Setelah Hari Natal Gempa Bumi Melanda Iran

Kontributor: Tyson Tirta, tirto.id - 28 Des 2022 00:02 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pada 26 Desember 2003 gempa bumi mengguncang Bam, dan menewaskan lebih dari 34.000 jiwa dan 22.000 lainnya luka-luka.
tirto.id - Seorang dokter ahli bedah pulang ke Bam, kampung halamannya di Iran, setelah 33 tahun menetap di Jerman. Tak lama setelah pekerjaan operasi jantung yang dia lakukan selesai, dokter itu diajak berkeliling kota. Rupanya, perjalanan itu membuatnya jadi saksi bencana besar yang menghancurkan hampir seluruh kota.

Kisah itu adalah bagian dari film Colors of Memory (2008), karya sutradara kelahiran Iran, Amir Shahab Razavian. Film ini mengangkat cerita soal bencana yang melanda kota Bam.

Pada dini hari 26 Desember 2003 gempa bumi mengguncang Bam, Provinsi Kerman, 60 mil (sekitar 96 kilometer) sebelah tenggara Teheran. Gempa berkekuatan 6,5 skala Richter itu menewaskan lebih dari 29.000 jiwa dan 22.000 lainnya luka-luka.


Di kemudian hari, Pemerintah Iran merilis data resmi bahwa korban jiwa dalam bencana itu mencapai 34.000. Pada awalnya, informasi mengenai kepastian jumlah korban sulit didapatkan, mengingat jaringan komunikasi di sekitar Bam dan kota-kota sekitarnya seperti Kahnouj dan Jiroft terputus total.

Menurut laporan World Health Organization (WHO), setidaknya 45.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat gempa itu. Banyaknya jumlah korban disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, penggunaan batu bata lumpur sebagai media konstruksi di wilayah itu.

Jim Harris, insinyur sipil yang juga ketua komite pengembangan standar struktur bangunan di Amerika Serikat, membenarkan hal tersebut. Material konstruksi bangunan di Iran tidak sesuai dengan peraturan terkait bencana gempa yang ditetapkan pada 1989.

Di negeri para mullah ini, banyak ditemukan tembok dan ubin bangunan dengan bahan tanah liat yang rentan terhadap goncangan kecil sekalipun.

Kedua, berdasarkan analisa Waverley Person, ahli Geofisika AS, sumber gempa hanya di kedalaman 20 hingga 30 mil di bawah permukaan bumi dan gempa susulan terjadi beberapa kali hingga siang hari.

“Banyak orang tewas dan orang-orang terkubur di bawah reruntuhan, kami melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan yang terluka dan menggali yang mati,” kata Mohammad Ali Karimi, Gubernur Provinsi Kerman di televisi Pemerintah Iran.

Selain korban jiwa, gempa juga menghancurkan Benteng Bam, situs bersejarah berupa bangunan batu bata lumpur yang telah berusia sekitar 2000 tahun. Benteng ini yang hampir seluruhnya runtuh akibat gempa ini adalah salah satu warisan dunia UNESCO mengingat peran pentingnya sejak abad ke-7 sebagai persimpangan jalan di Jalur Sutra dan rute perdagangan lain.


Kota Bam dan bentengnya merupakan salah satu lokasi tujuan wisata yang paling populer di Iran. Selama Dinasti Safawi (1501-1736), peran Bam sangat signifikan dalam kehidupan perdagangan antar bangsa. Peran ini berangsur menurun sejak Afganistan menginvasi pada 1722 dan mengalihfungsikan Bam sebagai markas tentara hingga 1932.

Saat gempa melanda, warga yang selamat berhamburan ke jalan di tengah cuaca dingin, sementara banyak jenazah yang belum diangkut terpaksa hanya ditutup kain atau selimut seadanya.

Menanggapi bencana tersebut, Pemerintah Iran sempat mempertimbangkan untuk memindahkan ibu kota karena khawatir gempa serupa akan melanda Teheran. Di tengah situasi tak menentu, bantuan kemanusiaan datang dari banyak negara.

Dilaporkan ada total 44 negara yang mengirim bantuan medis dan sumber daya manusia untuk membantu misi pengiriman obat dan alat-alat medis.

