Sejarah AURI

Sebelum Bogem Mentah Kopral Kalebos Mampir di Bekas KSAU PDRI

Infografik Konflik Internal AU
Pameran Kedirgantaraan di Pangkalan Udara Maguwo. FOTO/tni-au.mil.id
Oleh: Petrik Matanasi - 27 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Konflik internal perwira tinggi di AURI kemudian jadi rusuh setelah prajurit bawahan terlibat di dalamnya. Seorang kopral kemudian menghajar seorang komodor.
tirto.id - Ketika menyerbu Yogyakarta pada 19 Desember 1948, tentara Belanda menawan pejabat seperti Presiden Sukarno dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Komodor Udara Soeriadi Soeriadarma juga ikut tertawan. Beruntung Republik Indonesia punya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr. Sjafrudin Prawiranegara.

PDRI juga beruntung karena memiliki AU yang kepala stafnya dijabat oleh Komodor Muda Udara Hubertus Soejono. Meski tak punya pesawat tempur, pesawat radio milik AU PDRI berjasa melancarkan komunikasi pemerintahan. Berkat PDRI beserta dan radio-radio AU, Republik Indonesia tak habis ditelan sejarah. Dalam buku Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan Jilid VI (1997, hlm. 162), Soejono mengatakan “mengamankan hubungan radio AURI (PHB) merupakan tugas dalam gerilya yang sangat penting.”


“Jasa besar Soejono (sebagai KSAU PDRI) ialah membangun jaringan sender radio (pengirim pesan) sebanyak enam buah di Sumatera sehingga PDRI bisa berkomunikasi ke Jawa dan luar negeri,” tulis Rosihan Anwar dalam In Memoriam (2004, hlm. 385).

Meski akhirnya jadi tawanan perang, Komodor Udara Soeriadi Soeriadarma tentu punya jasa membangun organisasi AU Republik dengan sumber daya yang serba terbatas.

Setelah 1949, Soeriadarma dan pejabat lainnya bebas. Soeriadarma, yang dipercaya Presiden Sukarno, jadi KSAU lagi. Pangkatnya masih Komodor Udara (setara kolonel), di bawah pangkat itu ada Komodor Muda Udara (setara Letnan Kolonel). Setelah 1950, AU memasuki masa baru yang diwarnai konflik antar perwira tinggi AU terkait kepemimpinan Soeriadarma. Era itu, seperti dicatat Sayidiman Suryohadiprojo dalam Kepemimpinan ABRI: Dalam Sejarah dan Perjuangannya (1996, hlm. 307), “tidak ada angkatan udara di dunia yang pimpinannya bukan penerbang”.

Waktu jadi letnan kelas satu di KNIL bagian penerbangan, Soeridarma bukanlah penerbang, tapi waarnemer (navigator udara). Sementara Hubertus Soejono yang jadi KSAU PDRI justru penerbang, meski kalah senior dari Soeriadarma di KNIL. Sayiman mencatat, ada dua alasan sebagian perwira AU berusaha mendongkel Soeriadarma sejak Januari 1953: Soeriadarma bukan pejuang (karena ditawan) dan Soeriadarma bukan penerbang militer di awal karirnya.

Pimpinan gerakan melawan Soeriadarma itu adalah Komodor Muda Udara Hubertus Soejono dan Komodor Muda Udara Wiweko Supeno. “Sejak 1952 AURI diliputi konflik internal antara kubu perwira di bawah pimpinan Suyono/Wiweko menghendaki "modernisasi AURI" versus kubu AURI Resmi yang dipimpin KSAU Soeriadarma,” aku Budiardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi (1996, hlm. 79).

Di belakang Soeriadi ada Komodor Muda Udara Noordraven—yang bekas pilot KNIL dan pimpinan Dinas Intel AU Komodor Muda Udara Siswadi. Di mata Supeno dan Soejono, Soeridarma dianggap tidak memiliki personeel beleids (kebijakan kepegawaian) yang jelas. Masalah pemasukan bekas Militaire Luchtvaart (ML) alias jawatan udara milik KNIL ke dalam TNI juga belum dianggap tuntas.

“Jumlah ML lebih besar ketimbang AURI,” aku Budiardjo. Menurut Budiardjo, kriteria jenjang pendidikan pun menentukan. Akibatnya para perwira AURI yang dulu membela revolusi mengalami penurunan pangkat, sedangkan bekas ML yang baru masuk pangkatnya naik sampai dua tingkat.



Soeriadarma, menurut Abdul Rauf Soehoed, dalam A.R. Soehoed Menyertai Setengah Abad Perjalanan Republik (2001, hlm. 129), dianggap bertanggungjawab atas terekrutnya orang muda yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi pilot sehingga terjadi kecelakaan pesawat udara. Rekrutan itu berasal dari daerah-daerah demi pemerataan. Soeriadarma, menurut Soehoed (2001, hlm. 130), rupanya menjalankan misi merakyat dengan "memberi kesempatan kepada daerah-daerah”. Hal ini tak disukai lawan politiknya di AU. Menurut mereka, AU harus memiliki personel yang profesional dan berkualitas.

Sebagai perwira yang berseberangan dengan kebijakan Soeriadarma, Soejono dan Soehoed lalu menyusun surat untuk dikirimkan kepada Soeriadarma. Sebelum dikirim, rupanya surat itu telah dibaca para perwira lain yang bersebrangan. Surat yang akhirnya dikirim Soejono itu berbuntut panjang. Pimpinan tertinggi AURI pun akhirnya mengambil tindakan untuk Soejono: mengirimnya ke luar negeri untuk disekolahkan. Tapi keputusan itu tak diterima Soejono. Menurut Sayidiman, Soejono menganggapnya sebagai hukuman.


Soejono dan kawan-kawan yang dianggap bersalah direhabilitasi ketika pergantian perdana menteri. Sepengakuan Soehoed (2001, hlm. 136-137), dalam upacara rehabilitasi yang sedianya akan dihadiri tamu-tamu asing di Pangkalan Halim Perdanakusumah, Soeridarma tidak hadir dan berada di pangkalan udara Manggala, Lampung. Dia menyatakan mundur sebagai kepala staf AU dan menyerahkan jabatanya ke Henk Soetojo. Soehoed—yang juga berseberangan dengan Soeriadarma. Selain itu, ia mendapat kabar dari bintara bawahan bahwa upacara rehabilitasi yang akan dilaksanakan pada 14 Desember 1955 akan diobrak-abrik. Soehoed, yang dapat informasi itu di Bandung, segera berangkat ke Jakarta dan meneruskan kabar tersebut ke Soejono, Wiweko, dan lainnya. Namun, kabar itu tak mereka percayai.

“Ya, sudah, you berempat saja yang ikut. Saya tidak mau dipukul,” kata Soehoed kepada Seojono, Wiweko, Roeslan dan Sutaryo Sigit, seperti diakuinya dalam autobiografinya (2001, hlm. 137-138). Wiweko yang merasa situasi akan baik-baik saja pun bilang, “Oh enggak. Enggak bakal. Mana berani mereka begitu di depan banyak tamu asing.”

Soehoed memilih pulang ke Bandung. Sementara kawan-kawannya berkeras menghadiri upacara. Benar saja. Seperti dicatat buku Sejarah TNI Angkatan Udara: 1950-1959 (2005, hlm. 263), ketika Menteri Pertahanan mengambil sumpah, sekitar 25 orang pasukan kehormatan bergerak maju dan berteriak.

“Tidak setuju… Tidak setuju…”, kata meraka sambil melangkah pergi dari lapangan upacara. Kemudian sekelompok prajurit AU bergerak menuju Soejono dan Wiweko.Kopral Udara Kalebos memimpin di depan dan menghajar Wiweko. Para perwira yang jadi sasaran diamankan. Upacara pun batal.

Dua hari setelah peristiwa memalukan itu, Soeriadarma kembali memimpin AURI. Setelah peristiwa itu, perwira-perwira yang jadi sasaran itu mengundurkan diri dari AURI. Sementara Kalebos tetap di Angkatan Udara, tanpa hukuman berarti. Pangkatnya naik dari kopral jadi Sersan Udara.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight