Sejarah HUT DKI Jakarta & Tema Perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta

Kontributor: Yonada Nancy, tirto.id - 21 Jun 2022 16:25 WIB
Dibaca Normal 2 menit
HUT DKI Jakarta 2022 dan sejarah Hari ulang tahun Jakarta yang mulai ditetapkan oleh pemerintah pada 1953-1958.
tirto.id - Hari ulang tahun Kota Jakarta selalu diperingati setiap 22 Juni. Tahun ini, hari ulang tahun Jakarta akan jatuh pada hari Rabu (22/6/2022).

Salah satu cara untuk memperingati HUT DKI Jakarta 2022 adalah dengan menyambangi Jakarta Fair Kemayoran yang sempat hiatus selama dua tahun akibat pandemi. HUT DKI Jakarta ke-495 akan diperingati dengan meriah, seiring dengan sudah berkurangnya pandemi COVID-19 di Indonesia.

Tema HUT DKI Jakarta 2022


Tahun ini, Pemprov DKI Jakarta mengambil tema "Jakarta Hajatan" untuk HUT DKI Jakarta 2022. Slogan yang digunakan adalah "Celebrate Jakarta: Kolabotasi, Akselerasi, dan Elevasi".


Tema HUT DKI Jakarta 2022 terdiri atas 2 slogan bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang digunakan sesuai kebutuhan dan target audiens.

Ada enam ragam warna di logo "495". Ada enam warna menor yang terinspirasi dari karakter kotanya. Setiap warna mewakili makna atas pencapaian kota Jakarta.

Berikut ini acara HUT DKI Jakarta pekan ini:

20-25 Juni Pekan Gerakan Jakarta Sadar Sampah di seluruh RW di Jakarta.

22 Juni Upacara HUT ke-495 Kota Jakarta di Plaza Selatan Monasi, Malam Resepsi Jakarta Hajatan ke-495 di Balairung Balaikota Pemprov DKI Jakarta, Sidang Paripurna DPRD di Ruang Rapat Paripurna DPRD, Rapat Kerja Gubernur Jabodetabekjur di Balaikota DKI Jakarta.

23-25 Juni Puskesmas Expo Tahun 2022 di Hotel Bidakara Pancoran, Launching Aplikasi Mobile Learning secara daring.

25 Juni Malam Puncak Jakarta Hajatan ke-495 di Jakarta International Stadium (JIS), +Jakarta Award di JIS.

26 Juni Bazaar di CFD Sudirman-Thamrin.

Pemprov DKI Jakarta juga meluncurkan logo HUT DKI Jakarta 2022. Dalam logo HUT Jakarta, ada angka '495' sebagai representasi usia kota saat ini.


Kenapa HUT DKI Jakarta ditetapkan pada 22 Juni?


Peristiwa sejarah merupakan alasan dibalik penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta.

Lebih dari 400 tahun lalu, tepatnya pada 1527, pasukan Demak-Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Jakarta, yang saat itu masih bernama Sunda Kelapa. Pasca kemenangan pasukan Fatahillah, nama Sunda Kelapa kemudian diganti menjadi Jayakarta.

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, kata "Jayakarta" sendiri diilhami dari Surat Al Fath ayat 1, tentang yang berbunyi "Sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan padamu, kemenangan yang tegas."

Kalimat "kemenangan yang tegas" itu kemudian dialih bahasakan menjadi "Jayakarta." Sejak jatuh ke tangan Fatahillah, corak kehidupan masyarakat Jayakarta didominasi oleh kebudayaan Islam. Sayangnya, peperangan antar kubu Islam dan penganut Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal terus berlangsung kala itu.

Pendapat lainnya, yang dicetuskan oleh Ridwan Saidi, tokoh sekaligus budayawan Betawi menyebutkan bahwa kata "Jayakarta" bukan dicetuskan oleh Fatahillah.

"Nama Jayakarta sudah ada sejak lama. Ada desa di Karawang yang namanya Jayakerta yang merupakan wilayah budaya Betawi. Itu sudah ada sejak zaman Siliwangi," kata Ridwan dalam diskusi "Kontroversi HUT Jakarta" 2011 silam.

Pendapat yang sama turut tertuang dalam buku Profil Orang Betawi: Asal-Muasal, Kebudayaan, dan Adat-Istiadatnya yang meragukan klaim pencetusan nama Jayakarta untuk menggantikan Sunda Kelapa.

Menurut Ridwan, Jayakarta adalah tempat pengasingan salah satu istri Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja yang memimpin Kerajaan Sunda Galuh pada 1482-1521.

Di pengasingan itu, istri sang prabu kehilangan bayi laki-lakinya tak lama setelah dilahirkan. Sehingga, demi memperingati kematian sang bayi, istri Prabu Siliwangi menamakan wilayah tersebut sebagai Jayakerta yang artinya "kemenangan yang jaya."

Kemudian, di tahun 1619, pasukan kolonial masuk Jayakarta dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Dibawah kepemimpinan Belanda, pada 30 Mei 1619 nama Jayakarta dubah menjadi Batavia. Setelah kekuasaan Belanda berakhir dan berganti dengan penjajahan Jepang pada 1942, nama Batavia dihanguskan dan diubah kembali menjadi Jakarta.

Hari ulang tahun Jakarta sendiri mulai ditetapkan oleh pemerintah pada 1953-1958 di bawah kepemimpinan Wali Kota Jakarta, Sudiro. Penetapannya dipertimbangkan dari naskah yang berjudul "Dari Jayakarta ke Jakarta" oleh Mohammad Yamin, Dr. Sukanto, dan Sudarjo Tjokrosiswoyo.


Baca juga artikel terkait HUT JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
Penyelaras: Yulaika Ramadhani
DarkLight