Pemerintah AS sendiri secara resmi mengirimkan bantuan kemanusiaan, sebuah peristiwa yang cukup langka mengingat hubungan AS-Iran memanas setelah Revolusi Islam 1979.

Organisasi kesehatan dunia WHO mengorganisir penyaluran bantuan medis untuk diberikan kepada pihak kementerian kesehatan Iran. Ambruknya berbagai fasilitas kesehatan akibat gempa membuat proses pemulihan sangat lambat.

Dalam laporan WHO yang terbit pada 2005, sekitar 50 persen sarana kesehatan di sekitar lokasi gempa tidak bisa beroperasi. Di antara sarana yang bisa digunakan pun, jaringan listrik dan air bersih baru bisa diakses 1-2 hari setelah gempa.

Dari hasil temuan di lokasi bencana, WHO memperkirakan dana yang diperlukan untuk menyediakan bantuan medis dan membangun kembali fasilitas kesehatan itu bisa mencapai USD25 juta.

Iran Berpengalaman Menangani Gempa

Di antara negara-negara Timur Tengah dan dunia, Iran termasuk salah satu negara yang paling rawan gempa. Sepanjang abad 20, setidaknya gempa di sana sudah menewaskan 180.000 orang. Di periode itu juga, menurut pemerintah Iran, 35 persen gempa bumi Asia terjadi di negaranya.

Sepanjang 2003 saja, Iran Strong Motion Network (ISMN) mencatat ada 334 gempa bumi terjadi di Iran. Selain Bam, kota Buin Zahra juga pernah diterpa gempa (1961) yang memakan 12.200 korban jiwa.

Selain itu, gempa bumi kota Tabas pada 1978 juga merenggut korban jiwa hingga 19.600 orang. Terakhir, gempa terjadi di kota Manjil pada 1990 dan merenggut sekitar 14.000 korban jiwa.

Setelah melalui sekian banyak bencana gempa itu, secara umum pemerintah Iran sanggup mengambil langkah yang cepat dan tepat dalam merekonstruksi bangunan fisik.

Menurut Fatemeh Farnaz Arefian dalam bukunya Organising Post-Disaster Reconstruction Processes: Housing Reconstruction after the Bam Earthquake (2018), pengalaman Iran dalam rekonstruksi pascabencana diperkuat oleh pengalaman rekonstruksi pasca perang berskala besar dan panjang di lima provinsi.

Infografik Mozaik Gempa Bumi di Iran
Infografik Mozaik Gempa Bumi di Iran. tirto.id/Tino


Pengalaman panjang itu mengajarkan mereka untuk mengatur kesinambungan organisasi dan menerapkan berbagai kebijakan yang tepat untuk menghadapi bencana-bencana ke depan.

Pengalaman ini, menurut Arefian, mengarah pada pengembangan pengetahuan praktis tentang pengelolaan skala rekonstruksi, orang-orang yang berpartisipasi, dan aspek-aspek lainnya.

Satu hari setelah gempa Bam terjadi, perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Iran mengirimkan UN Field Assessment Team (FAT). Tim khusus itu bertugas mengumpulkan semua informasi. Di waktu yang hampir bersamaan, 34 tim yang merupakan anggota Urban Search and Rescue (USAR) yang berasal dari 27 negara tiba di Bam.

Gempa kali ini rupanya benar-benar menarik keprihatinan dunia internasional terutama mengenai fenomena meningkatnya frekuensi dan tingkat kehancuran bencana alam. Tantangan berat muncul ketika menghadapi berbagai masalah turunan seperti dilema sosial, fisik, dan situasi politik yang kompleks.

Pemerintah Iran sendiri secara khusus membentuk Guiding Office for the Recovery of Bam (GO), yang diisi oleh 11 orang ahli pembangunan dengan Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan sebagai ketuanya.

GO memegang peran kunci dalam kemajuan rekonstruksi yang menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur tahan gempa dalam merancang pembangunan di masa depan.

Upaya itu membuahkan hasil positif. Secara ekonomi, pembangunan kembali Bam juga membuka lagi peluang untuk berkembang. Sistem irigasi, misalnya, dibangun dengan kapasitas yang lebih mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.

Di kemudian hari, pertumbuhan industri kurma mengalami perluasan dan kapasitas lapangan kerja pun meningkat.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight