Al-Ilmu Nuurun

Sejarah Dakwah K.H. Mas Mansoer & Kritiknya atas Kemunduran Islam

Oleh: Petrik Matanasi - 17 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bagi Mas Mansoer, kemunduran Islam terjadi karena umat terlalu memikirkan akhirat. Namanya cuma disebut sekilas dalam sejarah, meski perannya sangat penting.
tirto.id - Selepas belajar di Al-Azhar Mesir dan melanjutkan studi di Makkah selama setahun, Mas Mansoer pulang ke tanah air. Waktu itu umurnya hampir 20. Kembalilah dia ke Surabaya pada 1915. Dia kemudian aktif di Sarekat Islam dan sejak 1921 aktif juga di Muhammadiyah.

“Awalnya Mas Mansoer aktif dalam Taswirul Afkar,” tulis Husein Haikal dalam "Beberapa Percikan Pemikiran Mas Mansur (1918-1946)" yang dimuat dalam jurnal Islamiyyat (nomor 14, 1993: 66).

Di situ Mas Mansoer bersama tokoh Islam Jawa Timur seperti K.H. Abdul Wahab Hasbullah, yang belakangan dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Husein Haikal menyebut selama di Taswirul Afkar Mas Mansoer dan Wahab Hasbullah bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air).

Pemikiran Mas Mansoer, kata Haikal, terlihat dari ucapan dan tulisannya, baik mengenai ibadah maupun muamalah. Dan semuanya itu didasarkan pada dua sumber: Alquran dan hadis.


Guru yang Tak Takut Berdebat

Mas Mansoer adalah seorang bermental guru sejak belia. Jika di masa kecilnya dia hanya main sekolah-sekolahan, maka di masa dewasa dia adalah penceramah dan penulis yang mengajari banyak orang soal Islam. Menurut Darul Aqsha dalam Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran (2005), “karya tulis Mas Mansur singkat, padat dan mudah dipahami.” Tak jarang dia berdebat dengan orang terpelajar lainnya. Dan tidak segan menghampiri lawan debatnya bila ada kesalahpahaman.

Bahkan dengan ayahnya sendiri Mas Mansoer pernah berbeda pendapat. Husein Haikal menceritakan pada 1917 Mas Mansoer berdebat dengan ayahnya, Kiai Mas Marzuki, soal boleh atau tidaknya jenazah orang Islam dibawa ke kubur dengan kereta yang ditarik kuda (hlm. 69). Di masa itu banyak ulama tidak memperbolehkan jenazah dibawa kereta yang ditarik kuda. Mas Mansoer berbeda pendapat soal ini.

“Saya tidak dapat menemukan dalil yang melarangnya. Hanya saja wajib orang membawa jenazah ialah harus menghormatinya; tidak dibenarkan menyebabkan menjadi hina dan merusak,” kata Mas Mansoer seperti dicatat Soebagijo I.N. dalam K.H. Mas Mansur, Pembaharu Islam di Indonesia (1972: 23).

Ketika ditanya tentang apa yang paling penting dalam Islam, Mas Mansoer menjawab: salat. Baginya, salat adalah pertemuan (sekaligus komunikasi) yang membahagiakan antara hamba dengan Allah SWT sang penciptanya.

“Orang yang bersembahyang masuk di dalam garis orang yang beragama Islam. Akan tetapi kalau hanya mementingkan bentuk dan caranya saja, kemudian sudah merasa melunaskan kewajibannya, sudah tentu tidak akan berbuah di dalam budi dan batinnya,” kata Mas Mansoer seperti dikutip Husein Haikal (hlm. 69).

Salat yang khusyuk adalah bentuk komunikasi antara hamba dengan pencipta. Dalam kondisi ini hamba selalu memosisikan diri lebih rendah dari penciptanya. Menurut Mas Mansoer, tempat salat disebut masjid karena karena di situlah tempat orang bersujud.


“Sujud itu adalah suatu perbuatan merendahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan memakai perkataan Subhana Robbiyal A’la,” kata Mas Mansoer memahasucikan Allah yang Mahatinggi. "[...] pun ketika itulah datang ketenangan dalam jiwa kita.”

Selain dikenal sebagai ahli ibadah, Mas Mansoer—di mata kaum akademisi Muhammadiyah macam Husain Haikal dan Ahmad Syafii Maarif—adalah ahli filsafat juga. "Sebenarnya bila dilihat dari latar belakang pendidikan dan pengalaman, Mas Mansur punya kemampuan untuk menjelaskan posisi pemikirannya terhadap seluruh sistem Islam secara lebih formulatif,” tulis Amir Hamzah Wiryosukarto dalam K.H. Mas Mansyur, Pemikiran tentang Islam dan Muhammadiyah (1986: 5). Filsafat yang dikaji Mas Mansoer adalah filsafat ketuhanan.

Dr. Soetomo, yang juga tinggal lama di Surabaya, adalah salah satu kawan diskusi Mas Mansoer. Pentolan Boedi Oetomo ini adalah orang yang percaya Tuhan. Tapi tentu saja ada beda antara Mas Mansoer dengan kawannya itu.

Menurut Soetomo, seperti dikutip Husain Haikal, “kita manusia ini ialah penjelmaan Tuhan yang paling akhir, yang kemudian harus langsung kembali menjadi aslinya, menjadi zat Tuhan yang mula-mula” (hlm. 71).

Soetomo tidak mementingkan segala upacara ibadah, dia lebih suka bersemedi untuk mencari ketenangan.


Autokritik terhadap Umat Islam

Kepada umat Islam, Mas Mansoer punya kritiknya, terutama terkait dengan kemunduran Islam. Menurut Mas Mansoer, 80 persen isi Alquran adalah soal akhirat dan sisanya, 20 persen, adalah soal duniawi. Kebanyakan ulama pun menekankan sisi akhirat saja dan meremehkan sisi duniawi. “[...] apa yang dikandung oleh 20 persen ini telah kita tinggalkan. Kita telah memalingkan diri daripadanya,” kata Mas Mansoer seperti dikutip Husein Haikal (hlm. 72).

Menurut Haikal, Mas Mansoer menekankan bahwa kemunduran Islam bukan karena Alquran. Hingga Mas Mansoer pun mengajak umat untuk menyelidiki diri sendiri dan bukan menyelidiki Alquran. Demi menghadapi kemunduran Islam itu, menurut Mas Mansoer, pendidikan adalah kunci. Entah itu berupa sekolah, madrasah, maupun perguruan. Ini kadang bukan cuma untuk umat Islam, tapi juga penting bagi bangsa. Banyak ahli-ahli dihasilkan dunia pendidikan dan pendidikan juga akan membentuk masa depan.

Soal perkembangan dunia modern, tak segalanya bisa diterima. Salah satunya bunga bank. Ketika ditanya bagaimana kedudukan bank di dalam Islam, Mas Mansoer menyebut, “haram tapi diperkenankan, dimudahkan, dimaafkan selama keadaan memaksa.”


Infografik Al Ilmu Nuurun Mas Mansoer
Infografik Al-Ilmu Nuurun Mas Mansoer


Mas Mansoer adalah penolak sekularisme ala Barat. Agama dan politik dunia tidak bisa dipisahkan, ibarat gula dan semut. Seperti dikutip Soebagijo I.N. dan Husein Haikal, menurut Mas Mansoer pengkotak-kotakan politik dan agama dimulai sejak jatuhnya kekuasaan Islam di Andalusia.

Berpolitik boleh-boleh saja bagi orang Islam. Tak heran jika Mas Mansoer sendiri juga berpolitik. Sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, yang dipilih dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada Oktober 1937, Mas Mansoer tentu ada di barisan depan perpolitikan. Dia pun jadi orang yang punya posisi tawar tinggi di zaman Jepang, hingga dimasukkan sebagai Empat Serangkai Pimpinan Poesat Tenaga Rakjat (Poetera).

“Tidak mungkin Poetera sebagai organisasi non agama, akan berhasil memobilisasi rakyat, kalau tanpa adanya kesertaan ulama di dalamnya,” tulis Ahmad Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2 (2017: 42).


Ulama memang elemen penting di zaman pendudukan Jepang. Bagaimanapun pemerintah Jepang lebih percaya umat Islam ketimbang orang-orang Kristen yang berpendidikan Barat, karena dianggap lebih dekat kepada Belanda.


Barangkali tidak banyak orang Indonesia yang ingat Mas Mansoer, kecuali dalam buku pelajaran Sejarah yang mencatat dirinya sebagai Empat Serangkai dalam Poetera—bersama Sukarno, Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara. Kiprahnya sebagai ulama-intelektual tak banyak diketahui orang.

==========

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, kami menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan Muslim Indonesia di paruh pertama abad ke-20. Kami percaya bahwa pemikiran mereka telah berjasa membentuk gagasan tentang Indonesia dan berkontribusi penting bagi peradaban Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan