Menuju konten utama

Satu Orang Tertawa yang Lain Ikut Terbahak, Mengapa Bisa Begitu?

Tak jarang saat mendengar orang lain tertawa, kita juga ikut terbahak, mengapa demikian? Simak keterkaitan tawa dengan hubungan sosial.

Satu Orang Tertawa yang Lain Ikut Terbahak, Mengapa Bisa Begitu?
Ilustrasi mahasiswa gembira. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tertawa merupakan respons tubuh atas sesuatu yang lucu atau menghibur. Tak jarang, saat mendengar orang lain tertawa, kita juga ikut tertawa meski sebenarnya tidak terlalu paham dengan leluconnya.

Fenomena tertawa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami humor, tapi cara otak manusia merespons suara, ekspresi emosi, serta perilaku orang lain.

Namun demikian melepaskan tawa juga tetap membutuhkan pemahaman situasi dan kepekaan. Jangan sampai tawa yang kita lepaskan justru tidak pada tempatnya, lalu menimbulkan efek negatif.

Lantas mengapa tertawa bisa menyebar dari satu orang ke orang lain? Bagaimana cara kerja otak dalam menangkap dan menularkan tawa?

Mekanisme Otak Menangkap dan Menularkan Tawa

Manusia bisa tertawa tidak hanya karena lelucon. Tertawa, sebagaimana dijelaskan dalam artikel De Weck, dkk. (2022), merupakan stimulus yang berkaitan dengan pendengaran serta karakter vokal dalam tawa.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tawa memicu respons yang lebih menular daripada menguap, meski sebagian besar atau kerap kali hanya berupa senyum daripada tawa besar terbahak-bahak.

Dalam kehidupan sehari-hari, tawa berfungsi lebih dari sekadar ungkapan kegembiraan. Tawa menjadi sinyal sosial yang membantu manusia berkomunikasi, membangun suasana akrab, juga menunjukkan interaksi berlangsung nyaman.

Ketika mendengar seseorang tertawa, otak memproses berbagai karakteristik seperti suara, tinggi-rendah nada, ritme, intensitas, serta pola vokalnya.

Ilustrasi ekspresi tertawa

Ilustrasi ekspresi gender. FOTO/iStockphoto

Informasi tersebut membantu kita memastikan bahwa suara yang terdengar merupakan tawa, sekaligus memberi petunjuk mengenai suasana interaksi. Tawa lepas dapat ditangkap sebagai tanda kegembiraan atau keakraban, meski maknanya tetap bergantung dengan konteks.

Menurut tinjauan neurosains mengenai tawa dan penularan perilaku yang diterbitkan dalam Philosophical Transactions of the Royal Society pada 2022, tawa memiliki peran penting dalam hubungan sosial manusia.

Kemampuan merespons tawa orang lain memungkinkan seseorang menyesuaikan perilakunya dengan situasi sosial di sekitarnya.

Lalu, bagaimana suara tawa orang lain dapat membuat kita ikut tersenyum atau tertawa? Proses ini melibatkan sistem pendengaran dan jaringan otak yang berperan dalam memproses suara, serta menghasilkan respons vokal dan ekspresi wajah.

Ketika mendengar tawa, otak tidak hanya mengenali suara tersebut, tetapi juga dapat memicu kecenderungan untuk memberikan respons serupa.

Penelitian oleh psikolog Robert Provine diterbitkan pada 1992, menunjukkan bahwa suara tawa dapat menjadi stimulus untuk memunculkan senyum dan tawa para pendengarnya.

Respons tawa dapat berlangsung secara spontan, tanpa keputusan sadar meniru orang lain. Namun demikian, penularan tawa bukan refleks yang selalu terjadi. Kondisi emosional, hubungan dengan orang yang tertawa, lalu situasi sosial turut memengaruhi apakah seseorang bakal ikut tertawa atau justru tetap diam.

Tawa dapat dipahami sebagai respons biologis sekaligus perilaku sosial. Otak menangkap tawa sebagai sinyal dari lingkungan, lalu dalam kondisi tertentu mendorong memberikan respons serupa. Dari proses sederhana inilah tawa dapat menyebar dari satu orang ke orang lainnya.

Peran Emosi, Kedekatan Sosial, dan Lingkungan

Tawa tidak hanya dipengaruhi oleh sesuatu yang lucu, tetapi juga oleh siapa yang tertawa, siapa yang mendengarkan, dan bagaimana suasana saat itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin hanya tersenyum ketika mendengar lelucon dari orang asing, tetapi dapat tertawa terbahak-bahak saat mendengar lelucon dari teman dekat.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tawa merupakan perilaku sosial yang erat kaitannya dengan emosi dan hubungan antarmanusia.

Ketika orang berkumpul tawa dapat menyebar melalui interaksi yang berlangsung secara spontan. Suara tawa dari seseorang dapat menjadi rangsangan bagi orang lain untuk ikut tersenyum atau tertawa.

Respons tersebut dapat membentuk efek berantai. Satu orang tertawa, orang lain merespons, lalu tawa makin meluas. Kehadiran banyak orang juga menciptakan suasana yang mendukung ekspresi kegembiraan.

Ilustrasi ekspresi gender

Ilustrasi ekspresi gender. FOTO/iStockphoto

Penelitian Robert Provine menunjukkan bahwa tawa kerap muncul dalam konteks sosial, daripada ketika seseorang sendirian. Hal ini mengindikasikan bahwa tawa bukan sekadar reaksi terhadap humor, melainkan juga bagian cara manusia berinteraksi dan membangun komunikasi sosial.

Empati dan penularan emosi juga dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang ikut tertawa ketika orang lain tertawa. Manusia memiliki kecenderungan untuk merespons ekspresi emosional di sekitarnya. Ketika suasana hati sedang baik dan interaksi berlangsung santai, respons tersebut bisa muncul lebih mudah.

Selain itu, norma kelompok juga turut berperan. Dalam lingkungan yang penuh kekraban, tertawa bersama kerap menjadi cara untuk menunjukkan keterlibatan dan kebersamaan.

Akan tetapi seseorang tidak selalu ikut tertawa karena benar-benar merasa lucu, terkadang tawa juga menjadi respons sosial untuk menjaga kelancaran interaksi.

Dengan demikian, tawa sejatinya bukan hanya menyebarkan kegembiraan. Tetapi juga membantu manusia menyesuaikan diri serta terhubung dengan orang-orang di sekitarnya.

Kenapa Tertawa Bersama Membuat Ikatan Lebih Dekat?

Pernahkah merasa lebih akrab dengan seseorang setelah tertawa bersama, bahkan hanya karena dipicu hal sederhana? Tawa yang awalnya muncul dari satu orang dapat berkembang menjadi pengalaman bersama yang membuat suasana terasa lebih hangat.

Tertawa bukan sekadar respons terhadap sesuatu yang lucu, melainkan juga bagian dari cara manusia membangun dan memperkuat hubungan sosial.

Tertawa bersama dapat menciptakan perasaan kebersamaan, karena orang-orang seakan berbagi pengalaman emosional yang sama.

Saat dua orang atau lebih tertawa dalam suatu percakapan, interaksi tersebut dapat terasa lebih santai dan akrab. Pengalaman semacam ini membantu menciptakan kenangan bersama, yang kemudian dapat memperkuat hubungan antarindividu.

ilustrasi gembira

Ilustrasi mahasiswa gembira. FOTO/iStockphoto

Penelitian yang diterbitkan jurnal Plos One pada 2021 oleh Dunbar dan kolega, menunjukkan bahwa tertawa bersama berkaitan dengan meningkatnya perasaan ikatan sosial.

Namun demikian tawa tidak secara otomatis membuat semua hubungan menjadi lebih dekat. Pengaruhnya tetap bergantung kepada konteks dan kualitas interaksi antarindividu.

Salah satu penjelasan biologis mengenai manfaat tertawa bersama juga berkaitan dengan endorfin, yaitu zat kimia yang diproduksi tubuh dan berperan mengatur rasa sakit serta perasaan nyaman.

Mengacu studi Dunbar dan kolega, peneliti menemukan bahwa tertawa bersama dalam kelompok berkaitan dengan peningkatan ambang toleransi rasa sakit, yang digunakan sebagai indikator aktivitas sistem endorfin. Perubahan ini juga berkaitan dengan persepsi ikatan sosial.

Namun penting untuk dipahami bahwa tidak berarti setiap kali seseorang tertawa, kadar endorfin pasti meningkat dalam jumlah tertentu. Hubungan antara tawa, sistem biologis, dan kedekatan sosial perlu dipahami berdasarkan konteks.

Seseorang terkadang ikut tertawa meski tidak sepenuhnya memahami lelucon yang tegah dibicarakan. Ini dapat terjadi karena tawa berfungsi sebagai sinyal sosial untuk menunjukkan keterlibatan dalam percakapan, merespons kegembiraan orang lain, atau menjaga suasana tetap akrab.

Pada akhirnya, tawa merupakan perpaduan antara respons spontan, pengalaman emosional, dan perilaku sosial. Selain muncul karena humor, tawa membantu manusia menyampaikan emosi, menciptakan kebersamaan, dan mempererat hubungan.

Terkadang, yang membuat sebuah tawa bermakna bukanlah seberapa lucu leluconnya, melainkan siapa saja yang tertawa bersama kita.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama