Sentuhan Cina di Balik Kekuatan Power Bank

Oleh: Ahmad Zaenudin - 2 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Power bank telah menjadi teman setia selain ponsel pintar. Bagaimana power bank bermula?
tirto.id - Setelah telepon genggam, barang penting yang kini wajib dibawa adalah charger ataupun power bank. Permintaannya terus meningkat. Allied Market Research mencatat pasar power bank dunia pada 2015 sudah menyentuh angka 6,7 miliar dolar AS. Pada 2020 ditaksir pasarnya bisa meningkat menjadi 29,5 miliar dolar AS.

Secara umum, power bank hanyalah baterai litium-ion atau litium-polimer. Namun, baterai tersebut bisa dikendalikan, untuk proses keluar masuknya daya. Power bank juga disematkan fitur keamanan, melalui sirkuit PCB dan dilindungi dalam cangkang dengan rupa-rupa desain. Awalnya power bank disebut-sebut pertama kali muncul ke publik dalam acara Consumer Electronic Show (CES) pada 2001 di Las Vegas, AS. Sayangnya, tak ada pemberitaan berarti ihwal power bank yang muncul di CES 2001. Pada laman Howstuffworks yang mengkompilasi barang-barang elektronik yang ditampilkan pada acara itu, power bank tidak ditemukan.

Ada beberapa kemungkinan power bank pada saat itu belum jadi perhatian dunia elektronik. Pertama, pada 2001, power bank bukanlah teknologi yang benar-benar dibutuhkan. Saat itu, ponsel berbentuk candybar bikinan Nokia, yang masih menguasai dunia. Ponsel-ponsel ini memiliki ketahanan daya yang cukup mumpuni. Kedua, dalam gelaran CES 2001 terdapat sekitar 1.700 produsen elektronik yang berpameran, tak semua produk yang dipamerkan bisa muncul sebagai sorotan media.

Namun pelan-pelan kehadiran power bank semakin penting bagi konsumen. Keberadaannya merupakan respons atas ketidaktangguhan daya ponsel terutama setelah masuknya era ponsel pintar yang multifungsi. Populasi ponsel pintar di diperkirakan menjamur 2,32 miliar unit di seluruh dunia.

Ketidaktangguhan daya ponsel masa kini memang bukanlah sesuatu yang aneh. Pembaruan versi dan fitur ponsel, membuat kebutuhan daya semakin meningkat. Akibatnya, baterai dengan kekuatan daya yang sama, jika digunakan di teknologi baru, tentu tidak akan sanggup mempertahankan ketangguhan baterai selayaknya saat dipasang pada teknologi jadul.

Faktor lain yang membuat power bank mendapatkan tempat di konsumen, karena baterai yang terpasang di ponsel pintar, memiliki kelemahan. Litium-ion, jenis baterai yang lazim digunakan untuk ponsel pintar, memiliki suhu panas yang berlebih. Suhu panas itu bila dibiarkan lama, akan mempercepat umur baterai. Masalah lain baterai litium-ion kapasitas daya akan berkurang tanpa atau dengan dipakai. Power bank berperan menjadi “ban serep” untuk baterai ponsel.

Baca juga: Baterai, Sumbu Teknologi yang Masih Padam

Power bank memiliki banyak macam di pasaran. Sayangnya, tak semua power bank memiliki kondisi prima dan layak dibeli. Mengutip Lifehacker, terdapat beberapa tips memilih power bank. Pertama, sebelum membeli power bank, perhatikan ukuran daya baterai ponsel. Jangan sampai, ukuran daya baterai ponsel lebih tinggi dibandingkan ukuran daya power bank yang hendak dibeli. Setidaknya, pastikan ukuran daya yang sama untuk baterai ponsel dan power bank.

Carilah power bank yang memiliki voltase sama atau lebih tinggi dari voltase ponsel yang dimiliki. Beberapa power bank yang ada di pasar memiliki fitur auto-cut. Fitur demikian dapat menghindari baterai ponsel menerima daya berlebih atau kecelakaan-kecelakaan lainnya. Power bank yang dibuat oleh produsen yang terpercaya bisa menjadi pilihan utama.

Infografik Power Bank

Tangan Cina di Power Bank


Dari semua merek power bank yang bermunculan, produk Cina mendominasi. Pengembang dan pembuat power bank dikuasai perusahaan Cina dan sebagian kecil perusahaan global lain. Sebuah paten dengan kode publikasi US 20150372521 A1 berjudul “Portable Power Bank” diciptakan oleh Ming-Chieh Lin, Chun-Liang Yang, Wen-Hsiang Chang, Jung Kuo, dan Meng-Kwei Hsu. Mereka mengembangkan power bank itu untuk sebuah perusahaan asal Cina bernama Lausdeo Corporation.

Baca juga: Cina Menguasai Dunia Lewat Ponsel Pintar

Selanjutnya, terdapat sebuah paten berjudul “Solar Energy Portable Power Bank” dengan kode publikasi EP 2512002 A2. Paten itu, didaftarkan atas nama Yung-Shen Lin. Lainnya, ada paten berkode publikasi US 9506446 B2 dengan judul “Mobile Power Bank.” Paten itu, dipegang seorang warga Cina bernama Liu Xinfang.

Selepasnya, ada pula paten dengan judul “Multifunctional Portable Power Bank.” Paten berkode publikasi US 8541985 B1 digenggam orang Cina lainnya bernama John Wong. Selanjutnya, ada paten tentang power bank lain berjudul “Fast Charge Power Bank.” Paten teknologi power bank dengan kode publikasi bernomor WO 2016206020 A1, dipegang oleh Zhong Wei. Juga ada paten berjudul “Power Bank with Replaceable Battery Core” dengan kode publikasi US 20100302743 A1. Paten teknologi power bank itu, digenggam oleh sang pencipta Shih-Hui Chen dan Chin-Tien Lin.

Selain itu, ada paten bernama “Smart Power Bank and Device for Efficient Energy Transfer.” Paten teknologi power bank terbaru berkode publikasi WO 2016172189 A1 tersebut diciptakan oleh Xunguang Xu, Jieli Li, dan Zifeng Shen. Yang menarik, paten itu disponsori dan dimiliki oleh Apple, raksasa teknologi asal Amerika Serikat.

Cina memang tak bisa dipungkiri sebagai pemain terbesar di bidang manufaktur power bank terutama di Asia Pasifik. Beberapa nama produsen power bank asal Cina antara lain Beijing Xiaomi Technology Co., Ltd, Lenovo Group Ltd. (China). Selebihnya ada merek global lain antara lain Microsoft Corp, Panasonic Corp, dan Sony Corp.

Para pengembang teknologi asal Cina sangat tertarik dengan dunia power bank. Dalam pencarian Google Patents Search, nama-nama asal Cina nampak mendominasi dibandingkan peneliti non-Cina. Tentu ini bukan sebuah keanehan, selain pasar dan bisnis power bank yang sangat besar, Cina sebagai produsen ponsel pintar mulai menjadi kekuatan di dunia teknologi masa kini.

Baca juga: Ponsel Cina Mulai Menggerogoti Samsung dan Apple

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra