk mengejar ketertinggalan di dunia speaker pintar, Xiaomi mesti mengembangkan terlebih dahulu asisten digital ciptaan mereka. Pada 2018 ini, Xiaomi baru saja meluncurkan secara awal Xiao Ai, asisten digital yang baru bisa berbicara dalam bahasa Cina. Belum jelas bagaimana kemampuan sesungguhnya Xiao Ai. Namun, tak bisa ditampik, ini adalah langkah awal mereka, untuk merebut dan menguasai pasar speaker pintar.

Baca juga artikel terkait XIAOMI atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra