Sejarah Pekan ASI Sedunia yang Diperingati Setiap 1-7 Agustus

Oleh: Rachma Dania, Iswara N Raditya - 1 Agustus 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah Pekan ASI Sedunia dicetuskan dalam World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) pada 1991 di Markas UNICEF, New York.
tirto.id - Pekan Air Susu Ibu (ASI) Internasional atau World Breastfeeding Week (WBW) diperingati setiap tanggal 1 hingga 7 Agustus. Sejarah Pekan ASI Sedunia bermula dari forum World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) yang digelar di markas United Nations Children's Fund atau UNICEF, di New York, Amerika Serikat, pada 1991.

Agenda ini diperingati secara serentak di berbagai belahan bumi. Misi peringatan Pekan ASI Sedunia adalah memperjuangkan pemenuhan hak anak atau bayi akan kebutuhan air susu ibu hingga berusia 24 bulan atau lebih. Tujuan globalnya, demi mengoptimalkan kesehatan gizi dan kesehatan ibu beserta anak.

World Health Organization (WHO) bersama dengan American Academy of Pediatrics (AAP) mengajurkan agar bayi diberikan ASI eksklusif sejak lahir sampai berusia 4 hingga 6 bulan. Artinya, selama periode tersebut, bayi yang hanya diberi air susu ibu tanpa makanan pendamping lain.

Setelah 6 bulan, bayi sebaiknya tetap disusui sambil menerima makanan pendamping yang sesuai dan memadai hingga usia 2 tahun atau lebih. Kebiasaan seperti ini diharapkan bisa dicapai dengan menciptakan lingkungan, kesadaran, dan dukungan yang tepat kepada para ibu menyusui di seluruh dunia.


Gagasan Pekan ASI Sedunia

Dikutip dari website UNICEF, dibutuhkan dukungan dari banyak negara untuk menguatkan budaya menyusui daripada menggunakan susu dalam botol. Upaya ini harus dilakukan demi meningkatkan kepercayaan diri wanita untuk menyusui.

Gagasan Pekan ASI Sedunia muncul dalam World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) pada 14 Februari 1991 seiring dicetuskannya Innocenti Declaration yang diinisiasi oleh WHO, UNICEF, pemerintah dari beberapa negara, serta sejumlah organisasi lainnya.

Innocenti Declaration bertujuan melindungi, mempromosikan, dan mendukung gerakan menyusui. Deklarasi ini selanjutnya diperingati dalam World Breastfeed Week (WBW) atau Pekan ASI Sedunia yang diperingati secara berkelanjutan sampai saat ini.

Pekan ASI Sedunia, sebut WABA dalam situsnya, merupakan gerakan menyusui secara global dan menyediakan dukungan untuk para ibu agar bisa menyusui di mana saja. Agenda ini dimulai secara aktif sejak 1992 dengan mengusung tema tahunan yang terus berganti.

Tema-tema yang diangkat dalam Pekan ASI Sedunia biasanya berhubungan dengan perawatan kesehatan, wanita dan pekerjaan, Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, dukungan masyarakat, ekologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, pendidikan, hak asasi manusia, dan hal-hal terkait lainnya.


Aksi Kesetaraan Menyusui

Sejak 2016, WBW bekerja sama dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Terciptalah gerakan kemitraan bertajuk WBW-SDGs Campaign, yang sekaligus menjadi tema Pekan ASI Sedunia 2016, yakni meningkatkan kesadaran akan hubungan antara menyusui dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

SDGs dibentuk setahun sebelumnya melalui Resolusi PBB tertanggal 21 Oktober 2015. Para pemimpin dunia merumuskan 17 tujuan dengan 169 capaian demi kemaslahatan umat manusia dan semesta, termasuk upaya mengentaskan kemiskinan, mencapai kesejahteraan, serta melindungi bumi.

Hingga saat ini, lebih dari 170 negara turut berpartisipasi menyukseskan program peringatan Pekan ASI Sedunia. Untuk tahun 2019, dilansir situs WHO, Pekan ASI Sedunia mengusung tema “Empower Parents, Enable Breastfeeding” atau “Memberdayakan Orangtua, Mengaktifkan Menyusui”.

Tujuan dari tema ini adalah demi menciptakan kesadaran bahwa menyusui bukan hanya tugas ibu, melainkan tugas kedua orangtua. Artinya, ayah juga wajib terlibat dalam membantu kenyamanan anak dan ibu menyusui.

Selain itu, kampanye ini juga menekankan pentingnya kebijakan ramah keluarga agar memungkinkan pemberian ASI, serta membantu orangtua dalam mengasuh dan menjalin ikatan dengan anak-anak sejak awal kehidupan.


Kebijakan ini termasuk memperjuangkan hak-hak ibu yang berstatus sebagai pekerja atau wanita karier. Selama cuti hamil dan melahirkan, perusahaan hendaknya tetap memberikan gaji untuk minimal 18 pekan. Ini untuk mendorong tanggung jawab bersama dalam merawat anak-anak atas dasar kesetaraan.

WHO juga menyuarakan kebutuhan tempat kerja ramah orangtua untuk melindungi dan mendukung ibu menyusui. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk melancarkan gerakan menyusui ini.

Baca juga artikel terkait ASI atau tulisan menarik lainnya Rachma Dania & Iswara N Raditya
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Rachma Dania
Penulis: Rachma Dania & Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz
DarkLight